Syariat itu Bukan Sekadar Nama, Melainkan Tindakan

Afiqul Adib


PUCUKMERA.ID — Dalam perkembangan dunia yang serba sat-set wat-wet, informasi menjadi hal yang mudah diakses, serta berseliweran di mana-mana. Baik yang sifatnya memang informatif, maupun yang ngajak misuh.

Perdebatan pun sering terjadi di dunia maya dengan berbagai isu dan pembahasan yang ada, mulai dari politik, sosial, agama, sampai hal-hal receh seperti bubur itu harusnya diaduk atau tidak.

Salah satu perdebatan yang membuat saya muntah adalah seputar khilafah. Banyak tagar sejenis, misalnya #KamiRinduKhilafah, #NKRIBersyariat, atau yang lainnya. Pokoknya diksi syariah selalu bermunculan, beserta tweet yang bersifat provokatif tanpa argumen yang logis.

Saya agaknya mulai merasa aneh dengan kelakuan “mereka”. Sebenarnya apa, sih, yang mereka perjuangkan? Apakah Indonesia kurang syariah? Apakah Pancasila tidak mengandung syariah?

Dalam pengertian sederhana, syariah adalah jalan yang mengantarkan kepada kebaikan. Nah, bukankah semua peraturan di Indonesia bertujuan untuk kebaikan? Kita ambil contoh peraturan lalu lintas, di sana ada larangan untuk menerobos lampu lalu lintas jika warnanya merah, karena di seberang sana ada kendaraan yang sedang jalan. Hal ini untuk menghindari kecelakaan lalu llintas. Bukankah asas keamanan juga bagian dari syariah?


Hanya karena namanya tidak ada syariahnya, bukan berarti itu tidak syariah.

Islam diibaratkan seperti padi, bisa dibuat menjadi nasi, bisa juga menjadi bubur dan sebagainya. Tergantung kebutuhannya untuk apa dan siapa. Padi bisa diolah menjadi nasi, tanpa kehilangan kadar padinya.

Begitu juga dengan Pancasila, ia sudah diolah menjadi sebuah ideologi negara Indonesia tanpa meninggalkan asas keislaman itu sendiri. Jadi semestinya tidak perlu memperjuangkan NKRI bersyariah, karena negara ini sudah sangat syariah, wahai akhi dan ukhti!

Islam memang banyak disalahartikan, bahkan oleh pemeluknya sendiri. Banyak kaum Muslim yang hanya berfokus pada bungkusnya, tapi melupakan isi di dalam ajarannya. Banyak yang hanya fokus ibadah kepada Allah, tapi lupa menjalankan ibadah yang berhubungan dengan sesama.

 Dalam sebuah hadis dikatakan ciri-ciri orang munafik menurut Nabi Muhammad Saw. adalah “Jika berbicara ia dusta, jika berjanji tidak menepati, jika diberi amanat ia khianat. Meski ia puasa dan sholat, serta menyangka dirinya seorang muslim.” (HR. Muslim).

Lihatlah, bahkan ibadah (kepada Allah) saja tidak cukup untuk mendapat surga, kita juga memerlukan akhlak yang agung (kepada manusia). Tentunya kita pun sudah familier dengan cerita-cerita seperti pelacur masuk surga gara-gara memberi minum anjing, atau cerita tentang seorang imam besar yang masuk surga bukan karena amal atau karyanya, akan tetapi karena membiarkan lalat minum (dalam riwayat lain dikatakan nyamuk).

Banyak sekali cerita yang mengandung hikmah bahwa kita harusnya tidak hanya fokus dengan ibadah ritual saja. Akan tetapi kita juga harus memperhatikan ibadah kepada sesama makhluk-Nya.

Hal tersebut memberikan konsekuensi logis bahwa banyak orang yang mengaku Islam namun perbuatannya tidak Islami. Sehingga banyak media memberitakan wajah Islam adalah “Radikal”. Dari sana muncullah istilah Islam radikal.

Padahal Islam dan radikal adalah dua hal yang berbeda. Tidak ada istilahnya Islam radikal, yang ada adalah orang radikal yang kebetulan beragama Islam. Islam tidak pernah salah, yang bisa disalahkan adalah penganutnya yang tidak benar-benar mempelajari dan mengamalkan Islam secara kaffah.

Satu-dua orang tentunya tidak bisa merepresentasikan “wajah” Islam. Karena representasi Islam adalah kitab sucinya. Seharusnya jika ada orang yang beragama Islam, kemudian melakukan kejahatan, maka harusnya yang dianggap jahat adalah orangnya, bukan agamanya. Sebagaimana kalau pisau digunakan untuk membunuh orang, maka yang dipenjara adalah orangnya, bukan pisaunya.


Jika menjalankan perintah dari agama yang kamu pelajari membuatmu menghina dan merendahkan orang lain, yang kamu muliakan itu agamamu atau egomu?

Wajah Islam Islam yang rohmatan lil alamin menjadi “kabur” di mata masyarakat non-Muslim. Seyogianya orang-orang yang lebih paham tentang Islam, mulai menyuarakan dan memberikan tauladan yang baik.

Tentu saja dengan cara-cara dan tindakan yang baik pula. Karena kebaikan juga harus disampaikan secara baik. Mengutip salah satu bait dalam puisi Gus Mus:

Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.

Dakwah itu merangkul, bukan memukul.

Dakwah itu membahagiakan, bukan membahayakan.

Dakwah itu menyenangkan, bukan menyeramkan.

Karena Bagaimana mungkin kita mengajak pada kebaikan sedang cara kita tidak baik?


*diolah dari ceramah Gus Mus, KH. Marsudi Syuhud, dan Habib Husein Ja’far Al Hadar.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment