Perihal Jogja, Anak Muda dan Persoalan Rumah

Alfina Rahmatia

Dosen Prodi Perbankan Syariah Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta


PUCUKMERA.IDSetiap kali saya berkendara mengelilingi kota Jogja, tidak hanya coffee shop saja yang menjamur, tapi juga promosi KPR rumah mulai dari baliho sampai brosur kecil yang ditempel di tiang-tiang listrik. Dengan promosi seperti itu, sangat jarang seseorang tidak tertarik, minimal bertanya dan mencari tahu informasinya lebih lanjut.

Jogja, sebagian besar dihuni oleh pendatang. Mulai dari pelajar, pekerja, ditambah mahasiswa yang belum lulus-lulus ataupun sudah lulus namun kembali datang bermukim karena terjebak rasa nyaman. Maka, tidak heran kalau pegiat bisnis properti menganggap ini sebagai lahan untuk mendulang pundi-pundi. Siapa sih yang enggan punya rumah sendiri?

Maraknya bisnis properti juga dibarengi dengan pembangunan mal dan hotel yang merajalela. Banyaknya aksi unjuk rasa untuk memberhentikan pembangunan hotel karena merugikan alam dan masyarakat, tampak tidak begitu digubris oleh pemangku kebijakan. Lantas dengan jelas kita dapat melihat ketimpangan yang begitu dahsyat terjadi. Permukiman kumuh di tengah hotel megah nan mewah di tengah kota Jogja.

Pembangunan yang menurut teori ekonomi berguna untuk mengurangi angka kemiskinan, dalam  realitasnya justru berbanding terbalik. Secara implisit, orang miskin seolah terus digiring untuk tetap menikmati hidup di emperan dan lingkungan kurang layak tinggal.

Harga KPR rumah rata-rata di Jogja berada pada kisaran Rp 300 juta hingga Rp 700 juta. Dengan harga seperti itu, kaum pekerja dengan gaji UMR Jogja sebesar Rp 1,3 juta hanya dapat mengambil KPR rumah seharga Rp 300 juta. Hal itupun berlaku jika seluruh gaji digunakan untuk membayar cicilan KPR. Sungguh tidak bisa dikategorikan sebagai pengelolaan keuangan yang sehat. Sebab, bagaimana dengan aspek lain seperti investasi dan dana darurat yang harus disiapkan jika semua pemasukan dipakai untuk menyicil KPR?

Menurut saya, harga KPR rumah di Jogja membuat kita, muda mudi usia menuju kepala tiga, merasa terpinggirkan karena harga yang tidak bersahabat. Lain hal dengan mereka dengan penghasilan bejibun, kaum kelas menengah ke atas. Tentu saja investasi properti adalah incarannya, terlebih bisnis ini menjanjikan sebab harga yang terus naik setiap tahunnya.

Tentu saya paham, meminta agar harga KPR rumah diturunkan kepada pebisnis properti bukanlah hal yang tepat. Toh bisnis tetap bisnis, prinsipnya adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Konsep ekonomi syariah bahwa jual beli harus berlandaskan akad, harus adil tanpa menzalimi salah satu belah pihak, nampaknya belum terealisasikan pada bisnis properti. Setidaknya bagi kita, yang cukup terbebani dengan cicilan harga selangit itu.

Alhasil, saya menemukan berbagai alasan untuk tidak mengambil KPR rumah. Pertama, kemungkinan untuk berpindah 5-10 tahun yang akan datang ke kampung halaman, entah karena diminta orang tua, faktor kerjaan, atau lainnya. Padahal, rumah cicilan itu harus tetap dilunasi dengan konsekuensi tambahan berupa biaya perawatan rumah yang tidak sedikit.

Selain itu, jika memilih rumah cicilan untuk dikontrakkan saja, setidaknya harus dipastikan siapa yang mengontrak. Kalau ternyata dijadikan wadah bandar narkoba bagaimana? Kita juga yang kena imbasnya. Intinya, tidak mungkin untuk bisa lepas tangan begitu aja.

Kedua, ketika mengambil KPR rumah dalam kondisi keuangan yang tidak stabil, maka bersiaplah menerima kemungkinan besar untuk terjerat hutang dalam waktu beberapa tahun ke depan. Akhirnya, rumah tidak dapat, tapi hutang melilit. Gali lobang tutup lobang sana sini. Dih, amit-amit.

Ketiga, gengsi sebagai anak yang sudah bekerja di mata keluarga, KPR rumah seakan solusi satu-satunya. Tapi tanpa perhitungan yang matang, datanglah penyesalan di belakang akibat terburu-buru dalam mengambil keputusan. Poin ketiga ini justru yang sering terjadi. Termakan gengsi duniawi, menyesal kemudian.

Oleh karena itu, berdasarkan apa yang saya amati dari berbagai artikel dan media sosial, saya punya beberapa saran yang juga didapat dari hasil obrolan bersama teman-teman perihal KPR rumah. Meredam gengsi adalah langkah pertama. Rumah memang kebutuhan primer, tapi mengontrak bukanlah aib. Santai saja, apalagi kalau sedang pada tahap belajar menerapkan perencanaan keuangan yang baik.

Selanjutnya, menabung atau investasi. Misalnya menabung emas rutin setiap bulan untuk membeli tanah, lalu sedikit demi sedikit membangun rumah impian. Perlahan tapi pasti. Trik ini cocok untuk kita yang berusaha menghindari bunga pada KPR rumah.

Nah, kalau memang tetap mau mengambil KPR rumah, maka pastikanlah sudah berada pada kondisi keuangan yang stabil dengan arus keluar masuk kas yang sehat. Sebab KPR rumah bukan dua atau tiga tahun, tapi sepuluh sampai dua puluh tahun bahkan lebih (tergantung besaran cicilan yang diambil). Apalagi kalau sudah memiliki anak, slot pengeluaran keuangan akan bertambah untuk pendidikan anak. Belum lagi ditambah biaya asuransi kesehatan dan pengeluaran sekunder lainnya.

Memang sih, mumpung masih muda harus dimulai dari sekarang. Tapi kaaan, semua butuh perencanaan yang matang. Lakukan riset dan mintalah nasehat dari orang-orang yang kita percaya di bidangnya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
7Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment