Tentang Masa Depan Setelah Bergelar Sarjana

Refina Elfariana D. 


“Bagaimana, ya, aku setelah lulus kuliah?”

Pertanyaan di atas pasti pernah menghantui pikiran kita, bahkan ketika memejamkan mata, semua pikiran dan kekhawatiran itu berubah menjadi bentuk visual yang terus terbayang. Tentu hal ini sangat mengganggu, bukan?

Mungkinkah hal itu juga terjadi pada kalian? Apalagi bagi mahasiswa semester akhir seperti saya. Kekhawatiran itu akan semakin menjadi-jadi ketika diri sendiri belum menemukan skill atau kemampuan yang bisa dikembangkan.

Sarjana Saja Tidak Cukup

“Jadi sarjana saja tidak cukup, kalau kamu tidak memiliki kemampuan.” kalimat yang sudah tidak asing di kalangan mahasiswa ini sebenarnya hanya jadi slogan belaka ketika mereka tak acuh dan mengabaikannya, mereka justru memilih untuk bermalas-malasan. Padahal kalimat itu adalah motivasi agar para mahasiswa tidak semakin menyumbang angka pengangguran di negeri ini.

Kalimat tersebut menjadi tamparan paling keras bagi saya. Bagaimana tidak, diri saya saja masih kesulitan untuk menemukan keunggulan dalam diri. Lantas apa yang mau dipersiapkan untuk masa depan ketika menghadapi sengitnya persaingan di dunia pekerjaan?

Ekspetasi dari Orang Lain

Lingkungan yang tidak mendukung juga jadi beban tambahan. Hal yang semakin memberatkan pikiran adalah sebuah ekspektasi dari orang-orang yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Orang lain hanya bisa bilang, “Wah, setelah kuliah pasti bisa kerja enak dengan gaji banyak.”

Kalau bisa digambarkan, kepala ini seperti meluap-luap isinya dan ingin segera ditumpahkan dengan teriakan “Hei, tidak semudah itu! Memasak mie instan saja juga ada prosesnya.”

Tetapi kita harus tetap tanang. Seperti kata motivator, “Terkadang bersikap bodoh amat terhadap suatu hal itu menyehatkan.” Karena itulah, mari kita terapkan di sini, ketika omongan orang lain justru membuat kita terpuruk dan memberatkan pikiran.

Kita Punya Tuhan

Ketika semua tuntutan itu berhasil menyita hampir 80% pikiran, ternyata ada hal penting yang saya lupakan. Saya lupa bahwa saya ini makhluk Tuhan, bahkan dari sebelum saya ada di dalam kandungan, Tuhan sudah mencatat segala apa yang terjadi di hidup saya, tinggal bagaimana usaha saya untuk menjalaninya.

Dari sini saya semakin yakin dan percaya, setiap dari diri diciptakan berbeda, memiliki kekurangan dan kelebihan yang jadi ciri khasnya. Mungkin memang sekarang belum menemukan, tapi selama kita mau dan mampu berusaha melakukan yang terbaik, seiring berjalannya waktu kita akan menemukannya.

Kuliah Hanya Satu di Antara Ribuan Jalan

Perlu sama-sama kita tanamkan ya, sobat, yang membedakan kita dengan yang lainnya bukan karena kita nantinya tercetak menjadi seorang sarjana. Anggap saja nikmat kuliah yang hari ini kita dapatkan sebagai kewajiban yang memang harus kita tuntaskan, bukan jembatan privilese untuk menuju kesuksesan.

Kenapa demikian? Sukses memiliki banyak cabang jalan yang mengantarkan untuk sampai ke tujuan, dan gelar sarjana hanya satu di antara ribuan jalan itu. Bisa saja mereka yang bertekad kuat dan konsisten dalam bidangnya dapat sampai di garis finish.

Kalau saya ditanya, apakah saya menyesal memilih melanjutkan pendidikan dengan berkuliah, maka berapa kali pun pertanyaan itu ditanyakan, sampai hari ini jawaban saya masih sama. Saya tidak pernah menyesal, karena saya menganggap ini adalah kewajiban.

Terlepas dari apa pekerjaan yang nantinya saya geluti, entah sinkron dengan jurusan saya ataupun tidak, maka saya tetap tidak pernah menyesal telah memilih berkuliah.

Bagaimana dengan Masa Depan?

Sangat wajar ketika saya ataupun kalian mengkhawatirkan masa depan, tentang bagaimana kehidupan setelah melepas status mahasiswa dan berganti gelar menjadi sarjana. Khawatir memang wajar, tapi harus juga diiringi dengan usaha terbaik dan doa terkhusuk. Karena jika hanya berangan-angan, kita tidak akan bisa tumbuh dan berproses.

Mari mulai melangkah dan temukan jati diri, menyeleksi apa-apa yang perlu dikembangkan dan apa-apa yang perlu ditinggalkan. Percayalah, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Sebagai pengingat: gelar saja tidak cukup menyelamatkan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka3Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment