Tak Semua Hal Perlu Kita Tahu, Tapi Sekali-kali Tak Ada Salahnya Dicoba

Farhan Aji Dharma
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Banyak hal dalam hidup yang sudah saya putuskan untuk mengambil jarak dengannya. Terutama hal-hal yang bersangkutan dengan kemampuan basis, yang dulu, sebelum menginjak usia seperempat abad mestinya dapat dengan tekun saya latih. Misalnya, saya tak lagi berharap mahir bermain gitar, atau berharap saya kelak pintar menggambar.

Untuk bermain gitar dan menggambar, saya telah cukup lama mempelajari keduanya. Tapi apa boleh dikata, saya memang dititahkan untuk menikmati musik dan mengagumi karya rupa saja, alih-alih mahir melakukannya. Biarlah tak bisa bermain gitar asal mampu menikmati irama hidup. Elok betul kiranya pembenaran saya.

Memang betul, bahwa tiada batas waktu bagi manusia untuk belajar. Idiom ini pasti tertanam dalam di ingatan kita: tuntutlah ilmu dari buaian hingga berkalang tanah. Tapi saya juga percaya, tidak semua hal perlu kita ketahui. Atau bahkan sangat baik bila kita tak tahu. Barangkali pengetahuan atau keterampilan itu akan membuat kita payah di kemudian waktu. Lantas menomorduakan kemampuan-kemampuan lain, yang barangkali telah kita kuasai dengan matang. Atau setidaknya, bila kemampuan itu belum cukup kita kuasai, sekurangnya cukup masuk akal dan pantas untuk dengan tekun kita pelajari.

Namun beberapa waktu terakhir, tepatnya sebulan yang lalu, saya dibikin dilema dengan prinsip saya di atas. Kerabat baik saya menawarkan sebuah pekerjaan. Pekerjaan ini membutuhkan keterampilan yang matang. Tak boleh main-main.

Tapi masalahnya, saya harus menarik jarak dengan sebuah kemahiran yang jauh-jauh hari telah saya ikhlaskan untuk berjarak dengannya. Pekerjaan itu ialah pengisi suara. Atau lebih dikenal voice over atau dubber.

Memang, saya hampir tak pernah merasa gugup bila diminta berbicara di hadapan banyak orang. Sejak kecil, baik di rumah atau di sekolah, saya sudah dilatih untuk berani tampil di panggung. Tapi mengisi suara, buat saya tidak “semudah” itu. Saya harus berbicara sesuai teks, kecil peluang untuk berimprovisasi. Alih-alih berbicara dengan orang banyak, bahkan saya tak tahu dengan siapa saya bertutur.

Saya juga harus menyesuaikan irama bicara, intonasi, berat suara, dan yang paling sulit bagi saya adalah, saya harus sangat baik dalam menata artikulasi.

Artikulasi. Saya cukup bermasalah dengan makhluk satu ini.  Dalam banyak kesempatan bicara, saya terpaksa harus mengulangi beberapa kalimat yang sudah saya sampaikan. Terutama saat berbincang santai dengan kerabat, bahkan dengan istri saya.

Apalagi akhir-akhir ini saya cukup sering mengikuti forum-forum daring. Alamak. Saya sudah ndakik-ndakik bicara soal ini dan itu, tapi ternyata apa yang saya katakan tak dimengerti sepenuhnya oleh pendengar. Belum lagi pengaruh sinyal buruk. Sungguh kiamat kecil.

Kawan baik yang memberi saya tawaran tadi, sejujurnya telah lama saya idolakan sebab kemampuan bertuturnya yang sangat mumpuni. Dia berpengalaman duduk di bangku-bangku bilik radio kenamaan di Yogya sebagai penyiar.

Anda pernah membayangkan, seseorang yang Anda idolakan, tiba-tiba meminta Anda melakukan sesuatu yang idola Anda sangat pakar di bidangnya. Katakanlah, Anda pengagum seorang penari kenamaan: Didik Nini Thowok. Lalu beliau meminta Anda menggantikannya tampil menari di sebuah helatan, meski hanya panggung 17-an atau sekadar perayaan desa–yang notabene tak menuntut Anda tampil selayak Didik Nini Thowok. Ditambah, setelah waktu yang panjang, Anda berkesimpulan bahwa Anda bukanlah seorang penari yang mahir. Atau sama sekali tak pantas menari.

Maka seperti itulah perasaan saya menghadapi tawaran kawan saya itu. Saya tak mengada-ada. Memang begitulah adanya.

Kepada teman saya itu, saya telah ribuan kali (yang ini saya mengada-ada) mengeluhkan soal payahnya mulut saya dalam bertutur. Ya soal intonasi tadi. Apalagi, sekali lagi, pekerjaan pengisi suara sangat bergantung dengan satu makhluk itu.

Bahkan dia, teman saya itu, termasuk segolongan umat yang akan menyela kalimat saya saat saya tengah asyik ngobrol dengannya. Kata-kata itu (atau entah apa menyebutnya) di antaranya: Ha? Apa? (Biasanya sambil menyodorkan kuping atau mendekatkan badan.)

Atau yang paling payah. Contohnya jika saya berbicara panjang lebar dengan istri, dia seolah-olah menunjukkan gestur menyimak. Tapi saat tiba-tiba saya tanya, “Kamu dengar?” Dia dengan ringan menjawab, “Nggak, hehehe.” Semprul.

Terhadap reaksi demikian, sejujurnya saya sudah cukup bersahabat dan menganggapnya biasa. Bahkan terasa aneh jika saya tak mendapat reaksi demikian. Pembicaraan saya terasa hampa, kosong, gelap, tak berguna, tak bermanfaat, sampah, layak masuk daftar pembicaraan paling busuk dalam kurun peradaban manusia.

Tapi kawan saya tadi meyakinkan saya. Bahkan katanya, dia memberi saya kepercayaan, karena di mata dia, saya mampu melakukannya. Demi Didik Nini Thowok, saya tiba-tiba mengiyakan saja tawarannya.

Benar, ada satu kejadian yang membuat saya kesal. Tepatnya saya kesal dengan diri saya sendiri. Saat teman saya memeriksa hasil rekaman saya, banyak sekali kata yang tak terucap sempurna.

Bayangkan, saya bisa-bisanya menyebut “Islam” dengan “Isla”. Ke mana satu huruf terakhir itu? Di gigi mana dia bersembunyi? Apakah ada pengaruhnya dengan keimanan saya? Kenapa bisa saya menyebut agama saya secara tak utuh?

Saya tak habis pikir. Astaghfirullah.

Beruntungnya saya, teman saya itu sabar betul membimbing saya. Memang sebelum mantap memulai rekaman, saya memintanya untuk tak sungkan menegur atau bahkan mencerca saya bila saya melakukan kesalahan.

Dia melakukannya dengan baik. Sebaik dan selembut Eyang Didik Nini Thowok. (Ini Eyang kenapa dari tadi bertahan di kepala saya ya?)

Sampai sebulan ini, saya mendapat banyak sekali pelajaran (termasuk saya sadar bahwa keimanan saya masih rapuh.) Artikulasi saya beranjak baik, proses rekaman saya berjalan lumayan lancar, klien cukup puas.

Saya akhirnya mengoreksi prinsip saya. Bahwa memang  tak semua hal perlu kita ketahui atau lebih-lebih, kita kuasai. Tapi tak ada salahnya mencoba meski tertatih-tatih. Apalagi kalau bayarannya tinggi. Istri saya apalagi, dia jadi lebih fokus mendengarkan huruf demi huruf omongan saya. Apalagi waktu saya bilang, “Nduk, sudah ditransfer.”

“Yes!”

Owalah.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment