Nobu

Wildan Kurniawan
Suka belajar tapi ngantukan


PUCUKMERA.ID – Di sudut rumah panggung yang kokoh itu seorang perempuan paruh baya terisak tangis menanti anak laki-lakinya yang sudah dua hari tidak ada kabar. Air matanya sudah kering kerontang. Si anak laki-laki yang pamit hendak kehutan, hingga sekarang tak kunjung pulang.

Najo menceritakan kejadian yang sempat membuat dia urung mengizinkan Nobu, anak laki-lakinya, bermain bersama kawan-kawan sedesanya ke hutan. Aku dan orang-orang di sekitar menyimaknya.

***

Waktu itu matahari perlahan kembali di ufuk senja. Seperti biasa, anak-anak kecil bergerombol bermain di bibir pantai. Tanpa alas kaki, sebagian bertelanjang dada, kulit kecoklatan nan eksotis menjadi ciri mereka.

Nobu, putra Najo ada di rombongan itu. Mereka bermain bola pantai, berenang, adu cepat berlari di pasir pantai, dan bergulat di atas pasir yang lembut. Keringat mereka menyatu dengan air laut. Ombak yang bergulung pelan menggugurkan segala kesedihan. Jika pandangan matamu jeli, bisa kau saksikan burung camar terbang rendah di antara awan-awan kemudian hinggap di dahan kelapa menyaksikan keceriaan anak-anak pulau Rinca bermain dengan alam.

Sebelum matahari sempurna tenggelam, anak-anak bersiap kembali ke rumah masing-masing. Nobu menjadi yang terakhir di rombongan. Ia harus membawa bola dan menyimpannya di rumah untuk bermain esok hari, lusa, dan ia harap seterusnya hingga mereka dewasa.

Hari semakin gelap. Anak-anak sudah saling melempar lambaian tangan, tanda perpisahan. Nobu berjalan sendiri menuju rumahnya. Ia di dampingi perasaan lelah, baju basah, dan bola plastik biru putih yang dihimpit di antara perut dan ketiaknya. Masih setengah perjalanan ia akan sampai di rumah. Di belakangnya, seekor naga komodo lapar membuntutinya.

***

“Nobu pergi kemarin siang, sepulangnya dari sekolah. Dia bilang akan pergi bermain ke Pantai” Tangisnya mulai sedikit mereda.

“Kenapa kau izinkan? Dengan siapa saja ia pergi?” tanyaku memastikan.

“Kupikir kemarin hari baik. Ia pergi dengan Dias dan Guter, boleh kau coba cari mereka juga. Siapa tau ada titik terang.”

Aku sedang berkunjung di pulau Rinca ketika secara bersamaan tiga orang anak warga penduduk pulau Rinca hilang sudah dua hari lamanya. Aku duduk bersama Najo, ibu Nobu, penduduk asli pulau ini. Najo lahir dan besar di pulau Rinca, nenek moyangnya termasuk manusia pertama penghuni pulau ini.

Penduduk desa sudah berusaha mencari Nobu, Dias dan Guter. Hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apa-apa selain gerombolan Naga Komodo yang berkeliaran di hutan dan ladang. Tidak ada juga tanda-tanda sobekan kain baju atau apa pun petunjuk yang mengarahkan pada ketiga bocah itu.

Di sela-sela keputusasaannya Najo kembali bercerita. Mungkin untuk mengurangi rasa sedihnya. Kali ini, hanya aku yang menyimaknya.

“Ratusan tahun lalu di pulau ini ada seorang perempuan hamil sangat besar. Perutnya melebihi batas normal perempuan yang sedang bunting. Berjalan susah, berdiri payah. Sepanjang usia hamilnya menua, ia hanya bisa mengaduh sakit di pembaringan.”

Aku mendengarkannya tanpa sepatah kata pun terlewat.

“Tiba saatnya perempuan itu melahirkan. Sang suami menemani di sisinya. Erangan tak terbantahkan yang keluar dari liang tenggorokannya memenuhi seisi pulau dengan kengerian. Kau tahu apa yang keluar dari rahimnya?”

Aku menggeleng.

“Sepasang bayi kembar. Satu manusia normal dengan kulit kuning langsat, rambut hitam pekat, sepasang tangan dan kaki mungil menggemaskan. Saudara kembarnya, seorang atau entah seekor manusia, dengan ekor 20 senti, empat kaki berkuku lancip, kulit bersisik tebal, dan lidah tipis panjang yang menjulur masuk bergantian seperti ular.”

“itu mengerikan” kataku spontan mendengar kalimat terkhir yang keluar dari mulut Najo.

“Malam itu bayi manusia menangis dengan lantang. Suaranya membuat kaget saudara kembarnya. Tiba-tiba, bayi dengan empat kaki berkulit hitam penuh sisik itu lari menuju hutan. Tak Kembali hingga cerita ini usai aku tuturkan.”

“Pernahkah bayi kembar yang kabur menampakkan diri, Najo?”

“Tidak, dia memilih tinggal di hutan hingga orang tuanya dijemput ajal.”

“Dan bayi kembar satunya?”

“Tumbuh besar dan beranak pinak. Kami adalah keturunannya.”

“Lantas, para naga komodo adalah…….”

“Ya, keturunan bayi kembar yang lari kehutan.”

***

Kedatanganku ke pulau Rinca bukanlah tanpa alasan. Mitos tentang sejarah hewan purbakala, Naga Komodo menjadi magnet yang menarik jiwaku mendatanginya. Selain cerita dari Najo tadi, aku pernah mendengar kisah lain dari tanah Naga Komodo.

Alkisah, seorang perempuan pergi berladang. Siang itu hari begitu terik. Ia hendak beristirahat di saung tengah ladang. Tak jauh dari sana seekor Naga Komodo mengawasinya. Ia tak ambil pusing karena keadaan seperti itu sudah lumrah di sana. Naga Komodo dan manusia bersahabat. Namun, sebaik-baiknya kita hidup berdampingan, seekor hewan buas tetaplah hewan buas.

Naga Komodo menyerang perempuan di ladang. Meski taringnya tak sekuat singa, gigitannya di lengan kiri perempuan itu sangat cukup untuk menahan perempuan itu meloloskan diri.

Dengan segala kekuatan, perempuan itu mengerahkan tenag untuk melepaskan diri dari gigitan Naga Komodo. Ia berusaha menendangnya, tapi kakinya seperti menabrak tembok beton. Di hadapannya, sebilah pisau tergeletak. Diambilnya pisau itu dengan tangan kanannya. Naga Komodo sudah masuk ke dalam jangkauan tusuknya, sekali ayun ia bisa melukai dan melepaskan gigitan Naga Komodo dari lengannya.

Alih-alih pisau itu menancap di kepala Naga Komodo, perempuan itu justru membuang pisaunya ke tanah. Ia semakin merintih. Dipandanginya lengan yang mulai koyak, terlintas di kepalanya sebuah pemikiran, “Ia keluargaku, jika ia lapar maka aku harus memberinya makan. Jika dengan memakan lengan kiriku Naga Komodo ini kenyang, maka biarlah lengan ini menjadi saksi ketulusan cintaku pada mereka.”

Tepat setelah ia berpasrah dan menyerahkan lengannya kepada Naga Komodo, penduduk desa datang menyelamatkan. Ia selamat, Naga Komodo pergi dengan meninggalkan lengan kirinya yang terkoyak.

Naga Komodo dan manusia adalah ibarat saudara kandung di pulau Rinca. Mereka hidup berdampingan. Kambing milik warga adalah milik Naga Komodo juga. Mereka berbagi air, berbagi ladang, berbagi wilayah, berbagi oksigen untuk dihirup. Warga pulau Rinca dan Naga Komodo adalah sebaik-baiknya makhluk hidup yang hidup berdampingan.

Sampai tiba saatnya seorang petinggi pemerintahan ingin membuat pulau Rinca menjadi pulau khusus wisata Naga Komodo, tanpa manusia. Kawasan pulau Naga Komodo yang awalnya adalah pusat konservasi akan menjadi destinasi wisata level internasional. Sebagian bergembira, sisanya merana. Para investor mengangkat gelas, penduduk asli menentang keras.

****

Hari ini genap satu minggu Nobu tak ada kabar. Najo masih bersedih di rumahnya. Di bawah rumah kayu yang tidak seberapa tinggi itu kami bercakap lagi. Najo menuturkan sudah dua kali ada orang dari pemerintah pusat datang mengetuk pintu rumahnya. Mereka semua laki-laki dan berkacamata hitam.

“Orang baik dari mana yang bertamu kepelosok desa pakai kacamata hitam? Tanpa senyum pula. Mereka lebih dingin dari es batu,” kata Najo.

“Mereka ingin memisahkan kami dari para Komodo. Mereka tidak mengerti, memisahkan kami dengan Naga Komodo adalah seperti memisahkan ibu dan anak kandungnya.” Najo mengisap rokok yang dilintingnya sendiri. Kepulan asap dengan aroma khas menguar menutupi sebagian wajah Najo.

“Aku tidak ada dendam kepada para Komodo. Aku hanya ingin Nobu Kembali ke rumah. Selamat tanpa cacat.”

Aku sempat terheran, bagaimana mitos kehidupan dari nenek moyang yang sudah ratusan tahun itu bertahan hidup dengan kokohnya. Masyarakat pulau Rinca yang tinggal bersama predator alami itu sama sekali tidak terusik. Mereka justru hidup berdampingan, dan menganggap para Komodo itu adalah bagian dari keluarga mereka. Hidup mereka adalah hidup para Naga Komodo.

Pemerintah sudah datang ke pulau Rinca dan menawarkan hidup yang lebih nyaman kepada para penduduk di sana. Kehidupan baru yang jauh dari gangguan para Naga Komodo. Mereka akan menjamin rasa takut yang dialami warga setiap berjalan sendirian ke hutan akan lenyap, sirna tak berbekas.

“Kau bilang apa kepada mereka?”tanyaku.

“Aku bilang akan memikirkannya.”

Ini adalah kesempatan emas. Kesempatan untuk menjaga kelangsungan hidup keturunan penghuni pulau Rinca. Kesempatan untuk dapat hidup tenang tanpa khawatir sewaktu-waktu Naga Komodo lapar akan datang menyerang, mencakar, dan memangsa. Kesempatan untuk membalas dendam kepada sang Naga Komodo jika memang Nobu telah dimangsa salah satu dari mereka.

“Kapan mereka akan datang lagi?”

“Dua minggu dari sekarang.”

****

Nobu dan dua anak kecil lainnya ditemukan. Lebih tepatnya koyakan baju mereka, dan dua pasang alas kaki yang saling berjarak. Kabar ini segera terdengar di telinga Najo. Begitu cepat bahkan sebelum sepasang mata lunas berkedip. Duduk di pelataran rumah, Najo menangis histeris. Digenggamnya sisa baju milik Nobu yang ia pakai saat berpamitan ke pantai.

Penduduk desa memadati rumah Najo. Sekadar mengucap belasungkawa dan mendoakan putra laki-lakinya bahagia di alam luar dunia.

“Sudah menjadi takdir, sekarang Nobu sedang bermain bersama saudaranya yang berkaki empat.” Najo mencoba menghibur diri.

Di antara para warga aku melihat dua orang asing dengan kemeja dan kacamata hitam berdiri mengawasi kerumunan. Aku menduga mereka adalah orang yang membujuk Najo untuk membantu memuluskan rencana pembanguan wisata Naga Komodo.

“Mereka orang dari pemerintah yang datang tempo lalu.” Kalimat Najo barusan mengonfirmasi dugaanku.

Dua orang utusan pemerintah tidak beranjak dari sudut rumah panggung milik Najo ketika para penduduk lainnya perlahan mulai meninggalkan rumah duka. Mereka justru mulai mendekat dengan langkah ringan yang penuh misteri. Suara pantofelnya mengetuk lantai kayu rumah panggung Najo. Tiap ketukannya menentukan masa depan pulau Rinca. Kini, aku dan Najo hanya terpaut tiga langkah dari dua orang asing itu.

“Ibu Najo, kami turut prihatin atas putra ibu dan dua anak lainnya. Pak Menteri menghaturkan belasungkawa dan doa terbaik untuk mereka.”

“Terima kasih. Itu saja yang ingin kalian sampaikan?” Najo menimpali.

“Untuk saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan warga pulau Rinca. Atas kejadian yang menimpa Nobu, kami berharap ibu Najo dapat mempertimbangkan tawaran kami sekaligus menjadi penyambung lidah kepada warga dalam menyelamatkan keturunan penghuni pulau Rinca.”

“Kau ini bodoh atau dungu? Najo sedang berduka tapi kau masih saja menjadi anjing penjilat penguasa. Nuranimu mati atau harga dirimu sudah dibeli?” aku tidak bisa lagi menahan diri.

Sama seperti Najo, dua orang di hadapanku diam saja. Salah satu dari mereka kemudian mengeluarkan amplop tebal warna coklat dan meletakkannya di meja ruang tamu.

“Untuk ibu Najo, sisanya akan kami berikan jika ibu berhasil membujuk warga lainnya. Kami pamit.”

Mereka lantas pergi begitu saja. Meninggalkan suara derap sepatu pantofel yang semakin menjauh, satu amplop tebal warna coklat di atas meja, dan pertanyaan besar di benak ku bagaimana Najo akan bersikap.

“Tolong kembalikan uang itu kepada mereka saat kamu pergi dari pulau Rinca. Ikatan darah warga dan Naga Komodo tak bisa dibeli. Berapa pun nominalnya,” kata Najo tanpa melihat ke arahku.

Malam harinya aku menginap di rumah Najo. Jelas sekali mentalnya roboh setelah sisa kain dari baju milik anaknya ditemukan terkoyak di pinggir pantai. Tidak hanya baju milik putranya, batin Najo ikut terkoyak juga. Tiada henti ia memeluk robekan kain itu. Menciuminya bak seorang bayi yang baru diturunkan malaikat dari surga.

Najo masih duduk di teras rumah, menatap jalan sepi yang gelap dan udara dingin yang cukup menusuk pori-pori kulit. Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil selimut, dan menyiapkan minuman hangat serta beberapa kudapan.

Meski jalan gelap, rembulan selalu dermawan untuk berbagi sinarnya. Aku menghampiri Najo yang tangisnya  mulai mereda. Setengah tidak percaya dengan apa yang kulihat, aku menjatuhkan baki berisi dua cangkir minuman hangat dan kudapan yang kusiapkan dari dapur. Di bawah sinar bulan, Najo duduk bersimpuh di tanah. Ia memeluk seekor Naga Komodo seukuran dua kali tubuhnya. Sambil sesenggukan ia memanggil nama anak laki-lakinya.

“Nobu …”


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment