Taman Tebing Breksi: Potret Geowisata Bekas Tambang

Nindia Syamsi
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Mulanya, saya kira, saya sudah kehabisan destinasi wisata untuk saya kunjungi di Yogyakarta. Sampai akhirnya, saran seseorang untuk berkunjung ke salah satu tempat wisata di Kabupaten Sleman, membawa saya sampai di tebing cantik ini, Taman Tebing Breksi.

Saya mencoba untuk mencari tahu terlebih dahulu perihal pengalaman wisata seperti apa yang ditawarkan oleh pihak pengelola lewat beberapa artikel di internet.

Begitu sempurna menginjakkan kaki di sana, saya buru-buru meralat perkataan yang saya ucapkan sebelum pergi, “Ah, cuma gunung kapur biasa. Apa menariknya?”  

Mengulik sedikit sejarah Tebing Breksi di beberapa literatur, dahulu kawasan ini merupakan bekas penambangan batu alam sejak tahun 1980-an. Masyarakat Desa Sambirejo berprofesi sebagai penambang dan supir truk. Sampai akhirnya, aktivitas pertambangan harus dihentikan pada tahun 2013. Sebuah tim konservasi mempublikasikan penemuan yang menyatakan Tebing Breksi merupakan endapan abu vulkanik letusan Gunung Api Purba.

Dengan adanya penemuan tersebut, artinya, area Tebing Breksi merupakan situs warisan geologi yang memiliki nilai-nilai penting di bidang keilmuan, pendidikan, budaya, dan nilai estetika. Akhirnya, pada akhir bulan Mei 2015 Tebing Breksi diresmikan sebagai objek wisata oleh Sri Sultan Hamengkubowono X. Ke depan, diharapkan situs tersebut tetap bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar. Dari yang sebelumnya sebagai penambang batu, bisa menjadi pelaku wisata.

Taman Tebing Breksi berlokasi di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sepanjang perjalanan mulai dari Pertigaan Candi Ijo, kami dihadapkan dengan medan yang berkelok, menanjak, dan lebar jalan yang cukup sempit. Kami menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari pusat Kota Yogyakarta menggunakan kendaraan pribadi.

Tak perlu khawatir, Tebing Breksi juga bisa dijangkau dengan moda transportasi umum. Dari pusat Kota Yogyakarta, Anda bisa menggunakan bis Trans Jogja atau colt untuk sampai di pertigaan Candi Ijo. Kemudian, untuk rute selanjutnya, sudah tersedia ojek yang akan mengantarkan Anda untuk menaiki perbukitan Tebing Breksi.

Sesampainya di sana, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang. Layaknya fasilitas publik di masa pandemi, pihak Tebing Breksi juga beradaptasi melakukan kebiasaan baru saat menyambut wisatawannya.

Dilansir dari sejumlah pemberitaan, sejak ditutup pada Kamis (26/3/2020), Tebing Breksi mulai dibuka kembali pada Selasa (14/7/2020). Memberlakukan jam operasional mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB. Kemudian, setiap hari Senin, Tebing Breksi ditutup untuk kunjungan wisata. Nampaknya momen karantina yang ditetapkan oleh pemerintah dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola Tebing Breksi untuk melakukan penataan ruang.

Di pintu masuk, petugas melakukan pengecekan suhu tubuh kepada para pengunjung. Terlihat, beberapa wastafel yang baru selesai dibuat, tersebar di sudut-sudut taman wisata ini. Selain itu, ada pula deretan spanduk bertuliskan rangkaian SOP dan protokol kesehatan yang wajib dipenuhi oleh seluruh pengunjung.

Begitu memasuki kawasan wisata, kami segera disambut oleh kemegahan Tebing Breksi. Dinding tebing dihiasi pahatan-pahatan menawan hasil goresan para seniman lokal. Terlihat relief paling mencolok yakni ukiran berbentuk seekor naga raksasa. Tidak sembarangan, ukiran ini dibuat dengan filosofi agar menarik pengunjung.

Dikutip dari Instagram resminya, @tebingbreksi_official, naga memiliki arti sebagai sang penjaga dalam falsafah Jawa. Secara simbolis juga, Tebing Breksi berada di bawah kawasan Candi Ijo. Bagian candi utama memiliki Lingga Yoni (arca perempuan) berbentuk naga. Desain ukiran di tebing disesuaikan dengan Candi Ijo dengan memadukan antara ukiran naga Bali dan Jogja.

Selain ukiran naga raksasa, terdapat pula ukiran berbentuk wayang dan huruf bertuliskan “TEBING BREKSI”. Tidak hanya menawarkan kemegahan tebing, terdapat beberapa fasilitas wisata lain yang bisa kita nikmati di Tebing Breksi, yakni:

1. Spot-spot foto kekinian.

Spot-spot foto ini dibangun di atas tebing. Dengan latar belakang landskap hijau Kota Yogyakarta yang terbentang luas dan Gunung Merapi yang menjulang kokoh, pemandangan di atas tebing terlihat semakin mengagumkan.

Untuk setiap spot foto terdapat petugas yang akan membantu kita mengambil gambar dengan upah seikhlasnya. Menurut pemandu wisata, pengunjung yang naik ke tebing akan melonjak saat matahari terbit dan menjelang malam saat matahari hampir tenggelam.

2. Amphiteater atau Tlatar Seneng

Seiring perkembangan Tebing Breksi, berbagai kegiatan mulai diselenggarakan di sini. Mulai dari konser musik sampai festival seni. Di Tlatar Seneng-lah kegiatan-kegiatan tersebut biasa dilaksanakan. Sorot lampu panggung dengan latar belakang tebing akan membuat pertujukkan semakin menarik.

Tlatar Seneng terletak di kaki tebing dengan panggung berbentuk lingkaran. Panggung tersebut terbuat dari rerumputan kecil dan dilengkapi kursi penonton undakan berbentuk setengah lingkaran. Sayangnya, saat ini panggung tersebut hanya berfungsi sebagai spot foto. Pengelola Tebing Breksi harus membatalkan sejumlah acara besar tahunan karena pandemi.

3. Fasilitas penunjang untuk kegiatan komunitas dan pengunjung umum

Fasilitas penunjang di Tebing Breksi terus dikembangkan. Saat ini sudah tersedia area parkir yang memadai baik untuk kendaraan pribadi atau bis yang biasa mengangkut rombongan besar. Selain itu terdapat food court, mushola, dan beberapa toilet bersih.

Fasilitas penunjang lain disediakan bagi pengunjung dengan minat khusus. Tebing Breksi memiliki area untuk olahraga ekstrem panjat tebing dan sepeda gunung. Ada pula pengunjung atau komunitas fotografi yang sering kali menyewa beberapa sudut tebing untuk melakukan foto pre-wedding atau sekedar menyalurkan hobi memotret mereka.

4. Paket wisata Jeep Tebing Breksi

Saat mulai merasa jenuh dengan pemandangan Tebing Breksi, kami mencoba menyewa sebuah jeep untuk membawa kami mengeksplor kawasan Tebing Breksi lebih jauh. Paket sewa jeep wisata yang tersedia dibagi menjadi tiga trip. Mulai dari short trip package, medium trip package, dan long trip package. Kami memilih untuk mengambil short trip package dengan rute perjalanan Tebing Breksi – Candi Banyunibo – Tebing Banyunibo – Selo Langit / Watu Payung – Batu Papal – Candi Ijo – dan kembali ke Tebing Breksi.  

Menurut saya pribadi, keseruan pengalaman wisata kali ini bermula di sini. Jeep membawa kami melaju di jalanan dengan kelokan, naikan, dan turunan yang tajam. Tak jarang, jalan yang dilewati belum beraspal dan penuh bebatuan. Off road kecil-kecilan yang menyenangkan! Keseruan lainnya adalah selain pengemudi handal,  pemandu jeep kami seorang pencerita ulung. Dari awal sampai akhir perjalanan kami disuguhi kisah-kisah menarik tentang sejarah tempat-tempat yang kami kunjungi.

Bagi saya, orientasi sebuah perjalanan yang ideal tidak melulu perihal tempat yang elok. Bertemu orang lokal, bersentuhan dengan kehidupan sekitar, dan menangkap banyak cerita selama perjalanan juga tak kalah berharga untuk dikenang.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment