Untukmu Agamamu, Untukku Takjilmu

Hasanuddin Jimly


PUCUKMERA.ID Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal di mata dunia sebagai bangsa yang heterogen. Keragaman adalah karunia otentik yang ada di bumi pertiwi. Tak terkecuali diantaranya adalah keragaman agama. Secara resmi, setidaknya ada 6 agama yang tercatat yakni Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu dengan Islam sebagai mayoritas.

Agama Islam sebagai penganut terbanyak tentu berpengaruh pada kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Nuansa islam begitu kental terasa. Terlebih pada momen bulan Ramadhan seperti sekarang ini yang menjadikan ibadah puasa semakin meriah tiap tahunnya. Kearifan lokal dengan nilai islam banyak ditemui saat ini seperti grebeg sahur, ngabuburit, dan yang tak boleh ketinggalan rutinitas menjelang berbuka puasa yakni berburu takjil.

Khususnya berburu takjil, kebiasaan ini seolah menjadi keharusan karena beraneka ragam kuliner dijual di pinggir jalan. Mulai gorengan, cemilan, hingga minuman es yang memang paling terasa nikmat dikonsumsi sebagai pemuas dahaga setelah seharian berpuasa. Kenikmatan inilah yang selalu membuat momen berburu takjil terasa menarik untuk dilakukan.

Namun belakangan ini sempat viral di jagat Instagram dan Tiktok tentang fenomena unik. Situasi diawali dengan keresahan beberapa pengguna akun yang resah sekaligus bertanya-tanya mengapa jajanan takjil begitu cepat habis sedangkan waktu adzan Maghrib masih relatif lama. Pun memang berdasarkan respon-respon yang muncul, keresahan tersebut banyak dirasakan oleh umat muslim di Indonesia.

Usut punya usut, dari beberapa tanggapan komentar, hal itu disebabkan karena sebenarnya tidak hanya umat muslim saja yang antusias berburu takjil. Melainkan juga saudara non-islam ternyata turut serta. Menilik beberapa akun yang berkomentar, mereka sangat menyukai dan menantikan momen menjelang berbuka puasa. Bahkan diantaranya ada yang terang-terangan mengaku ikut memborong takjil meskipun tidak ikut berpuasa. Alasan utamanya memang karena di saat-saat itu, banyak muncul pasar takjil yang menjual beraneka ragam kuliner yang nikmat dan murah.

Mengetahui fakta yang cukup “mengejutkan” tersebut, berbondong-bondong lah para netizen menanggapi hal tersebut. Interaksi antara pengguna sosmed yang muslim dan non muslim itu berlangsung cukup intens sehingga ramai diperbincangkan jagad dunia maya. Namun yang menarik adalah tidak ada sedikitpun sentimen kebencian yang terlibat. Justru para netizen, baik yang muslim maupun yang non muslim, menanggapi dengan jenaka.

Sebagian memaklumkan namun “memohon” agar tidak memborong dagangan dan bertindak lebih fair untuk tidak mencuri start berburu takjil terlebih dahulu. Sebagian yang lain menanggapi dengan bercerita pengalaman lucu saat kehabisan stok jualan takjil bahkan jauh sebelum adzan maghrib. Ada juga yang sekedar menanggapi dengan gelak tawa melihat keunikan yang terjadi. Begitu menyejukkan hati bagi yang membacanya apalagi celetukan netizen Indonesia yang selalu mengundang gelak tawa.

Fenomena ini memang terlalu unik untuk terjadi. Di tengah polarisasi golongan yang terjadi di penjuru dunia, termasuk di dalamnya polarisasi agama, di Indonesia justru masih ada momen kehangatan interaksi antar umat beragama. Apalagi melibatkan umat islam dan kristen yang acap kali dianggap memiliki perseteruan yang diakibatkan beberapa polemik di masa lalu.

Sebagai warga Indonesia yang hidup berdampingan dengan perbedaan sejak lahir, kita harus bersyukur masih ada ruang bagi kita untuk saling toleransi. Bahkan di ruang media sosial sekali pun yang notabene sangat sensitif terhadap isu polemik keagamaan. Interaksi ringan antar umat bisa menjadi sarana pemersatu perbedaan yang efektif justru melalui candaan. Tentu selama tidak mencederai nilai religiusitas masing-masing agama.

Tak salah ketika bulan Ramadhan disebut sebagai bulan yang penuh berkah. Karena barangkali bentuk keberkahan itu berupa karunia persaudaraan diantara keberagaman. Kita boleh berbeda dalam kepercayaan namun harus tetap berada pada satu kebenaran yakni persatuan dan kesatuan. Dengan menjunjung pola pikir seperti ini, sepertinya tidak akan ada lagi konflik horizontal dengan dalih perbedaan agama. Siapapun yang berusaha memecah belah dan bagaimanapun upaya adu domba itu harus kita hadapi bersama-sama sebagai manusia berakal yang membawa fitrah kebaikan sejak lahir.

Kalau memang ada alasan untuk saling membenci, maka akan ada jauh lebih banyak alasan untuk saling menghormati.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
4Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment