Obituari untuk Syahrul: Kader Terbaik yang Punya Kelapangan Hati Luas

Irsyad Madjid
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Saya mengenal kata obituari pertama kali lewat berbagai rangkaian tulisan yang terbit di Geotimes; ditujukan atas meninggalnya begawan politik Muhammadiyah, Prof. Bachtiar Effendi. Setelah lama mencari tahu, saya akhirnya paham bahwa obituari dimaknai sebagai ucapan perpisahan kematian kepada seseorang yang dianggap berjasa.

Mengutip Martin Heidegger, “Man is a being unto death”. Manusia, adalah makhluk yang berjalan untuk mati. Sebab, keberadaan manusia ditentukan oleh waktu, dan waktu sifatnya terbatas. Heidegger lalu menyimpulkan, autentisitas manusia hanya dapat ditemukan dari memaknai fakta kematiannya. Maka, saya pun bercita-cita, suatu hari nanti saya ingin menulis obituari; paling tidak kepada seseorang yang saya anggap menginspirasi. Sudah ada beberapa kandidat yang saya pilih; saya persiapkan bahan ketika kematian datang padanya.

Tapi, sama sekali tak terbesit di benak saya, nama Syahrul Ramadhan. Seorang kawan yang kami kenal dari ajang DES (Djazman English Scholarship), scholarship bootcamp-nya DPP IMM. Seorang kader IMM Kota Parepare yang berkarakter. Saya harus mengakui, saya jarang bertemu kader IMM yang nyaris “sempurna” seperti almarhum.

Dulu di komisariat, kami sering berkelakar. Tri kompetensi dasar IMM itu utopis. Sebab, jarang ada kader yang bisa memenuhi kriteria: religius, intelek sekaligus humanis. Sungguh sulit menyeimbangkan tiga aspek ini. Biasanya timpang dan berat pada satu dimensi.

Syahrul mungkin tidak punya karya intelektual dan rekam jejak mentereng seperti orang-orang terkenal lain yang dibuatkan obituarium. Lebih tepatnya belum. Sebab ia meninggal pada usia yang relatif muda: 27 Tahun. Tapi kawanku yang satu ini, hampir sesuai dengan profil kader ikatan yang menjadi ingin diwujudkan oleh IMM. Paling tidak, penilaian ini datang dari pengamatan sederhana hasil hidup bersama selama 4 bulan lebih di kamp.

Syahrul, salah satu peserta yang selalu siap menerima materi pembelajaran. Pemahamannya pun di atas rata-rata. Salah satu mentor, Mas Nurdin, menganggapnya sebagai Best Speaker kalau mendapat tema speaking soal ekonomi. Beberapa kawan juga sering mendaulatnya menjadi guru dadakan. Padahal, Syahrul menjadi peserta di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Magister Akuntansi di Universitas Brawijaya.

Namun, jangan kira Syahrul cuma fokus belajar dan lalai pada aspek yang lain. Anda akan sering menemukan dia menjadi imam saat salat berjamaah di musala. Kawan saya dari Sumbawa, Husaini, selalu memaksa Syahrul menjadi imam sebab suaranya yang merdu. Saat waktu subuh, saya yang sering tidur di kasur yang sama, selalu menyaksikan Syahrul menjadi orang pertama yang bangun salat subuh.

Urusan akhirat yang rasanya sudah tuntas ini, tidak lantas membuat ihwal kemanusiaannya terkikis. Syahrul, paling tidak dalam hitungan saya, menjadi orang yang paling sering mengisi galon kosong di basecamp putra. Sederhana mungkin, tapi keikhlasan beliau yang membuat ini menjadi berkesan. Sebab, hal itu dia lakukan sendiri, dengan uang sakunya sendiri, tanpa kemudian menggerutu dan menyumpahi kami sebagai pemalas.

Solidaritas dia sebagai kawan, rasanya perlu diberikan satu catatan khusus. Ada banyak kisah yang layak dikenang. Saya hanya menuliskan satu contoh untuk membuka ruang kepada kawan lain untuk ikut bercerita. Salah satunya mungkin soal kelapangan hati berkorban agar kawannya yang lain bisa ikut merasa nyaman.

Sebagai satu-satunya peserta kamp di antara 16 orang yang punya motor, anak-anak menjuluki motor Syahrul sebagai motor umat. Sekali waktu, saya mendapati bensin motornya habis setelah dipinjam sama kawan yang lain. Tanpa mencaci maki, Syahrul sendiri yang mengisi bensin motornya lalu memberikannya pada saya untuk dipakai. Ia tak pernah kapok soal urusan ini.

Kelak, kelapangan hati untuk meringankan beban orang lain ini yang mengantarnya menjemput ajal. Tepat di hari ulang tahunnya, 21 Februari 2021, saya menerima kabar duka bahwa kawanku ini meninggal dunia karena insiden tersengat listrik. Ibundanya menuturkan, Syahrul bersama dua Omnya sedang memasang tiang penangkap sinyal di kampungnya, Tana Toraja.

“Syahrul gak akan mungkin membiarkan Omnya kerja sendiri, Nak. Kalau dipanggil membantu dia pasti mau.” tangis Ibunya. “Tanpa dipanggil pun dia pasti menawarkan diri membantu, Bu.” balasku dengan yakin. Sangat yakin. Sebab, dulu tiba-tiba almarhum sempat agak marah karena saya seakan membiarkan Mas Abdul, senior kami, mencangkul sendiri lahan fondasi untuk bangunan bisnisnya.

“Masa kau biarkan seniormu kerja sendiri, Syad? ” hardiknya sambil melengos. “Kalau Mas Abdul butuh bantuan, pasti dia minta tolong, bosku.” jawabku cepat. “Iya tau, tapi di mana siri’mu (rasa malu) kau taruh sebagai junior.” balasnya lagi sambil menggulung celana kain. Dia kemudian bergegas membantu Mas Abdul. Saya yang masih terhenyak, spontan mengikut langkahnya.

Maka ketika berita duka itu datang, perasaan saya hancur. Begitu juga dengan kawan-kawan yang lain. Saya sempat heran, ada banyak orang yang saya anggap mustahil untuk mengenal Syahrul ternyata ikut memasang fotonya. Ketika saya tanya kenal di mana, jawabnya beragam. Kenal ketika kegiatan PIR (Pekan I’tikaf Ramadhan) di Jogja, kenal saat aktif di komunitas Muballigh Hijrah, dan lain sebagainya. Pergaulannya yang luas membuat saya terkagum-kagum. Meski saya menyadari, kelapangan hati semacam itu akan membuatnya disenangi banyak pihak.

Jujur, ketika ucapan duka datang dari berbagai pihak, saya sempat cemburu. Sebab beberapa kawan memasang foto pertemuan terakhir dengan Syahrul di berbagai kota di Jawa, sebelum dia balik ke Tana Toraja. Laeli, kawan kami instruktur IMM DPD Jogja, sempat ditemui almarhum di Jogja. Faiz, kawan yang sedang les IELTS di Kediri, juga diajaknya ngopi. Bahkan sebelum pulang, berturut-turut dia menemui Uci, Sekum IMM Malang; Barok, Ketua HMP (Himpunan Mahasiswa Pascasarjana) FEB Brawijaya; Mas Ucup, Kepala Sekolah SMPM 2 Malang.

Rasanya seperti Syahrul ”sempat” pamit ke kawan yang lain. Tapi, Syahrul tidak mampir ke rumah selepas mendarat di Bandara Hasanuddin. Sesuatu yang padahal rutin dia lakukan ketika ingin berangkat ataupun pulang ke Malang satu tahun terakhir. Saya seperti merasa, nampaknya Syahrul tidak ingin berpamitan, dia justru ingin saya datang mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Maka, meskipun Ibu saya sempat ragu mengizinkan saya menghadiri pemakaman karena jarak delapan jam perjalanan, saya bersikeras. Kurang lebih jam setengah 12 malam, saya berangkat ke kampung almarhum bersama rombongan juniornya di IMM Parepare. Sesaat sebelum berangkat, saya menunaikan sholat isya. Rasanya salah satu sholat terkhusyuk yang pernah saya lakukan.

Hati saya bergetar mengucapkan “Allahumma Innii Zholamtu Nafsii Zhulman Katsiiran Wa Laa Yaghfirudz Dzunuuba Illaa Anta Faghfirlii Maghfiratan Min ‘Indika Warhamnii Innaka Antal Ghofuurur Rahiim; dan tunduk takut pada bagian “Allahumma inni audzubika min adzabi jahannama, wa min adzabil-qabri,”

Seketika saya merasa tak cukup sebagai manusia jika dibandingkan dengan Syahrul. Saya ketakutan, bagaimana jika saya yang dipanggil bersamaan dengan kawanku ini. Saya tak mungkin mendapatkan kematian yang “ringan” seperti beliau. Bisa jadi dosa yang banyak akan membuat waktu sakaratul maut saya diperpanjang. Tidak seperti almarhum yang hanya sekejap. Menurut cerita beberapa orang, sesaat setelah insiden, nyawa almarhum sudah hilang sebelum sampai di Rumah Sakit.

Di tengah kesedihan, saya merasa Allah sungguh baik memanggil Syahrul dengan cara seperti ini. Kematian yang cepat, damai dan indah. Almarhum, tepat meninggal di hari ulang tahunnya, 21 Februari; juga tepat di kota kelahirannya, Tana Toraja. Padahal dua minggu yang lalu, dia masih melanglang buana di Pulau Jawa. Tapi, Syahrul memilih pulang dengan damai persis pada tanggal dia dilahirkan, juga di tempat persis di mana dia diciptakan.

Almarhum juga pulang dengan niat yang baik; melakukan penelitian demi menyelesaikan tesisnya yang tinggal sedikit lagi. Barok, kawannya sesama magister menganggap Syahrul syahid. Bahkan, meskipun meninggal karena insiden tersetrum listrik, wajah almarhum tak sedikit pun berubah menjadi cacat. Masih putih, tanpa goresan atau luka sedikit pun. Ah, sunguh beruntung!

Sekarang, saya punya role model tentang kematian. Tak perlu mati bergelimang harta. Cukup secara bersahaja dan meninggalkan banyak cerita baik di belakang seperti kawanku ini. Terakhir, selamat ulang tahun ke 27, kawan. Rest In Peace, ya!

Lauhul fatihah.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

4 Comments

  • Cenning
    Posted February 23, 2021 at 10:52 am 0Likes

    Syahrul Ada di hati kita semua, melekat.. !

  • Hendra Hermawan - PMA UB 2019
    Posted February 23, 2021 at 12:32 pm 0Likes

    Kawan yg menginspirasi,.low profile dan teman diskusi yg mumpuni.

    Al.Fatihah buat sohibku ..Syahrul Ramadan…

  • Dayu suhardi
    Posted February 24, 2021 at 5:00 am 0Likes

    Sy mengenal beliau seperti seorang adik… Seorang yg haus akan ilmu… Al faatihah untuk mu dinda..

  • NR
    Posted February 25, 2021 at 1:07 pm 0Likes

    Saya tidak mengenalnya, tapi membaca ini meneteskan air mata. Alfatiha.

Leave a comment