Pendidikan dan Demokrasi

Ainiyatul Febri Mahiyah


PUCUKMERA.ID — Sebagian dari kita pasti berpikir, pendidikan adalah elemen paling penting atas kualitas hidup seseorang. Pendidikan dapat menjadi indikator penilaian terhadap pribadi seseorang. Ironisnya, banyak orang tua yang menjadikan pendidikan sebagai kualifikasi untuk memilih menantu. Dan, saya pikir, hal ini tidaklah rasional. Karena masih banyak orang yang ‘berpendidikan tinggi’ tapi tetap aja tidak bisa menggunakan otak dan ilmunya.

Setelah pendidikan dipuji layaknya dewa, lantas jika konsep pendidikan itu salah, apa yang terjadi? Tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai. Tujuan membentuk insan-insan cerdas nan mulia menjadi nol. Jika sudah seperti ini, siapa yang berhak disalahkan?

Coba kita cek dulu fakta dari pendidikan di Indonesia. Pertama, sebagian orang menentukan pintar atau tidak pintarnya seseorang dari sebuah kalkulasi nilai berbasis angka atau predikat huruf yang didapat siswa. Siswa dicekoki berbagai macam mata pelajaran sejak dini untuk memperoleh pengetahuan, yang mungkin mereka sendiri tidak tahu apa tujuan memperoleh pengetahuan tersebut.

Aktor-aktor pendidikan seperti guru yang cenderung menilai sebuah kemampuan atas angka-angka atau nilai yang didapat tanpa memikirkan bagaimana media dan metode yang tepat untuk siswa mendapat nilai maksimal perlu dipertanyakan insting ‘gurunya’. Bahkan jika siswa tidak mencapai standar nilai minimum, ia akan melaksanakan proses remedial.

Dari konsep pendidikan yang seperti ini, saya rasa pendidikan Indonesia kurang cukup mempunyai tujuan. Dampak dari konsep ini ialah, setelah siswa pintar terhadap pengetahuan-pengetahuan yang ia dapat, akan sangat mungkin 10-15 tahun kemudian, pengetahuan yang ia dapat di hari ini sudah tidak lagi relevan atau bahkan ia sudah lupa terhadap pengetahuan tersebut.

Kedua, guru, tenaga pendidikan, atau aktor-aktor yang berkecimpung di dunia pendidikan cenderung sibuk ‘menggodok apa yang harus diajarkan pada siswa’ bukan ‘bagaimana cara merancang assessment yang tepat bagi siswa’. Jelas, ini ironis sekali. Akibatnya, konsep pendidikan yang seperti ini akan memanjakan siswa pada asupan informasi, bukan menitikberartakan pada bagaimana siswa memroses suatu informasi.

Sederhananya, akar dari masalah pendidikan ialah konsep pendidikan Indonesia yang menitikberatkan pada bagaimana si siswa mendapat pengetahuan tanpa melalui proses ‘membentuk pola pikir’ siswa. Akibatnya, siswa yang dulunya pintar akan terbirit-birit saat pengetahuan dan ilmu mulai berkembang sesuai zaman, dan celakanya pengetahuan yang ia miliki tidak lagi relevan di zaman sekarang.

Konsep pendidikan yang saat ini berlangsung di ranah kognitif, guru sibuk menyuapi berbagai macam pengetahuan dan mengarahkan siswa pada arah berpikir sesuai kehendak guru. Harusnya, siswa disuguhi berbagai pengetahuan dan bebas akan memakan yang mana dan membawa ke arah mana tanpa pengaruh guru. Dengan demikian, konsep berpikir siswa akan terbentuk, Dan pada akhirnya pendidikan dapat melepaskan seseorang dari belenggu bukan malah membelenggu.

Jika konsep pendidikan Indonesia bertumpu pada pembentukan pola pikir, saya rasa generasi muda Indonesia tidak akan lagi ketinggalan zaman dan tidak lagi sering salah paham karena kurangnya literasi. Dengan demikian, tujuan emas yang akan kita capai ialah terwujudnya demokrasi yang lebih baik. Mengapa? Karena demokrasi dan kendali sistem politik suatu negara dapat berjalan dengan baik jika para aktor di dalamnya dapat berpikir cerdas, rasional, cukup literasi, dan sadar pada kondisi politik.

Ketika masyarakat Indonesia sudah mendapat konsep pendidikan, terutama pada ranah kognitif yang mumpuni, otomatis di Indonesia akan terbentuk sebuah peradaban baru. Peradaban dengan intelektual tinggi, dapat menerima keberagaman dalam gaya berpikir yang berbeda, dan tidak mudah terprovokasi. Sehingga, akan menciptakan atmosfer bernegara yang sehat dan dapat mengendalikan jalan demokrasi yang waras.

Demokrasi yang ideal nan waras akan terjadi, jika kerangka berpikir generasi muda Indonesia atau masyarakat Indonesia sudah terbentuk dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Maka dari itu, konsep pendidikan akan terus mempengaruhi dan mengendalikan sistem politik dan demokrasi. Jika, suatu negara bercita-cita mewujudkan demokrasi yang sehat, sudah seharusnya langkah konkret yang harus dilakukan ialah mengevaluasi dan membangun kembali konsep pendidikan yang ada.

Semangat membangun kembali konsep pendidikan haruslah disadari oleh semua kalangan. Baik pemerintah yang membuat kebijakan, guru dan tenaga pendidik yang bermain di dalamnya, dan siswa sebagai harapan bangsa di masa depan. Pendidikan harus membuat siswa ‘bebas’. Dan, yang menjadi penting, ketika siswa dibebaskan, siswa tidak akan melanggar nilai kemanusiaan ketika pola pikirnya sudah terbentuk sebagai seorang manusia. Kemudian, demokrasi yang ideal segera terwujud dan tidak akan diciderai oleh pelanggaran nilai kemanusiaan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment