Ritual Tiwah: Kearifan Lokal Suku Dayak Kalimantan Tengah

Salsabilla Paddiya Rolujulisa
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang


PUCUKMERA.ID – Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana, sebenarnya apa sih kearifan lokal itu? Salah satu definisi kearifan lokal datang dari Robert Sibarani (2012), yaitu suatu bentuk pengetahuan asli dalam masyarakat yang berasal dari nilai luhur budaya masyarakat setempat untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat.

Kearifan lokal bangsa Indonesia sangatlah beragam. Hal ini, disebabkan karena Indonesia memiliki banyak suku dan juga bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Marauke. Merujuk pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa. Selain itu, Indonesia memiliki 34 provinsi, dan sebanyak 718 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi pertahun 2020 ini.

Suku yang berada di Indonesia antara lain suku Jawa (suku terbesar), suku Banjar, suku Asmat, suku Batak, suku Dayak, dan tentunya masih banyak lagi. Di sini saya akan membahas mengenai salah satu kearifan lokal suku yang ada di Indonesia, yaitu suku Dayak, Kalimantan Tengah. Kearifan lokal suku Dayak ini cukup beragam, seperti adat istiadat yang masih kental, agama masing-masing kelompok, serta rumah adat yang unik.

Suku Dayak sendiri terdiri atas Dayak Hulu dan Dayak Hilir. Contoh Dayak Hulu ini meliputi Dayak Ot Danum, Dayak Murung, Dayak Taboyan, Dayak Lawangan, Dayak Dusun, dan Dayak Maayan. Sedangkan Dayak Hilir (Rumpun Ngaju) meliputi Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, dan Dayak Sampit. Suku Dayak yang paling dominan adalah suku Dayak Ngaju.

Jika ditinjau dari asal-usul tempat tinggal, Coomas (1987) didukung oleh Inoue (1999) menyatakan, suku Dayak adalah keturunan dari Provinsi Yunnan di China Selatan tepatnya di Sungai Yatse Kiang, Sungai Mekhong, dan Sungai Menan. Nama Dayak sendiri diperoleh dari sebutan penjajah kepada para penghuni pedalaman pulau Borneo yang mendiami Pulau Kalimantan. Oleh karena itu, jika kita melihat seseorang yang berasal dari suku Dayak asli, mereka akan memiliki wajah seperti keturunan China dengan mata yang sedikit sipit.

Kearifan lokal suku dayak sangat menarik. Suku Dayak memiliki rumah adat yang diberi nama rumah Betang. Kemudian, dari sisi agama, dahulu sebagian besar masyarakat Dayak peluk adalah agama Kaharingan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang yang memilih agama Kristen. Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. Adapun untuk adat istiadatnya, cukup beragam. Di sini saya akan membahas salah satu adat istiadat yang ada di suku Dayak, yaitu ritual Tiwah.

Apa itu ritual Tiwah? Ritual Tiwah merupakan upacara sakral keagamaan Kaharingan untuk pengantaran tulang orang-orang yang sudah meninggal dunia ke Sandung. Sandung adalah tempat semacam rumah kecil yang memang dibuat  khusus untuk jenazah yang sudah meninggal dunia.

Upacara atau ritual Tiwah ini merupakan tahapan kedua dalam rangkaian upacara kematian bagi pemeluk Hindu Kaharingan. Upacara ini diadakan setelah upacara pemakaman selesai. Upacara Tiwah ini tidak langsung diselenggarakan setelah upacara kematian yang pertama, melainkan berselang waktu setahun atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Upacara ini merupakan upacara besar. Karena itu dibutuhkan biaya yang cukup banyak untuk melangsungkan tradisi. Tujuan upacara ini adalah untuk mengantarkan jiwa atau roh yang telah meninggal ke alam baka, yaitu ke negeri di langit ke-7 atau yang dinamakan “Lewu Tatau Habaras Bulau Habusung Intan Hakarangan Lamiang”.  Jiwa yang meninggal diantarkan oleh Rawing Tempun Telon.

Prosesi dalam upacara ini berlangsung selama 7 sampai 40 hari dengan memotong ayam, kerbau, sapi, dan babi. Bahkan di zaman dahulu kala juga disediakan “Kepala Manusia” salah satu pelengkapan “korban” dalam upacara Tiwahini. Hal ini didasari oleh kepercayaan Agama Kaharingan, bahwa semua yang ada di dunia ini akan dibawa ke alam baka.

Dalam ritual ini, suku Dayak menyiapkan ratusan ekor hewan sebagai pengantaran arwah orang-orang yang telah meninggal. Dalam istilah Dayak, hewan kurban disebut tabuh. Dari 34 kepala keluarga almarhum yang ikut terlibat dalam ritual ini, telah terkumpul 142 ekor hewan diantaranya 30 ekor sapi, 10 ekor kerbau, 5 ekor babi, serta kurang lebih 80 ekor ayam.

Semua hewan itu akan ditombak secara bertahap. Setelah ditombak, daging hewan akan dimasak untuk diberikan kepada tetangga dan tamu-tamu yang datang. Berbeda dengan hewan lainnya, ayam hanya disembelih, bukan ditombak.

Puncak upacara ini adalah memasukkan tulang-tulang yang digali dari kuburan dan sudah disucikan melalui ritual khusus. Kemudian tulang-tulang tersebut dimasukkan kedalam sebuah Saung yang disebut Sandung.

Sebenarnya upacara Tiwah ini juga dipercaya suku Dayak untuk melepaskan rutasatau kesialan bagi keluarga yang telah ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang akan menimpa mereka nantinya.

Dari upacara ini kita dapat mengambil hikmah seperti kerja sama antar warga dalam melaksanakan upacara. Upacara ini membuat satu sama lain saling mengenal lebih akrab karena kerja sama tersebut. Tidak mungkin satu kepala keluarga bisa melakukan seluruh rangkaian upacara sendirian. Tentu saja mereka akan merasa keberatan baik dari segi biaya yang harus dikeluarkan maupun dari segi tenaga yang membantu selama berlangsungnya prosesi upacara. Maka atas dasar itu, dikumpulkanlah para kepala keluarga untuk meringankan kesulitan-kesulitan yang ada.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment