Merayakan Idulfitri Bersama Eric Weiner

Irsyad Madjid
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Jika harus mendeskripsikan makna Idulfitri atau Hari Lebaran, kemenangan dan kebahagiaan mungkin adalah dua kata yang paling kuat. Coba kumpulkan berbagai memori merayakan lebaran sejak kecil hingga dewasa—seperti hadiah baju baru jika berpuasa sebulan penuh atau mendapat bonus THR—dua kata ini akan melekat dengan erat.

Bagi umat Muslim, Idulfitri sering diibaratkan sebagai sebuah akhir dari perlombaan yang akbar—kata akbar menjadi penting, sebab hidup sehari-hari juga sudah penuh dengan persaingan.

Tapi ini adalah perlombaan yang spesial. Bulan Ramadan, momentum awal dari perlombaan ini, menjanjikan sesuatu yang menggiurkan. Hanya dengan berjuang sedikit lebih keras, manusia dijanjikan ganjaran yang justru jumlahnya tidak sedikit. Lantas, membayangkan pahala ini terakumulasi di Hari Lebaran merupakan hadiah kemenangan yang amat menarik.

Pada sisi yang berbeda, Idulfitri juga menyimpan satu konteks yang lain berupa kebahagiaan. Umumnya kemenangan memiliki relasi yang kuat dengan kebahagiaan. Tapi jika hendak ditelaah, kemenangan dan kebahagiaan pada saat Idulfitri sebenarnya datang dari dua hal yang berbeda. Lokus dari kemenangan berada pada hal-hal yang berkaitan dengan religiusitas. Misalnya, imajinasi tentang pahala yang berlipat ganda atau ribuan dosa-dosa yang diampuni. Hal ini membuat manusia seakan sudah sampai—atau jika tidak, sudah sangat dekat—dengan tujuan akhirnya: surga.  

Sedangkan kebahagiaan berada pada dimensi yang lain. Di Indonesia, Hari Lebaran akrab dengan aktivitas sosial berupa pulang kampung atau mudik—bagi yang percaya bahwa dua istilah ini berbeda.  Maka, kebahagiaan di hari raya dominan datang dari dimensi kemanusiaan. Dalam hal ini, interaksi sosial dan kampung halaman adalah sumber kebahagiaan yang signifikan.  Bayangkan saja, tiap tahun diperkirakan hampir 20 juta orang melaksanakan tradisi mudik.

Hal yang kemudian menjadi masalah sebab pandemi melanda. Sudah dua tahun belakangan ini, larangan mudik diberlakukan pemerintah. Walaupun begitu, sebagian memilih untuk menghadapi risiko pandemi dan mengabaikan larangan. Ternyata, kehilangan kesempatan untuk bernostalgia dengan keluarga di kampung halaman adalah kerugian yang lebih besar.

Lantas, apakah kebahagiaan memang memiliki korelasi yang erat dengan suatu tempat tertentu? Sehingga banyak orang yang menafikan bahaya hanya untuk memburu kebahagiannya di kampung halaman masing-masing?

Untuk ini, buku berjudul The Geography of Bliss karya jurnalis asal Amerika, Eric Weiner, menyelami persoalan yang sama. Menjadi jurnalis selama puluhan tahun membuat beliau berkunjung ke berbagai tempat di penjuru dunia. Dari negara yang memiliki kekayaan per kapita yang tinggi seperti Qatar, hingga ke negara di mana kemiskinan tumbuh subur seperti Moldova, negara kecil pecahan Uni Soviet.

Dari perjalanan itu, ditemukan bahwa kebahagiaan menampilkan berbagai macam rupa. Sebab, di luar dugaan, bahagia tak punya rumus yang pasti. Bahkan mengandung kontradiksi. Contohnya, orang-orang umumnya percaya bahwa keragaman memunculkan kebahagiaan. Sebab, menjadi beragam berarti bertemu sesuatu yang berbeda, ataupun baru.  

Namun, beberapa negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi seperti Denmark dan Islandia, justru hidup dalam suatu entitas yang homogen. Belum lagi jika menengok fakta bahwa beberapa tempat yang punya persentase kebahagiaan tinggi, di saat yang sama, memiliki kecenderungan perilaku bunuh diri yang juga tinggi.

Hal ini memunculkan asumsi awal bahwa bahagia tergantung pada tempatnya. Untuk ini, tak kurang dari 10 negara berbeda diarungi oleh Weiner untuk merasa dan memahami variasi dari kebahagiaan. Peta perjalanan tentang negara mana saja yang tepat untuk dikunjungi Weiner, diperoleh dari seorang peneliti Belanda yang mempelajari soal kebahagiaan. Professor Ruut Veenhofen, pendiri dari World Database of Happiness, institusi di mana hasil riset terkait lokasi dan hal-hal yang membuat orang bahagia dirangkum.

Melalui pangkalan data dari Ruut Venhoven, Weiner menginjakkan kakinya ke negara Qatar. Untuk melihat sejauh mana hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan, Qatar adalah negara yang tepat. Beberapa puluh tahun yang lalu, Qatar hanyalah suatu tempat tak bermakna. Jika kebahagiaan adalah tentang rasa nyaman, maka negara berlokasi di gurun pasir seperti Qatar tidak akan pernah mencapai tahap itu. Negara ini lalu mendapat ‘durian runtuh’ karena menemukan cadangan minyak dunia terbesar ketiga di dunia, sesaat setelah merdeka di tahun 1971.

Untungnya, kenyamanan adalah sesuatu yang bisa digapai dengan uang. Weiner mengisahkan, sejak dari bandara hingga hotel tempat dia menginap, pendingin ruangan terlihat di mana-mana. Ketika uang datang ke Qatar, segalanya berubah. Gedung-gedung baru dibangun hingga membentuk suatu kota dan peradaban baru. Sialnya, hal ini membuat koneksi Qatari (panggilan untuk orang-orang Qatar) dengan sejarah masa lalu menjadi terputus. Mereka kehilangan “budaya” manusia gurun.

Manusia, tidak dapat dimungkiri terikat erat dengan dimensi ruang dan waktu. Diketahui, ruang dan waktu adalah dua hal yang sangat berhubungan. Weiner mengutip pendapat: “Tempat adalah ibarat mesin waktu.” Manusia bisa menelusuri kembali sejarah dan budaya masa lalunya dari hasil mengamati sebuah tempat. Itulah sebabnya, mengapa manusia begitu sensitif dengan perubahan kecil dari sebuah tempat yang dianggap bagian dari masa lalunya.

Dalam kasus mudik, percakapan antar sesama warga sering didominasi oleh nostalgia akan tempat tertentu. Biasanya dibuka dengan kalimat, “Dulu pas masih kecil, pemandangan di kampung ini tidak seperti ini…” Bisa disimpulkan, seorang manusia nomaden sekalipun punya kecenderungan untuk membenci perubahan yang terjadi pada sebuah tempat di masa lalunya.

Qatar dan Qatari tentu punya sejarah. Tapi sepertinya sejarah itu dengan cepat dihapus oleh semen dan konstruksi baja baru yang terpasang. Dengan sejarah yang terhapus, orang-orang Qatar juga kehilangan akar budaya serta koneksi dengan asal muasal mereka. Salah satu penduduk bahkan dengan tegas mengatakan, “Qataris had no culture.”

Weiner lalu diceritakan suatu joke khusus tentang kondisi di Ibu Kota Qatar, Doha, hari ini. Suatu ketika, ada seorang penculik yang menyekap anak dari seorang Crazy Rich Qatar, namun dia kesulitan untuk meminta tebusan karena ternyata tak seorang pun yang melaporkan bahwa anaknya sedang hilang. Teman dari penculik itu berkata, “Kesalahan fatal. Harusnya Anda mencuri pembantu orang kaya itu, bukan anaknya”.

Belakangan ini, anak-anak di Qatar tidak dibesarkan oleh orang tuanya, melainkan pengasuh. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan pelajaran berharga soal budaya, sikap patuh dan disiplin. Sejak kecil hidup tanpa dimonitor oleh orang tua, anak-anak ini menjadi tidak peduli pada siapa pun. Kedekatan hubungan antar anggota keluarga yang dulu begitu erat, kini menjadi langka. Kondisi alpa budaya seperti ini tentu bukan indikator dari kebahagiaan.

Tapi apakah dengan tidak punya budaya membuat Qatari sepenuhnya menjadi tidak bahagia?

Belum tentu. Dalam kasus Qatar, kekayaan memang menimbulkan ironi. Meski mengalami misorientasi karena sejarah yang terhapus, tapi di satu sisi, uang membuat Qatari terhindar dari penderitaan (setidaknya). “Money can’t buy happiness but luxury facilitates your happiness,” kata seorang warga Qatar. Kekayaan bukan sumber kebahagiaan. Namun jika digunakan secara tepat, kekayaan akan menjadi jembatan bagi kebahagiaan.

Lantas, apa sumber terbesar bagi kebahagiaan? terdapat banyak kesimpulan yang bisa dipahami. Di Swiss, sumber kebahagiaan adalah kebersihan dan segala sesuatu yang berjalan tepat waktu. Di Thailand, kebahagiaan adalah tidak banyak berpikir. Yang menarik adalah Amerika. Seperti Qatar, Amerika Serikat juga termasuk negara yang kaya. Namun, pada persoalan kebahagiaan, Weiner menemukan definisi ‘Happiness is Home.’

Dengan segala mobilitasnya yang padat (penduduk Amerika tercatat sebagai salah satu pekerja dengan jam kerja yang lebih lama dan bepergian lebih jauh dibanding orang lain di seluruh dunia), orang Amerika menyadari bahwa kebahagiaan terletak di rumah. Demi menemukan ‘rumah’, setiap tahun diperkirakan 40 juta orang Amerika berpindah tempat. Alasannya bisa beragam, namun mayoritas dari mereka ingin berpindah ke ‘tempat di mana mereka bisa hidup lebih bahagia’.

Melihat fenomena ini, Weiner memberi resep khusus untuk ‘ramuan’ kebahagiaan. Uang memang penting, tapi tidak sepenting yang dipikirkan pada umumnya. Yang sangat penting adalah keluarga, juga teman serta kepercayaan, utamanya pada tetangga (bagian ini diperkuat lewat pemahaman Weiner ketika menelusuri kebahagiaan orang Swiss).

Seorang warga negara Bhutan memberi tahu Weiner, “There is no such thing as personal happiness. Happiness is one hundred percent relational.” Hingga pada bagian ini, bahagia punya satu lawan khusus: kesendirian. Oleh sebab itu, rumah menjadi kebutuhan dasar. Sepertinya, hal yang sama adalah alasan paling rasional mengapa tradisi mudik menjadi ritual penting ketika hari raya tiba.

Pada kampung halaman, memori kolektif tentang asal-usul, kebudayaan dan relasi masa lalu diletakkan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment