Sakit Perut

Milada RA


PUCUKMERA.ID – Nasihat ini diberikan oleh seorang bapak kepada anaknya, bukan gara-gara si anak telah memakan sambal terlalu banyak dan akhirnya merepotkan kedua orang tua. “Sakit perut”, adalah makna yang disematkan pada pembacaan pola hidup masyarakat yang terpaksa harus bersifat kemaruk atau rakus.

Dimulailah cerita ini. “Dahulu saat hendak makan,” cerita bapak padaku, “Kakekmu tiba-tiba berpesan: kalau ambil makanan jangan banyak-banyak, lebih baik nanti kalau kurang ambil lagi.” lanjutnya dengan bahasa yang aku susun sendiri untuk memperjelas.

Sebagai pemuda, saat itu bapak tidak paham petuah apa yang dimaksud oleh kakek, selain hanya sebatas larangan semata. Tetapi setelah selesai makan, hal itu dijelaskan pelan-pelan.

“Kenapa tidak boleh mengambil makanan banyak-banyak? Padahal ada makanannya?” tanya kakek kepada bapak.

Tidak tebersit jawaban dari bapak, selain hanya sebatas mangkel (kesal). Namun, di situlah cara kakek memberi pelajaran hidup. Kemudian, dilanjutkanlah ceritanya.

“Kakekmu bilang, dari cara makan inilah nanti bisa dilihat pola kehidupan masyarakat modern. Ibarat orang makan yang terlalu mbesoso dan kemaruk (rakus). Nafsunya ingin mengambil banyak makanan, tetapi perutnya tidak mampu menampung,” ceritanya kepadaku.

“Jika makanan yang banyak itu dihabiskan, tentu akan sakit perut. Namun jika tidak dihabiskan akan menanggung malu dengan sekitar.” kata bapak. “Bagaimana artinya?” tanya bapak kepadaku. Namun aku hanya diam untuk mendengar kelanjutan ceritanya.

“Lihat, sekarang apa yang tidak bisa dipunyai? Bahkan kelas petani sekalipun, punya sepeda motor bagus, mobil bagus, perabotan dan perkakas mewah lainnya. Dengan adanya sistem kredit, semua bisa digayuh-gayuhkan, dimiliki tanpa melihat kemampuan dirinya. Hanya sebatas keburu nafsu, kemaruk dan mbesoso.” terang bapak kepadaku agar memahami.

“Jika barang-barang kredit sudah didapat, untuk melunasi cicilan saja kita bisa njungkel-njungkel (jatuh bangun). Kehidupan menjadi beban, kesehatan terganggu, rawan stres,” jelasnya yang semakin gamblang dengan kondisi masyarakat saat ini.

“Namun jika tidak dilunasi kreditan itu, kita malu sama tetangga, malu sama teman, malu sama sekitar, karena aset akan hilang. Ibarat makanan yang sudah kita ambil namun tidak kita habiskan, kita paksakan perut kita untuk menghabiskan. Alhasil perut kita sakit, sakit perut.” pungkas bapak bercerita kepadaku.

Artinya, ‘wabah sakit perut’ sebenarnya jauh sudah menyerang masyarakat. Ia menjadi penyakit sosial. Sebagai pandemi yang juga seruis mengancam kehidupan, melahirkan masyarakat yang banyak terlilit hutang, terjepit keadaan, tidak sehat, dibuat was-was hidupnya, sempit hatinya, mudah putus asa, mudah marah, menghalalkan segala cara, mega korupsi, berwatak serigala bagi sesama, bernapas pendek dan menuju kepunahan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
6Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment