Sungai Subayang dan Bukit Rimbang Baling

Dian Kurniasih


Nasib penduduk dunia bergantung pada tugas besar masyarakat desa penyangga. Sedikit saja masyarakat dibuat kecewa, habis sudah harapan kita. Kiranya kalimat itu benar menurut keyakinan saya setelah menjalani kegiatan magang di World Wide Fund (WWF-Indonesia) Program Sumatera Tengah, pertengahan tahun 2015 silam.

Tanggal 7-9 Agustus 2015 lalu, saya dan teman-teman komunitas naungan WWF-Indonesia mengadakan kegiatan sosial untuk memeringati Global Tiger Day di salah satu desa penyangga. Nama desa itu adalah Muara Bio. Global Tiger Day diperingati setiap tanggal 29 Juli, namun karena tanggal 27 Juli kantor baru mulai beroperasi setelah libur lebaran, maka kegiatan terpaksa diundur agar persiapan tetap matang sebelum eksekusi di lapangan.

Desa Muara Bio merupakan salah satu desa penyangga kelestarian kawasan Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang dan Bukit Baling. Masyarakat desa itu hidup bersinggungan langsung dengan habitat satwa beserta satwa liar yang dilindungi karena populasinya mulai terancam punah. Satu di antara satwa yang dilindungi adalah Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae).

Piau atau robbin, sejenis kapal kecil yang panjang dengan kapasitas maksimal 15 penumpang adalah alat transportasi yang biasa digunakan untuk dapat mengakses Desa Muara Bio.

Pada hari Selasa, 7 Juli 2015, sekitar pukul 13.00 WIB, Dian, Dina, dan Sarah; kami tiga anak magang dari Universitas Brawijaya dan Universitas Dipenogoro, sudah siap berangkat ke Desa Muara Bio bersama dengan teman-teman lainnya.

Desa itu berada di Kabupaten Kampar Kiri Hulu, Riau. Jarak tempuh kurang lebih sejauh 90 KM ke arah selatan dari kota Pekanbaru kami tempuh menggunakan bus kota yang disewa panitia untuk menuju ke desa. Sebelum sampai di desa tujuan, sekitar pukul 18.00 WIB, kami tiba di Desa Tanjung Belit dan berganti menggunakan piau. Di Desa Tanjung Belit inilah petualangan seru dan menantang akan kami mulai.

Sore itu, piau telah menunggu kami di tepian Sungai Subayang. Meski langit berangsur gelap, namun perjalanan baru akan kami mulai dari Tanjung Belit menuju Muara Bio dengan estimasi waktu tempuh 1 jam perjalanan.

Kami menyusuri Sungai Subayang yang airnya sangat jernih bahkan kami dapat dengan bebas menyentuh air karena posisi duduk yang sangat dekat dengan air sungai. Pancaindra kami termanjakan oleh pemandangan hijau di sepanjang Bukit Rimbang Baling, udara segar, air jernih, dan sesekali suara satwa liar di dalam hutan yang saling bersahutan.

Tanpa ada penerangan sama sekali, tiga buah piau kami melaju pasti. Nahas, di tengah perjalanan, akibat keterbatasan pancaindra ternyata bagian depan piau yang kebetulan Saya naiki menabrak ranting pohon. Akibatnya piau terbalik dan barang bawaan kami sebagian hanyut terbawa arus. Beruntung, Pak Birin yang mengemudikan piau kami, cekatan dalam berenang untuk menyelamatkan barang-barang tersebut di sungai.

Sungai itu sangat berarti bagi masyarakat karena menjadi sumber kehidupan mereka. Segala aktivitas harian masyarakat tidak pernah bisa lepas dari sungai; mandi, mencuci pakaian, mencari ikan, bercengkerama bersama teman, bahkan hanya untuk melepas penat biasa mereka lakukan di sungai.

Selain menjadi sumber kehidupan, Sungai Subayang juga memiliki lubuk larangan. Di lubuk larangan ini berlaku hukum adat yang masih dipegang kuat hingga sekarang demi menjaga alam agar tetap lestari, yaitu memanen ikan di lubuk larangan saat air surut. Biasanya panen dilakukan dalam kurun waktu satu tahun sekali. Hasil tangkapan akan dilelang kepada masyarakat dan hasil lelang digunakan untuk kepentingan desa, seperti membeli diesel dan solar sebagai pembangkit listrik di desa maupun keperluan lainnya.

Kekayaan ekosistem alam lain yang sangat penting bagi kehidupan juga tersimpan di sekitar kawasan Bukit Rimbang dan Bukit Baling. Oleh karena itu, peran besar masyarakat desa penyangga sangat berarti bagi kelangsungan banyak makhluk hidup di tempat lain.

Gambaran sederhana saya begini; misalnya hukum adat sudah tidak dipegang kuat oleh masyarakat desa penyangga, tentu masyarakat bebas untuk menikmati kekayaan alam tanpa perhitungan yang dapat mengakibatkan habitat satwa rusak dan satwa merasa terancam sehingga memicu konflik antara satwa dan manusia. Siapa yang rugi? Kita semua.

Keindahan bentang alam Rimbang Baling serta Sungai Subayang memang membuat siapa saja ingin kembali ke sana. Walau
Saya tidak pernah sungguh-sungguh berjanji untuk kembali lagi ke sana, namun jika memang diberi kesempatan untuk kembali, bisa jadi saya akan mengambil kesempatan itu.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment