‘Poisoned: The Dirty Truth About Your Food’: Kisah Krisis Keamanan Pangan

Nindia Syamsi

Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Deretan buah serta sayuran organik segar yang tersusun rapi di rak pendingin supermarket nampaknya tidak akan lagi terlihat sebagai bahan makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Termasuk sebungkus hamburger atau taco berisi potongan daging yang terlihat sangat lezat namun saya perlu berfikir dua kali sebelum benar-benar membeli dan memakannya. Film dokumenter terbaru dari Netflix bertajuk ‘Poisoned: The Dirty Truth About Your Food’ akan memberikanmu alasannya. Sebuah kebenaran yang tidak menyenangkan untuk didengar, tentang bahaya tersembunyi yang melekat pada apa yang kita makan.

Bill Marler, seorang pengacara keamanan pangan, membuka film ini dengan ungkapan bahwa konsumen selalu dianjurkan untuk makan makanan sehat dan berbelanja bahan makanan alami, tapi tanpa konsumen sadari, makanan sehat dan berbahan alami itu pula adalah makanan yang paling beresiko membahayakan kesehatan. Secara singkat, film dokumenter ini mengisahkan perihal menurunnya standar keamanan pangan di Amerika Serikat. Awal mula terciptanya wabah penyakit lantaran berbagai jenis bahan makanan yang terkontaminasi bakteri.

Layaknya film dokumenter pada umumnya, film berdurasi satu jam 15 menit ini menampilkan sudut pandang yang beragam. Mulai dari ilmuwan pangan, ahli hukum, dokter, keluarga korban wabah, hingga para eksekutif perusahaan makanan dan pejabat pemerintah yang berwenang dalam mengurus peraturan terkait keamanan pangan. Mereka menjawab pertanyaan dan bercerita dengan leluasa. Hasil wawancara dengan para informan tersebut sangat membantu memberikan gambaran tentang kondisi yang sedang terjadi.

Sang sutradara, Stephanie Soechtig, memilih wabah E.Coli pada tahun 1992 sebagai kisah pertama di film ini. Pada saat itu, bahan makanan yang mengandung E.Coli terdapat pada daging sapi. Masalah bermula dari sebuah restoran cepat saji ‘Jack In The Box’, yang menyajikan hamburger setengah matang. Banyak orang terkena dampaknya, termasuk putri mantan klien Bill Marler yang harus dirawat hingga empat bulan di rumah sakit hanya karena mengonsumsi hamburger. Dari hasil investigasi tumpukan dokumen perusahaan ‘Jack In The Box’, ditemukan fakta bahwa petinggi perusahaan telah mengabaikan peraturan pengolahan makanan yang menyatakan bahwa daging burger harus dimasak dengan suhu 155 derajat agar aman.

Setelah peristiwa hamburger ‘Jack In The Box’, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyatakan E.Coli sebagai bakteri kontaminan pada daging sapi untuk mencegah wabah terjadi lagi. Namun beberapa tahun berikutnya, masalah bukan lagi berasal dari daging sapi melainkan selada romania. Sayuran tersebut ditanam di dekat perternakan, sehingga air yang mengalir di perkebunan sayur telah terkontaminasi kotoran hewan.

Terdapat kisah yang melekat di kepala saya pada segmen wabah E.Coli di sayuran ini. Stephanie Inberg, seorang remaja berusia 17 tahun harus mengalami koma setelah keracunan salad yang terkontaminasi. Stephanie berhasil pulih namun keracunan yang ia alami sebelumnya membawa dampak panjang. Ia mungkin harus menjalani dialisis seumur hidup. Tidak pernah terlintas di pikirannya sedikit pun bahwa sepiring salad yang ia makan pada saat liburan musim panas bisa membuatnya mengalami penyakit menahun.

Beralih pada kisah kedua yaitu wabah Salmonella. Pada tahun 2009, ditemukan produk kacang tanah dari sebuah perusahaan yang terkontaminasi Salmonella. Sedangkan terdapat puluhan produk dari berbagai perusahaan yang menggunakan selai kacang dari perusahaan tersebut. Jika tidak segera ditindak, wabah penyakit akibat Salmonella bisa semakin meluas. Berdasarkan laporan dari seseorang yang disembunyikan identitasnya, diketahui bahwa perusahaan kacang tanah tersebut kurang memedulikan kondisi lingkungan pabrik mereka. Selain itu, perusahaan sudah mengetahui adanya risiko kontaminasi namun tetap memilih untuk menjual produknya.

Kisah lain datang dari bahan pangan yang juga berisiko terkontaminasi Salmonella, yaitu daging ayam. Hanya terdapat dua perusahaan besar di AS yang memasok telur ke banyak perusahaan daging ayam. Salah satu perusahaan bernama ‘Perdue’ memberi sang sutradara, Stephanie Soechtig, akses untuk melakukan observasi dan merekam kegiatan produksi mereka. Sekilas, semua proses terlihat berjalan dengan baik. Namun, setelah menguji 150 sampel ayam yang dibeli di toko kelontong, Stephanie menemukan 17% ayam tersebut mengandung Salmonella. Ini membuktikan bahwa kelalaian manusia sangat mungkin terjadi meskipun semua prosesnya terlihat berjalan sesuai prosedur.

Sepanjang film berlangsung hingga berakhir, perlahan kita bisa menyadari penyataan yang dilontarkan oleh banyak pihak dari industri pangan bahwa AS memiliki salah satu rantai pasokan makanan teraman di dunia, adalah tidak benar. Untuk mengendalikan kontaminasi pada bahan pangan yang diproduksi secara massal, dibutuhkan upaya yang serius dan ketat. Namun, kelalaian terjadi dimana-mana. Dari penegakan peraturan pemerintah yang kurang jelas hingga sistem perusahaan yang seringkali mengutamakan keuntungan dibandingkan kesehatan dan keselamatan konsumen. 

Film ini menyimpan wawasan yang luas untuk penontonnya. Meski pada mulanya akan ada perasaan khawatir berlebih terhadap apa yang kita makan, kesadaran penonton perihal keamanan pangan secara tidak langsung sudah meningkat. Penonton, baik dari kalangan konsumen, produsen, hingga pengolah makanan bisa bersikap waspada dengan lebih memperhatikan cara penangangan bahan makanan yang baik pasca dipanen. Sejatinya, dari proses penyimpangan, pengolahan, hingga penyajian, makanan memiliki potensi yang sama untuk terkontaminasi. Sebuah catatan tegas agar jangan sampai seporsi makanan mengantar tubuh kita dari meja makan ke rumah sakit.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka6Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment