Suatu Ketika di Peperangan yang Sunyi

Amilia Buana Dewi


Hari Kesekian di Medan Perang

Aku telah siap dengan busur dan panahku.
Sesuatu yang ku lawan adalah ketakutan.
Dan aku adalah kesatrianya.
Panglima perang tertinggi telah menugaskanku.
Aku akan pergi ke garis paling depan.
Menuju medan yang antah berantah.

Aku adalah kesatrianya.
Jika ada orang lain di medan perang ini mengaku berada di pihakku,
Mereka hanya akan menunggu bosan.
Ketakutan itu hanya akan menyerangku.
Menantangku.
Dan memintaku menghadapinya sendiri.

Pada hari kesekian.
Aku memang tersudut.
Mengumpat pada strategi yang gagal.
Hanya saja belum habis darahku.
Kubilang padamu, kali ini aku adalah kesatrianya.
Biarkan aku menang, atau kalah.

Tanpa Sangkar

Bekas prajurit itu telah menemukan hidupnya, Sayang.
Maaf jika ia pada akhirnya masih mencintai dirinya sendiri.
Kaki-kakinya sudah kuat berdiri lagi.
Terima kasih atas penawaran.
Berupa genggaman bertujuan baik lagi menyenangkan.

Tapi bagaimana dia bisa digenggam?
Ia masih belum paham betul, Sayang.
Yang kini tampak adalah binar matanya yang sempat hilang.
Dia kembali merasakan.
Belantara, cakrawala, dan hidup.

Ia lantas mencari kemanusiaan.
Memarahi ketidakadilan milik anak-anak kolong.
Membangun rumah yang dipaksa rubuh.
Membagi beras untuk dapur yang sekarat.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment