Muslim Milenial Waspadai Ideologi Ekstremisme Islam di Media Sosial


PUCUKMERA.ID – RBC Institute Abdul Malik Fadjar bersama Cangkir Opini dan DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur kembali menggelar diskusi rutin yang disiarkan langsung oleh JTV.

Berlangsung di RBC Learning Space, Malang, pada Senin (24/2), acara dengan tajuk Cangkru’an Milenial: Milenial Bicara Perdamaian ini dihadiri oleh 3 narasumber pakar, yaitu Subhan Setowara (Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar), Ustaz Pujianto (Mantan Napiter), dan Nafik Muthohirin (Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang).

Diskusi ini dibuka dengan kejadian terorisme yang sempat menewaskan satu keluarga di Sigi, Sulawesi Tengah. Aksi teror yang terjadi di Tanah Air menambah sederetan peristiwa yang terus-menerus mengusik perdamaian beragama di Indonesia.

Diskusi dimulai dengan Ustaz Pujiono berbagi pengalaman hidupnya terpapar paham radikalisme. Perjalanannya menuju aksi teror dan memahami paham radikalisme dimulai saat ia duduk di bangku SMA hingga pada 2013, saat ia tergabung dengan Jamaah Ansharat Daulah (JAD). Selama 13 tahun, ia tertarik dan mencari tahu sendiri tentang apa yang menjadi keinginannya. Saat itu, ia hanya terfokus pada berita-berita tentang Islam di Palestina dan juga tragedi kerusuhan di Poso. Saat itu, ia meyakini bahwa posisi Islam dan Muslim sangatlah tertindas.

Nafik Muthohirin menyampaikan, anak-anak muda Muslim menjadi golongan yang mudah disasar oleh paham radikalisme, “Mereka bukan tidak memiliki pemahaman tentang Islam. Namun, apa yang mereka pahami tentang Islam masih sekadar doktrin kaku.”

“Gerakan-gerakan yang dikategorikan dengan paham ekstremisme melakukan propaganda dan merekrut anak-anak muda melalui dua hal; media sosial dan halaqah-halaqah,” imbuh pria yang juga sebagai peneliti Equal Access International.

Dita Siska Millenia, misalnya, terpidana teror yang pernah mau menusuk anggota polisi di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok pada 2018. Ia terpengaruh oleh paham teror dari akun-akun yang tersebar di platform Instagram.

Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara juga mengamini hal tersebut. Masa muda, seperti yang ia kutip dari Psikolog Sarlito Wirawan, adalah masa yang paling rentan sekaligus paling potensial terhadap paham radikalisme. “Banyak anak muda yang jadi jihadis bukan karena pencarian kebenaran, akan tetapi karena ego maskulinitas,” kata Subhan.

Namun, Ustaz Pujiono mempunyai alasan tersendiri mengapa seseorang menjadi jihadis, “Yang membuat orang jadi radikal bukanlah masalah sosial-ekonomi yang rendah. Orang menjadi radikal karena memiliki memori buruk di masa lalu. Kemudian, oleh beberapa kelompok dimanfaatkan. Bahwa satu-satunya jalan untuk menus dosa di masa lalu adalah dengan jihad.”

Ketiga pemateri sepakat, bahwa penanggulangan paham radikalisme bisa ditempuh dengan memperbanyak bahan bacaan dan memperbanyak perjumpaan dengan anak-anak muda antar lintas agama, suku dan etnis. Hal ini dilakukan agar untuk saling mengerti dan memahami perbedaan. Karena sejatinya, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengajarkan perdamaian dan menjauhi permusuhan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment