Obrolan di Ujung Seruput!


Nur Fahmi Nur Pegiat Diskusi Angkringan


Warung kopi ataupun angkringan sebagai tempat tongkrongan berhasil membuat saya menemukan sesuatu yang tidak ditemukan ketika mengikuti alur kehidupan begitu saja.

Saya membangun sebuah usaha kecil-kecilan di sebuah kota besar yang hampir menjadi kota metropolitan, yaitu yogyakarta. Walaupun label metropolitan masih sangat jauh sekali, tapi percayalah, kehidupan di Jogya sudah mulai beranjak. Saya membuka sebuah angkringan dengan konsep yang memiliki tempat nongkrong dengan tiga meja dan tentu pasangan kursi-kursinya. Ya semi cafe, semi tongkrongan.

Mimpi saya dengan teman-teman membangun angkringan tidak lain dan tidak bukan untuk menjadi orang yang berkecukupan. Kami bosan hidup susah, di akhir bulan selalu saja pinjam uang ke kanan dan ke kiri. Kami merasa harus merevolusi kehidupan yang begini-begini saja, menjadi begini-begitu. Akhirnya kami lahirkan angkringan ini, dengan penuh harapan agar derajat hidup kami naik.

Sepanjang perjalanan menjalankan usaha angkringan, banyak sekali hal yang tidak saya temukan ketika angkringan ini tidak dilahirkan. Apakah itu? Ketemu orang baru dan obrolan panjang dengan teman-teman lama.

Banyak sekali jenis orang yang saya temui. Tentunya pertemuan tidak asal pertemuan, semua memberi pelajaran hidup yang sangat baik untuk memperbaiki kehidupan saya. Contohnya, kala itu bertemu seorang bapak yang lagi cari makan ke angkringan. Beliau makan dengan asik di meja lain, sedangkan saya duduk di dekat gerobak angkringan, menunggu ada pelanggan lain yang datang membeli.

Setelah bapak usai makan, beliau datang mendekati untuk memesan teh jahe. Saya buatkan beliau teh jahe sesuai pesanan, ditengah proses tersebut percakapan kami dimulai.

“Mas aslinya dari mana?” tanya bapak.
“Saya dari Sulawesi Selatan Pak, tapi lahir dan besar di Papua” jawabku.
“Owalah keren, keren” balasnya “ini kalau teh jahe mas, tehnya sedikit saja, tidak usah pakai takaran kalau buat es teh biasa, supaya pedasnya jahe kerasa” tambah bapaknya.
“Oh begitu toh Pak, baru tau saya Pak” balasku.
“Iya mas begitu, biar kerasa jahenya”.

Kami diam sejenak.

“Masnya kuliah?” tanya bapaknya.
“Iya pak, saya kuliah di UMY” balasku.
“Oh UMY, jurusan apa Mas?” tanya bapaknya lagi.
“Teknik elektro pak” jawabku.
“Bagus. Bagus Mas. Saya ini mas pernah 10 tahun jadi cleaning service di satu kampus. Lihat banyak sekali anak-anak mahasiswa. Banyak juga yang malas dan lama lulusnya. Apa tidak kasihan ya sama orang tuanya?”.
“Oh iya Pak” balasku.

“Ada itu mahasiswa, jam 8 saya lihat dia nunggu di depan ruangan dosen. Saya pergi bekerja, setelah balik jam 12 dia masih nunggu dosen di depan ruangan. Waktu saya tanya, ternyata sudah semester tua. Kan kasihan, habis waktu dan uang juga” jelas bapak.
“Saya Mas, mending di selesaikan. Gampang itu Mas, kalau beneran dan rajin di kerjakan pasti selesai. Iya kan Mas?” tambah bapaknya lagi.

Saya hanya bisa mengiyakan. Toh sekarang berada dalam kondisi mahasiswa yang di temui bapak itu. Mahasiswa dengan dua belas semester bukan sesuatu yang baik untuk di banggakan. Saya mengetahui bagaimana perasaan bapak itu, perjuangannya untuk membiaya hidup membuat beliau begitu bijak dalam menghadapi masalah. Untung bapak itu tidak menanyakan berapa banyak semester pada saya dan kenapa tidak lulus?. Kalau beliau bertanya, mungkin detik itu obrolan kita berakhir dengan ucapan “Halah, ternyata kamu yo begitu toh”. Tentunya akan saya jawab dengan tertawa. Hehe.

Cerita bersama bapak adalah satu dari banyak cerita bertemu orang baru. Ada juga cerita-cerita para kuli bangunan yang tidak kalah menarik dan memberi pelajaran hidup yang baik. Satu perkataan kuli bangunan yang masih terngiang di telinga saya adalah “sebenarnya saya mau istirahat  Mas, tapi kuli bangunan belum sejahtera, jadi saya kembali”, Prabowo banget, walaupun beliau memilih Jokowi. Saya paham, bahwa setiap pertemuan bukan sebuah kebetulan, siapapun yang kita temui adalah rencana Tuhan setidaknya untuk mengingatkan dan menyampaikan pesan.

Saya menemukan sesuatu yang lebih bahagia daripada menjadi kaya dari angkringan, ya bertemu orang-orang seperti itu. Sebagai mahasiswa tua, yang kawan-kawannya sudah lulus dan keluar dari jogja, membuat angkringan ini bisa mempertemukan saya dengan para adek tingkat yang datang untuk sekedar makan, ngobrol atau ada rapat.

Pada akhirnya saya tahu bahwa obrolan di akhir seruput adalah kenikmatan tiada tara, tidak ada kasta, kita sama manusia.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

1 Comment

  • Ade
    Posted February 5, 2020 at 5:51 am 0Likes

    Dari angkringan pada umumnya lahir pemimpin revolusioner

Leave a comment