Ponten Umum

Chusnus Tsuroyya
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Mengelilingi jalanan ketika mengunjungi sebuah kota menjadi tujuan utama para pendatang. Eh, tidak hanya pendatang sebenarnya, sebagian orang juga memiliki hobi mengelilingi jalanan, berkendara mengelilingi ruas-ruas kota, atau hanya sekadar cari angin dan cuci mata.

Tampak menyenangkan memang jika melihat orang-orang berjualan di pinggir jalan, melihat pak becak atau sopir taksi membaca koran di dalam kendaraan yang sedang menunggu penumpang, melihat para pekerja yang berjalan di trotoar, atau, sekadar melihat pohon dan bunga tumbuh subur di taman kota. Bukan begitu?

Jalanan seakan punya daya magisnya sendiri. Menyihir banyak orang untuk rela menghabiskan waktu meski harus berpanas-panasan. Dari jutaan orang, mungkin saya salah satunya. Saya memang akrab dengan jalanan. Entah berjalan menuju pasar atau mengendarai motor tanpa tujuan.

Aroma jalanan juga memiliki kekhasan. Coba cium baju Anda ketika sehabis keluar dari rumah, bau matahari dan bekas kepulan asap menjadi satu. Selain kedua bau itu, yang tak jarang ditemui adalah bau pesing di sudut-sudut kota. Iya, bau pesing akibat pengembara jalan yang kencing sembarangan.

Pernah suatu ketika, saya berjalan di trotoar Malioboro. Niat hati ingin mencari udara segar, justru di sepanjang jalan saya hanya mencium sayup pesing yang tertiup angin. Ketika melewati pojokan tembok, atau pohon besar sekalipun, saya melihat noda bermuncratan. Jangan ditanya apa noda itu, yang pasti, itu adalah asal muasal kandungan urea dan amonia yang berbau tajam bermuara. Hmm, memprihatinkan.

Bukan orang normal yang mewajarkan hal ini. Saya yakin betul, orang yang sengaja kencing di tempat terbuka pun enggan mencium bau kencingnya sendiri. Selain mengganggu indra penciuman, fenomena bau pesing dan orang kencing ini juga merusak pandangan.

Bulan lalu, ketika hendak menjelajahi kota Jakarta, dalam sehari saya bisa melihat enam sampai delapan orang yang menyirami pohon dengan kencingnya. Rata-rata, mereka adalah tukang ojek, sopir angkot, pedagang gerobak dorong, dan orang yang lekat sekali dengan jalanan. Saya tidak ingin semata-mata menyalahkan mereka, tapi juga tidak sedang membenarkan tindakan masif ini.

Katakanlah, hari-hari dan malam-malamnya telah mereka habiskan di jalan, menjemput penumpang atau mencari pelanggan. Lalu ketika mereka tak bisa menahan hajatnya, terjadilah hal demikian. Tapi, tidak habis pikir saja, padahal ada banyak tempat yang bisa ditumpangi untuk kencing.

Saya saja misalnya, selalu menyempatkan diri untuk melipir ke minimarket jika sudah waktunya kebelet. Coba saja, ketika ada minimarket di pinggir jalan, sampaikan kepada penjaga kasirnya, “Mas, Mbak, saya numpang ke toilet, ya.” Tidak perlu membayar, mereka akan dengan senang hati mempersilakan. Mereka juga pasti maklum bagaimana sulitnya menahan kehendak kencing.

Menumpang kencing di minimarket jauh lebih bermartabat ketimbang harus kencing di pinggir jalan. Setidaknya, itu menjadi hal paling dasar yang dapat membedakan manusia dengan kucing. Lagian, kencing di minimarket jauh lebih higienis. Kita masih bisa menggunakan air untuk membersihkan air kencing, dengan begitu bau pesing tidak akan bertebaran di mana-mana. Kita juga bisa menjaga pemandangan, agar tidak ada lagi potret senonoh pantat manusia di jalanan.

Fenomena ini harusnya juga menjadi perhatian bagi siapa saja, terlebih si empunya daerah. Tentu, siapa lagi jika bukan pemerintah. Perhatikan sekitar Anda, sangat jarang bukan fasilitas WC umum yang tersedia. Kalau ada pun, pasti kondisinya sudah tidak memadai. Pada akhirnya, seperti kata Seno Gumira Ajidarma, ini membuat air seni pengembara jalan menguap, dan membubung ke udara untuk jatuh lagi sebagai hujan di kepala kita.

Jika hal ini membudaya, jalanan kota tidak lagi menjadi tempat yang ramah bagi pejalan kaki, pengendara, pohon, dan taman yang rindang, kini ia sudah menjadi ponten untuk warga-warga yang kencing sembarangan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment