The Beauty of True Love with Halal Relationship

Putri Ambarwati 
Tenaga pengajar di Internasional Islamic Boarding School Ar-Rohmah Putri, Kampus 2, Malang


PUCUKMERA.ID – Banyak sebagian dari kita, terutama perempuan, salah dalam menaruh harap, menempatkan cinta yang pada dasarnya tulus dan suci kepada orang yang salah, dan mencintai seorang yang tepat dengan cara yang salah. Hakikatnya, cinta yang kita rasakan adalah suci karena rasa itu merupakan anugerah dari Yang Maha Pemilik Cinta. Lantas yang membuat rasa suci itu ternodai adalah bagaimana cara kita mengekspresikan rasa cinta itu dan bagaimana cara mengontrol perasaan kita sendiri.  Allah dan Rasulullah tidak pernah melarang kita jatuh cinta, namun Dia memberikan batas-batas dan aturan bagaimana cara mengekspresikan cinta itu dengan cara yang benar sehingga hal itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya (re: hewan).

Perempuan paling lemah saat mereka dihadapi dengan masalah perasaan, terutama dalam hal yang berbau rasa seperti VMJ (Virus Merah Jambu). Terkadang tembok atau prinsip yang berusaha kita bangun dengan susah payah seketika ambruk jika dikaitkan dengan masalah perasaan. Perempuan seketika menjadi buta untuk melihat hal-hal buruk. Cinta seakan-akan membuatnya terlihat baik karena setan selalu bermain dan senantiasa setia menghiasi hal buruk agar tampak baik di matanya. Hal ini bisa menimpa kita sebagai perempuan muslimah apabila tidak melibatkan Allah dalam setiap urusan, terutama dalam masalah perasaan.

Tidak bisa dimungkiri, sebagian besar perempuan seperti kita tentunya memimpikan kehadiran cinta sejatinya untuk menemani sepanjang akhir hayat. Akan tetapi, masih terlalu banyak kacamata dari kita yang memandang cinta sejati berdasarkan perspektif dunia dan jauh sekali dari cita-cita atau tujuan kapada akhirat. Telah menjadi pandangan umum di mata kita ketika teman, keluarga, atau seseorang di dekat kita yang memiliki impian tentang cinta berakhir bahagia, semisal yang dari awalnya berteman, kemudian pdkt, pacaran, lamaran, dan menikah. Bagi mereka, menikah adalah akhir puncak dari kebahagiaan, seakan-akan tak ada lagi kisah setelah itu karena merasa sudah berakhir happy ending.

Lantas apakah akan ada perbedaan keberkahan dari menjemput cinta menggunakan cara yang tidak Allah ridai dengan yang diridai Allah di dalamnya? Tentunya hal ini berbanding secara kontras antara yang tak baik dengan yang baik. Sama-sama memiliki akhir kisah bahagia namun rasa keberkahan di dalam mahligai rumah tangga tentunya akan terasa berbeda. Analoginya, sama halnya ketika kita menikah dengan restu orang tua dan tanpa restu orang tua. Lalu bagaimana dengan ada tidaknya restu atau rida Allah di dalamnya? Bagaimana mungkin kita mengharapkan hal yang baik namun dimulai dengan cara yang salah?

Sisterlillah, Islam sangat memuliakan kita sebagai seorang perempuan. Mengangkat derajat kita dengan berbagai aturan yang bukan berniat mengekang namun agar kita tetap terjaga. Banyak dosa yang kita tabung ketika menjemput cinta dengan cara yang salah. Banyak zina yang secara sadar atau tanpa sadar kita lakukan dalam setiap pertemuan dan percakapan (baik secara offline atau online melalui chat media sosial). Zina mata dengan melihat, zina telinga dengan mendengar, zina lisan dengan berkata (mendayu atau merayu), zina tangan dengan menyentuh, zina kaki dengan berjalan ke tempat-tempat yang tidak Allah sukai, zina hati dengan mengkhayalkan, dan kemudian kemaluan membenarkannya. Secara tanpa sadar ada tabungan dosa dalam setiap interaksi. Terkadang hal itu tidak kita sadari, namun juga telah kita sadari, tetapi kita tetap mengelak untuk keluar dari kubangan dosa tersebut dengan alasan terlanjur terjebak dalam rasa nyaman atau terlanjur cinta.

Dari berbagai interaksi atau sebuah hubungan yang telah jelas tak ada dalam islam, tentunya perempuanlah yang paling banyak dirugikan. Dari ketika mereka dipandang, disentuh, berpegangan tangan, berciuman, atau bahkan melampaui batas dari hal itu semua sehingga perempuanlah yang akhirnya menelan pil pahit dan menanggung aib atau malu. Tentunya hal tersebut berbuah dosa. Hal yang menyakitkan lagi adalah ketika perempuan harus menanggung beban dosa jariyah bahkan ketika nafas telah terhenti, namun tabungan dosa terus mengalir. Akan tetapi, lain halnya dengan mengekspresikan cinta dengan cara yang halal, cara yang Allah ridai, dijemput dengan cara yang baik, dan melalui proses yang baik hingga menuju gerbang yang namanya pernikahan.

Setiap niat dan tujuan yang baik serasa bernilai ibadah dalam setiap langkahnya apabila memang berniat karena Allah dan melibatkan Allah dalam setiap pilihan dan urusannya. Bertujuan tak hanya mengikat janji di dunia, namun hingga langkah kaki menuju surga bersama. Indahnya menjalin hubungan dengan cara yang halal dengan pasangan yang halal karena dalam setiap genggaman tangan di antara keduanya bernilai ibadah disebabkan bergugurannya dosa di antara jari jemari keduanya. Dalam setiap padangan mata yang menyejukkan adalah ibadah dan berbagai halnya dalam rumah tangga Allah dihitung sebagai pahala ibadah yang terus mengalir. Maka sisterlillah, sebagai seorang perempuan yang telah islam muliakan, marilah kita menjaga diri kita dengan baik. Diemput dengan cara yang baik, di waktu yang baik, dan dengan orang terbaik, menurut pilihanNya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment