Pentingnya Literasi Digital pada Era Post-Truth

Irvan Ulvatur Rohman


PUCUKMERA.IDJaman edan, begitulah orang Jawa mengkonsepsikan masa saat ini. Masa yang kemudian lazim dikenal sebagai masa “digitalisasi”. Banyak orang berbondong-bondong untuk bertransformasi secara holistik dari tataran konservatif menuju modernisme. Dari kacamata realita hal ini tidak mengapa. Kalau boleh dibilang, malah justru menguntungkan. Namun perlu diingat pula, pergolakan dari satu masa ke masa yang lain tidak selalu melahirkan implikasi positif semata, pasti di dalamnya juga terdapat implikasi negatif.

Meminjam dari istilah yang disebut oleh Sukmana, digitalisasi sendiri dapat diartikan sebagai proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi digital (Sukmana, 2005). Secara merijit dapat diartikan pula bahwa digitalisasi merupakan suatu proses mendalam dan transformasi dari yang semula berbentuk fisik menjadi digital.

Berkat media sosial, setiap orang jadi lebih mudah dalam berpartisipasi, berbagi dan berkomunikasi dengan berbagai struktur masyarakat di seluruh dunia. Manfaat dari adanya media sosial memudahkan dan mengoptimalkan penyebaran informasi ke seluruh lapisan masyarakat. Hal inilah yang juga dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memudahkan pendistribusian berita yang ditujukan kepada rakyatnya. Kecanggihan teknologi bukankah hal yang sulit bagi masyarakat dalam mengakses setiap informasi dan berita.

Namun keberadaan media sosial tidak selamanya membawa dampak yang positif, banyak juga dampak negatif yang diakibatkannya. Salah satu dampak tersebut adalah beredarnya berita bohong atau yang lebih akrab kita kenal dengan berita hoax. Media sosial tak dapat dipisahkan dengan kebohongan. Mudahnya laju informasi malah dimanfaatkan dengan tidak bijak oleh beberapa oknum dengan maksud tertentu. Demikian pula dengan sistem birokrasi di negeri ini, terkadang banyak sekali berita-berita bohong yang bermunculan di tengah tengah masyarakat, terutama saat berlangsungnya pesta demokrasi.

Meningkatnya signifikansi media sosial sebagai sumber berita dan semakin besarnya ketidakpercayaan terhadap fakta dan data yang disajikan oleh institusi terkait maupun media massa membuat masyarakat seakan resah terhadap apa yang disebarkan oleh pemerintah. Ketidakpercayaan terhadap mosi-mosi yang pemerintahan keluarkan berdampak secara signifkan terhadap regulasi yang ada.

Media sosial seakan digunakan sebagai sebuah senjata terampuh demi mendulang banyak suara, dengan menyebarkan berita yang tak enak di telinga yang tak terbukti kebenarannya. Bahkan sarat akan adu domba membuat publik seakan mulai tidak menaruh integritas kepada para elit politik dan jajarannya.

Adanya transformasi terhadap isu post-truth, media sosial memang harus dilakukan dan diimplementasikan. Sebab manakala post-truth ini terus berlanjut, maka masyarakatlah yang akan menjadi korbannya. Transformasi yang mengarah kepada perbaikan adalah kunci utamanya. Dalam hal ini diperlukan kolaborasi apik antar jajaran yang ada, baik pemerintah maupun masyarakat.  

Juga diperlukan tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang memberikan doktrin negatif di kalangan masyarakat, apalagi yang berbau ketidakbenaran. Post-truth yang hari ini kentara merupakan momok nyata adanya degradasi terhadap nilai-nilai substansial pada tataran kehidupan. Signifikasi menilai sesuatu hanya berdasarkan pada aspek personality tanpa melihat dari segmentasi kebenaran merupakan suatu hal yang riskan.

Berangkat dari sebab-musabab pelik tersebut di mana era post-truth saat ini lebih terkonsen pada frasa media sosial dan digital, oleh karenanya menjadi nilai tendensial bahwa pemahaman ihwal internalisasi kebenaran berbasis data dan fakta diprioritaskan. Bukan yang berdasar pada aspek kognitif personality yang kecederungannya menggunakan aspek suka dan tidak suka.

Maka dalam hal ini, dengan penuh rasa takzim, hal yang mestinya dilakukan oleh segenap elemen, wabil khusus yang acapkali santer menggunakan media sosial dalam berkehidupan adalah melalui literasi digital. Tidak dapat dimungkiri, banyak beredar berita bohong yang seakan-akan menjadi kebenaran, lantaran dikonsumsi secara masif dan agresif oleh sebagian besar orang. Yang menjadi bias kembali adalah bagaimana berita tersebut malah berkonotasi melakukan penggiringan publik yang akhirnya bermuara pada post-truth itu sendiri.

Literasi digital menjadi penting hukumnya, karena seperti yang kita lihat berdasarkan termanya yang kemudian berasal dari dua kata utama, yakni literasi dan digital. Litersasi sendiri adalah istilah yang tidak asing di telinga kita. Menurut Kurniawati dan Baroroh (2016), pengertian literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis atau dengan kata lain melek media aksara. Artinya ketika disandingkan dengan istilah digital, maka jelas termaktub bahwa literasi digital merupakan kemampuan dalam memanfaatkan media sosial dengan beberapa kemampuan mendasar pada level kognitif literasi. Oleh karenanya, menjadi penting untuk mengenal literasi digital sebagai suatu solusi dalam menghadapi era post-truth.

Literasi digital diperlukan agar masyarakat memiliki sikap kritis dalam menyikapi setiap informasi dan interaksi yang ada. Masyarakat perlu diberikan edukasi berkenaan dengan aturan dan tata cara yang digunakan ketika memanfaatkan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Validitas media harus ditelusuri dengan cara mencari informasi dari berbagai macam media. Tujuannya adalah untuk pencarian apakah isi dari berita tersebut memiliki informasi yang berimbang atau tidak.

Perlu menjadi perhatian juga bahwa kebebasan pers yang didukung oleh teknologi komunikasi dengan internetnya menungkinkan masyarakat mengkonsumsi informasi. Maka, perlu adanya internalisasi menyoal pemahaman masyarakat mengenai dampak yang ditimbulkan dari media sosial itu sendiri. Hadirnya literasi digital secara apik membuat kemampuan masyarakat dan publik mengklasifikan berita berdasarkan data dan fakta bisa lebih dioptimalkan, sehingga dapat menggerus adanya post-truth yang hinggap di tengah publik saat ini.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment