Pada Tapak Kaki Kesekian

Wasis Zagara
Ketua Komunitas Literasi Forum Penulis Muda (FPM) Ponorogo


I. Selepas Hujan

 

Ada yang lebih ritmis dari nyanyian hujan.

Yakni, kecipak langkah kakimu yang disambut baik oleh telingaku.

Ada yang lebih mendamaikan ketimbang aroma petrikor.

Ialah semerbak sunyi ketika mata kita saling menghinggapi.

 

Tapi, taukah kau, manisku?

Rintik sepersekian detik ini mengingatkanku.

Pada hujan dan badai petir di mimpimu.

Hujan yang tak kenal kata henti.

Dan, kini banjir bandang dalam ingatanku.

 

Kau, tau, manisku?

Hujan itu tak lebih dari tangis haru awan.

Mendengar rintih tanah rindu akan segala yang basah.

 

Kau pun tau,

Hujan itu bernaung sementara waktu.

Kemudian hinggap lagi sebagai siklus yang berlalu.

Seperti kecipak kakimu yang kini terhitung sebagai masa lalu.

Pun, semerbak sunyi yang dulu menghinggapi.

 

Kau menguap sebelum hujan itu jatuh sebagai kecupan.

Menjadi hujan bayangan.

Menjadi gemericik kegamangan.

 

II. Sebelum Kata Pergi

 

Kita yang pernah tak berjarak.

layaknya tarian embun dengan irama pagi.

Jatuh dan saling dekap.

Sebelum Geosmin Menyeruap ke udara pengap.

 

Aku senang, Menyaksikan wajahmu telengkup dan terlelap.

Membayangkan bintang-bintang bermukim di sudut mimpimu.

Aku tenang, merasakan ikan-ikan dan anak kecil.

Berkunjung ke mimpiku.

Mereka mengabarkan bahwa aku adalah bagian dari mimpimu.

 

Namun sabda alam selalu benar, Din.

Bahwa ada banyak hal yang harus berakhir.

Sehangat apapun dekap.

Senyala apapun bintang.

Sehing apapun mimpi.

Seriang apapun ikan dan anak kecil.

Rela tak rela, semua harus berakhir.

 

Serupa embun yang terusir waktu.

Selayaknya pagi yang bergegas angkat kaki.

Kau pun terburu waktu dan begegas langkahkan kaki.

Selamat pergi!


III. Tapak Kaki Kesekian

 

Pada tapak kaki kesekian.

Kau, akan berjalan mendahuluiku, Din.

Menggandeng tangan lain, dan bukan sayapku.

 

Aku tak tahu persis.

Dari larutan apa kebahagiaan itu tercipta.

Mungkin dari rona pipimu yang bercampur tawa kecil.

Atau, dari senyummu yang menidurkan dewi-dewi mungil.

 

Senang, mengantarmu sampai di titik ini.

Aku teramat yakin, keindahan  tak harus di puncak.

Melainkan, di dasar hati masing-masing.

Tempat dimana sejarah rasa itu tertanam.

Tanpa sebutir pun benih dendam.

 

Sebab, betapa pun kehilangan ialah saudara kembar kesedihan.

Namun, bukankah bisik nurani kita pernah saling menyenangkan?

 

Salam jumpa di singgasana yang lain.

Aku akan melihatmu sebagai daun lembut.

Yang tertutup rumbai-rumbai kabut.

Melahirkan embun-embun riang yang saling berkejaran.

Merawat mereka hingga jadi Kristal kehidupan.

Salam jumpa, Din,  pada tapak kaki kesekian.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
4Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment