Perihal Menulis: Esai yang Signifikan

Adi Fauzanto
Sekretaris Bidang RPK IMM Malang Raya


PUCUKMERA.ID – Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Perihal Menulis sebelumnya. Ini, merupakan catatan-catatan atas permintaan menjadi pemberi informasi sekaligus melatih dalam proses menulis. Akan tetapi, saya mencoba memberikan sedikit catatan pengantar. Tentu dengan sebuah tulisan, bukan dengan Powerpoint yang banyak mereduksi ilmu pengetahuan, atau setidaknya mengikuti pandangan ‘filosofi’ pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo atau di depan sebagai contoh.

Mula-mula saya ingin bertanya, pernahkah kita berpikir secara ‘gila’ tentang bagaimana manusia di dunia ini bergerak? Apa yang memengaruhi mereka? Jawaban sederhana dan sementara saya ialah keyakinan. Keyakinan lah yang membuat manusia-manusia bergerak. Lalu dari mana sumber keyakinan tersebut? Banyak, salah satu sumber terbesar ialah tulisan atau informasi yang disebarkan, berdasar kepada penulisan yang ditulis oleh seseorang melalui hasil pemikirannya.

Pernahkah kita berpikir, apa yang membuat seseorang berani meledakkan diri sendiri dengan bom? Lalu merasa dia yang paling benar? Sedangkan di satu sisi ada seseorang yang konsisten menjaga keamanan? Lalu merasa dirinya juga yang paling benar. Mengapa mereka berdua berbeda? Padahal mereka sama-sama bentuk wujud dari manusia sempurna.

Jawaban sederhana saya ialah keduanya sama, yaitu mereka yakin akan pemahaman dasarnya. Keyakinan tersebut muncul di dalam dirinya. Sumbernya berasal dari pemahaman dia atas suatu hal. Pemahaman tersebut disampaikan dengan berbagai media ‘secara konsisten’–secara berulang-ulang, baik berjangka pendek ataupun lama dan diisi dengan intensitas waktu yang padat.

Salah satu medianya ialah tulisan, bisa melalui pendidikan terstruktur atau autodidak. Lalu pertanyaan sederhana selanjutnya, mengapa sebuah tulisan yang hanya terdiri dari susunan huruf bisa begitu berdampak dan signifikan? Menurut saya, ada dua hal sederhana yang bisa menjawab itu.

Pertama, karena tulisan tersebut merasuk ke dalam jiwa, dengan begitu ia masuk  dan mendapatkan atensi individu serta memiliki kesamaan secara universal. Kedua, dengan begitu automatis menyetuh ke dalam kehidupan sehari-sehari dan secara bersamaan berdampak kepada kehidupan ‘bermasyarakat’ melalui apa yang ia dalami dan alami. Yang paling signifikan menurut saya, sebagai penulis, ialah membongkar kedua hal tersebut yang diyakini individu atau masyarakat.  

Mari kita bahas keduanya. Mula-mula saya ingin mendisrupsi pikiran kita semua dengan pertanyaan mendasar dan tidak perlu dijawab. Mengapa manusia rela bertumpah darah untuk melawan manusia lainnya? Misal perang saudara di antara yang berpaham komunisme dengan liberalisme sebagai lawanya.

Atau ditarik mundur lagi, mengapa manusia rela menumpahkan darahnya dengan membawa ‘jargon’ untuk membela negaranya untuk melawan manusia lain dengan membawa pemahaman yang sama?

Atau ditarik mundur lagi, mengapa ada manusia yang rela bertumpah darah demi membela keyakinannya atas Tuhannya, untuk melawan manusia lainnya dengan prinsip yang sama?

Atau ditarik mundur lagi, mengapa orang rela menumpahkan darahnya demi membela lingkup terkecil kehidupannya untuk berperang dengan melawan lingkup terkecil kehidupan lainnya?

Yang pasti, ke semua pertanyaan tersebut, ada kaitannya dengan informasi berisikan ajakan atau pengetahuan–beberapa melalui tulisan dan lisan. Informasi tersebut dipahami dan diyakini mulai dari individu dan masyarakat. Keyakinan tersebut lah yang menggerakkan ke semuanya.

 

Merasuk, Atensi, dan Keuniversalan

Mula-mula jika ditanya bagaimana sebuah informasi–pengetahuan atau ajakan–melalui media tulisan dapat berpengaruh? Sederhananya, karena ada informasi yang diterima. Informasi melalui tulisan tersebut merasuk ke dalam diri manusia, yang dalam hal ini jiwa. Artinya dia tidak dapat dilihat secara materi baik sadar ataupun tidak sadar.

Merasuk adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkannya. Informasi melalui tulisan yang merasuk tersebut, lalu mendapatkan atensi. Mendapatkan suatu perhatian oleh individu ataupun publik. Proses mendapatkan perhatian tersebut, menjadi pembeda di antara yang berdampak dan tidak. Beberapa memahami informasi dan merasuk, tetapi tidak mendapatkan perhatian, atensi, atau bahasa lainnya urgensi. “Mengapa ini penting bagi saya?” sekiranya sampai perkataan itu muncul ke dalam diri penerima informasi atau pembaca.

Setelah mendapatkan perhatian, tulisan juga harus mendapatkan atensi secara universal. Artinya, dari setiap individu pembaca tersebut –pembaca jamak–memiliki atensi yang sama. Kesamaan itulah yang dinamakan universal.

Misal, para penganut nasionalisme memiliki kesamaan atensi di antara pembaca–yang juga pengikutnya–tentang sebuah bangsa sebagai nasib atau takdir wilayah, bisa juga kesamaan rasa, kesamaan akan ketertindasannya atas kolonialisme, jika meminjam latar belakang kenapa terdapat negara Indonesia.

Dan masih banyak contoh dari setiap gagasan melalui tulisan, yang mendapatkan atensi yang sama atau keuniversalan, misal paham komunisme yang digagas salah satunya oleh Marx. Atau humanisme yang bahkan secara tidak langsung memiliki keuniversal sebelum kata human dikenal. Atau yang lebih mendalam mengulik tentang agama, yang banyak menimbulkan konflik secara keyakinan satu dengan yang lain hingga saat ini.  

Ketiga tahap itulah (merasuk, atensi universal) yang menjadi langkah awal sebuah tulisan menjadi signifikan. Memang, tahapan-tahapan tersebut sebenarnya abstrak–dalam artian tidak dapat distemisasi ke dalam tiga tahap. Akan tetapi, dari kacamata sejarah, setidaknya terdapat tiga tahap tersebut.

 

Kehidupan dan Masyarakat

Dari atensi kesamaan universal setiap penerima informasi atau pembacanya. Dari situlah ‘kehidupan’ –dalam arti kehidupan manusia dengan manusia atau dengan subjek lainnya– dimulai. Homo Socius ialah kata yang tepat untuk menggambarkannya, atau meminjam Aristoteles yaitu Zoon Politicon, manusia sebagai makhluk sosial dalam lingkup masyarakat. Mengapa saya juga yakin, subjek manusia tidak akan punah karena dia memiliki kesadaran untuk kehidupan sosial masyarakat yang berkembang–jika sekarang dengan penemuan teknologi misalnya. Berbeda dengan hewan atau mahluk biologi lainnya.

Dari situlah informasi gagasan memalui tulisan yang diterima individu, menjadi nilai lalu pedoman untuk kehidupan masyarakatnya yang mendapatkan atensi secara universal. Lalu diulang-diulang menjadi sebuah kebiasaan kehidupan sehari-hari dalam lingkup individu atau masyarakat.

Kebiasaan tersebut lah yang menjadi signifikan bagi individu dan masyarakat. Dalam ilmu hukum, kebiasaan ‘terkadang’ menjadi sebuah awal mula norma positif hukum dimulai. Pun dalam ilmu pengetahuan lainnya, ekonomi, psikologi, bahkan ilmu alam, tidak lupa juga ilmu-ilmu sosial karena bersentuhan dengan masyarakat.  

Dunia berubah dan bergerak kurang lebih seperti hal-hal di atas. Mula-mula memang dari sebuah pikiran lalu dituliskan. Melacak peradaban yang terlihat secara material melalui tulisan misalnya, pada peradaban maju Mesir Kuno. Atau secara ilmu biologi gen mutakhir, ditemukan awal mula kehidupan manusia di Afrika, sebut saja manusia goa, hidup melalui kode di antara sesamanya untuk berkomunikasi, melalui lukisan gambar di goa untuk menggambarkan situasi. Sangat dipastikan semua berkaitan dengan informasi yang signifikan, dan salah satu media informasinya ialah melalui tulisan.  

* Disampaikan Pada Pelatihan Penulisan IMM Cardiovascular


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment