Pejabat Lokal dan Kekuatan Makam Keramat Raja Ketiga

Irsyad Madjid
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Anak lelaki itu tersentak kaget, lalu loncat dari tempat tidurnya. Tempo hari, ia memang melihat berita penolakan soal rencana penambangan emas itu bertebaran di media sosial. Para aktivis lingkungan sibuk membagikan poster propaganda berbentuk infografis tentang sebab-sebab menyedihkan kenapa mufakat jahat itu harus dihentikan. Tapi sungguh ia tak menyangka, skenario perlawanan ini mampu merenggut nyawa seorang pejabat lokal asli pulau tempat penambangan itu hendak dilakukan.

Pelan-pelan dia membaca berita kematiannya yang tiba-tiba. Pejabat lokal itu meninggal di pesawat, seusai melakukan perjalanan dinas dan hendak pulang ke kampungnya. Memang sudah berbulan-bulan lamanya, aktivitas si pejabat lokal membuat gusar salah seorang pejabat tinggi di pemerintahan pusat.

Dengan berani, pejabat lokal mengakomodir perlawanan masyarakat lokal di pulau penambangan yang semakin hari kian kompak dan masif karena membentuk sebuah koalisi khusus. Atas nama perjuangan, pejabat lokal nekat menaruh diri sebagai pagar di garis depan perjuangan. Ia bahkan membubuhkan tanda tangan di surat penolakan atas kegiatan tambang yang dikirimkan ke pejabat tinggi di ibu kota.

Sebenarnya, ia sadar akan risiko ini. Meski menyandang status sebagai pejabat lokal, namun posisinya hanyalah wakil bupati. Tanda tangannya di surat itu sama saja dengan menampar berbagai tingkatan pejabat di atasnya. Sebab, gubernur penguasa pulau bahkan sudah memberikan restu. Rekan kerjanya, sang bupati penguasa daerah, termasuk pihak pertama yang menyetujui aktivitas ini. Restu-restu ini kemudian berubah menjadi titah setelah sang pejabat tinggi di pemerintahan pusat juga memberikan jempol tanda setuju.

Rasa khawatir tak kunjung henti menghantui sang pejabat lokal. Ia tahu akan mengalami perjalanan yang berat dan panjang. Namun, beberapa hari terakhir, malamnya juga berubah menjadi malam yang berat dan terasa lebih panjang. Napasnya tak berhenti menderu dan dadanya terasa sesak. Tiap kali matanya terpejam, ia bermimpi melihat warga desanya berbondong datang ke rumah jabatan yang dia tempati.

Anehnya, mereka datang sambil berjalan ngesot, tubuhnya sangat kurus dan kulitnya terlihat kering. Sambil tertatih-tatih dan dengan suara yang parau, mereka meminta makanan dan air bersih. Melihat hal itu, dalam mimpinya ia bergegas masuk ke dapur untuk mencari bantuan makanan. Namun, ketika kembali ke halaman rumah, ia melihat warga desanya telah berubah menjadi burung cantik dan terbang tak bersisa.

Suara-suara rintihan burung itu masih berbunyi dengan keras. Suara-suara itu kemudian membangunkan si pejabat lokal dari tidur malamnya yang singkat. Berhari-hari dihinggapi mimpi yang sama membuat pejabat lokal gusar. Di hari ketujuh, tekadnya sudah bulat untuk berbuat sesuatu. Ihwal dari mimpi tersebut sudah dia pahami.

Maka, pagi itu juga dia berlari ke sebuah makam keramat di ujung desanya. Makam yang ia tuju adalah makam leluhur desa yang mati di tiang pancung karena menolak tunduk pada penjajah. Beratus tahun yang lalu, Raja Ketiga di kepulauan ini menentang keras kolonialisme bangsa asing. Lewat sebuah perjanjian, para penjajah ingin menguasai hasil bumi dan menghilangkan kebudayaan lokal—sesuatu yang tidak disukai oleh Sang Raja. Sedihnya, beberapa kerajaan tetangga di sekitar pulau sudah mengaku tunduk dan menyetujui perjanjian itu. Namun, Raja Ketiga masih bersikeras melawan dengan segala risiko yang ada.

Karena menolak menandatangani kontrak tersebut, pihak penjajah manjatuhi hukuman mati kepadanya. Ia pun melewati beberapa proses hukuman. Penduduk sekitar meriwayatkan, awalnya tubuh Sang Raja Ketiga diikat dengan batu, lalu ditenggelamkan di laut. Namun, selepas para eksekutor kembali ke darat, mereka kaget melihat Raja Ketiga juga sudah nampak kembali di daratan.

Untuk itu, dia kembali ditangkap. Sekali lagi ia dipaksa menandatangani kontrak tersebut, namun tetap bersikeras menolak. Kali ini hukuman lebih berat pun harus dihadapinya. Pasukan penjajah menurunkan satu drum bensin, Raja Ketiga dimasukkan ke dalamnya lalu dibakar. Ajaibnya, tidak sehelai pun rambut Sang Raja yang ikut termakan api.

Pihak penjajah murka. Mereka menyeret tubuh Raja Ketiga dan mengarahkannya ke mulut meriam. Mereka hendak menghancurkan tubuh sang Raja hingga berkeping-keping. Anehnya, senjata berdaya ledak tinggi itu tiba-tiba tidak berfungsi selama enam kali percobaan peledakan. Pihak penjajah akhirnya kehabisan cara. “Orang ini terlalu sakti untuk kita bunuh. Kalau demikian, cukup gantung dia agar tidak bisa melarikan diri.” ujar salah satu pembesar dari pihak penjajah.

Sang Raja akhirnya digantung pada sebuah pohon ketapang. Meski demikian, Raja Ketiga mampu bertahan hingga tiga hari lamanya. Para penduduk sekitar yang melihat adegan ini tak henti menangisi dan sangat iba pada penyiksaan yang dirasakan Sang Raja.

Namun Raja Ketiga tidak bergeming, dalam keadaan lemah dia berucap, “Meskipun saya mati digantung, saya tidak akan tunduk kepada penjajah.” Kalimat terakhir Raja Ketiga itu kemudian diabadikan dalam prasasti yang berdiri di makam keramat tersebut.

Lamat-lamat, si pejabat lokal membaca tulisan di makam keramat. Ia merenungi dalam-dalam arti sebuah perlawanan dan risiko yang harus ditanggung. Oleh penduduk setempat, makam ini memang dianggap sebagai sumber kekuatan. Tak lama kemudian, sembari menghirup napas dalam-dalam, dia membulatkan tekad. Pejabat lokal lalu mengumpulkan para aktivis lingkungan dan masyarakat desa yang menolak pertambangan di kantornya.  

“Bapak dan ibu yang saya hormati, ratusan tahun lalu, Sang Raja Ketiga memilih mati di tiang gantung demi masyarakat desa. Saya mungkin tidak seberani Sang Raja Ketiga, tapi ketakutan saya kalah dengan kekhawatiran akan masa depan desa dan pulau ini. Meski begitu, kita harus menyiapkan alasan terbaik untuk melawan,” kata pejabat lokal dengan lugas.

“Dahulu kala, selepas mendapat pendidikan selama empat tahun di negeri seberang, Sang Raja Ketiga menjadi tahu bahwa maksud penjajah datang ke desa bukan sebagai pelindung, tapi justru ingin menguras kekayaan bumi kita sampai ke akar-akarnya. Maka, selain tekad, pengetahuan adalah senjata terbaik untuk melawan,” tambahnya dengan tatapan tajam.  

“Bapak pejabat, kita punya alasan terbaik untuk melawan,” sergah salah seorang aktivis lingkungan yang ikut di pertemuan itu.

“Luas konsesi tambang yang direstui oleh pejabat tinggi itu sebanyak 42.000 hektare, atau lebih dari setengah dari luas total pulau ini. Dengan begitu, para penambang memiliki hak untuk mengeksploitasi emas dan tembaga di enam kecamatan yang terdiri dari 80 kampung di pulau ini, dan itu akan dilakukan selama 33 tahun ke depan.” Aktivis lingkungan itu menjabarkan secara detail fakta-fakta tragis terkait izin penambangan.

Ia kemudian melanjutkan, “Dengan izin seluas itu pula, penambang emas juga akan merobohkan gunung besar di bagian selatan pulau kita. Jika gunung ditambang, maka hutan menjadi rusak. Padahal di hutan kita, mengalir sekitar 70 anak sungai yang selama ini jadi sumber penghidupan di pulau. Aktivitas serakah ini akan mengakibatkan datangnya banyak bencana seperti krisis air tawar, sumber makanan dan bencana longsor.”

Lantas, seorang tetua warga lokal ikut berbicara, “Bukan hanya kita, masyarakat desa, yang akan binasa dengan pertambangan, bapak pejabat lokal. Alam di pulau kita adalah benteng terakhir dan menjadi rumah dari sembilan jenis burung langka di dunia. Beberapa dari burung itu bahkan sudah dinyatakan punah sekitar 100 tahun lamanya hingga kemudian ditemukan kembali sekitar 23 tahun yang lalu, hanya di gunung kita, bapak pejabat,” lanjut tetua itu.

“Yang paling parah, daerah makam keramat juga termasuk dalam wilayah izin pertambangan.”

Selepas mengucap kalimat itu, tetua mengambil jeda dan menghirup napasnya dalam-dalam. “Saya tak bisa membayangkan, kesabaran Raja Ketiga menghadapi penyiksaan beratus tahun lalu dengan mudah kita…” belum sempat mengakhiri kalimatnya, bapak pejabat kemudian berdiri dan memotong “Cukup, mulai hari ini kita melawan sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya.”

Ia kemudian memanggil sekretaris pemerintahan masuk ke dalam ruangan.

“Tolong tuliskan beberapa argumen yang tadi bapak dan ibu jabarkan ke dalam sebuah surat penolakan. Atas nama pemerintah daerah, saya akan mengirim surat langsung kepada pejabat tinggi di pemerintahan pusat dan tidak akan berhenti mengawalnya hingga izin itu dibatalkan.” Pejabat lokal lalu menatap tajam ke arah masyarakat lalu berseloroh, “Kebenaran, harus diberikan ruang!” katanya dengan mantap.

Masyarakat yang hadir mengucap syukur. Para aktivis lingkungan berjanji ikut melawan. Mereka bahkan berencana meluaskan jejaring perlawanan dan membetuk koalisi besar dengan unsur-unsur lain yang setuju menolak. Setelah waktu berjalan, apa yang dikatakan pejabat lokal ternyata bukan isapan jempol belaka.

Surat penolakan yang ia tanda tangani dikirimkan langsung kepada pejabat tinggi di pemerintahan pusat, ditembuskan ke berbagai pihak, termasuk kepada orang nomor satu di negeri itu. Tak dinyana, aktivitas ini rupanya mengganggu beberapa pihak-pihak terkait yang punya kepentingan pada penambangan itu.

Maka malam itu, si pejabat tinggi yang pernah mengenyam pendidikan militer mendapat perintah untuk memimpin langsung rencana operasi pembunuhan pejabat lokal. Dalam sebuah kamar kosong beratus meter dari hotel tempat pejabat lokal menginap, dia berpikir keras menyusun strategi agar kematian ini terlihat normal. “Kita tak boleh mengulangi kesalahan 17 tahun yang lalu ketika membunuh si ikan besar,” katanya dengan raut wajah gugup dan intonasi menekan.

Kenangan akan peristiwa 17 tahun silam kembali hadir dalam pikirannya. Rencana jahat yang ia susun terbongkar oleh advokasi yang dilakukan oleh lembaga hak asasi manusia di negeri itu. Hampir saja perannya terungkap, untung sang eksekutor memilih bungkam dan hanya mengorbankan dirinya. Belajar dari peristiwa itu, kali ini dia menyiapkan taktik rekayasa yang berbeda.

Keesokan harinya, pejabat lokal dikabarkan tewas di atas pesawat.

Kejadian ini sontak mengagetkan penduduk di seantero negeri. Memori mereka kembali mengulas kejadian belasan tahun lalu yang juga terjadi di atas pesawat. Apalagi, diketahui bahwa keluar darah dari lubang hidung dan mulut sang pejabat lokal. Adegan yang sama persis dengan kejadian belasan tahun sebelumnya. Bedanya, kali ini tidak ditemukan racun arsenik pada minuman pejabat lokal. Bahkan, proses kematiannya pun sulit untuk dicurigai sebab tak ada layanan makan-minum di atas pesawat.

Meski meninggal mendadak, mayat sang pejabat lokal tidak diotopsi sesampainya di bandara terdekat. Ia langsung dibawa ke pulau kesayangannya. Di sana, ia disambut lautan manusia. Simpati meluas, para aktivis kemanusiaan dan masyarakat mendesak dilakukan penelitian lebih lanjut. Pihak keamanan berusaha menenangkan, mengklaim bahwa kematian pejabat lokal tidak terkait dengan konspirasi tertentu. Anak lelaki yang menyaksikan berita itu bergumam kesal.

“Kebenaran memang tak pernah diberi ruang di negeri ini.” ujarnya dalam hati.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka2Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment