Menyoal Media Sosial: Antara Esensi dan Eksistensi

Wasis Zagara
Ketua komunitas literasi Forum penulis Muda (FPM) PONOROGO


PUCUKMERA.ID — Sudah hampir satu bulan ini saya mencoba “menjaga jarak” dengan media sosial.  Saya menjajal diri untuk sejenak menjauhdari euforia dunia maya. Bukan karena tidak punya kuota internet, atau tidak ada sambungan wifi, kiat ini saya tempuh lantaran saya merasa kian diperbudak oleh media sosial.

Memang betul, bahwa kecanggihan teknologi—spesifiknya pada ranah informasi dan komunikasi, membawa beragam kemudahan penduduk bumi. Terlebih, untuk kaum jomlo seperti saya.  Sebab, sering kali kesepian tidak kalah mencekik darihukum gantung. Sehingga media sosial dapat menjadi alat pelipur lara untuk mengatasi kesepian para kaum yang fakir cinta tersebut.

Namun, belakangan saya merasa ada banyak hal yang hilang ketika larut dalam pergulatan media sosial. Jiwa dan pikiran serasa terpasung di sana. Mungkin saya banyak melupakan hal yang bersifat esensial dalam hidup, seperti komunikasi dengan orang sekitar, menghargai waktu, memenuhi target, dan banyak hal lain yang cukup terabaikan ketika sudah menggenggam gawai.

Dari berbagai hal yang menggelisahkan, saya mencoba menelaah kembali “apa yang salah selama ini?” Permenungan itu menghasilkan asumsi awal, yakni saya berniat menggunakan media sosial secara bijak.

Saya mencoba mencari beberapa referensi bacaan di  beberapa buku, media siber, diskusi dengan teman, dan mengikuti tips di beberapa kanal Youtube. Hasilnya, saya menemukan satu metode yang cukup menarik untuk dicoba, puasa media sosial.

Puasa media sosial menjadi semacam detox kejiwaan agar kembali bermedia sosial secara “sehat”. Selain itu, puasa media sosial berfungsi menguji seberapa bermanfaat penggunaan media sosial dalam hidup selama ini.

Awal mula saya menerapkan puasa media sosial memang banyak hal yang tidak mengenakan. Merasa kehilangan sesuatu, kesepian, dan bingung mencari hiburan. Namun, eksperimen harus dilanjutkan sampai tercapai satu kesimpulan yang bisa diyakini.

Beberapa hari berikutnya, saya menghapus beberapa media sosial di gawai mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, dan membisukan seluruh status Whatsapp. Rasa kesepian mulaimenggerogoti jiwa begitu semua media sosial telah hilang dari gawai. Perasaan cemas, takut ketinggalan informasi, takut dianggap hilang dari dunia, hingga risau dengan waktu kosong.

Setelah melewati dua hari yang lumayan sepi, saya mengisi rasa kehilangan dengan berbagai macam kesenangan. Salah satu penggantinya ialah membaca buku. Sebenarnya, saya sudah lama gandrung membaca buku, namun kali ini ada perbedaanpada keintiman mengarungi kata demi kata tanpa gangguan notifikasi.

Tanpa interupsi dari akun-akun media sosial itu membuat saya berhasil menghabiskan beberapa buku jauh lebih cepat dari sebelumnya. Menyelesaikan satu buku dalam sepekan ternyata bukan hal sulit jika pikiran fokus pada buku, bukannya silih berganti menatap teks dan gawai secara bersamaan.

​Membaca buku menjadi pengalihan kesenangan pertama. Kedua, saya suka berbincang-bincang, maka saya berniat menjalin keintiman obrolan dengan teman kuliah, rekan kerja dan orang-orang sekitar. Terkadang saya juga ngobrol ngalo-ngidul dengan orang yang duduk di samping saya sembari menunggu nomor antrian.

Saya pun membuat beberapa janji untuk bertemu dengan teman kuliah. Pertemuan dengan teman itu berlangsung di kedai kopi yang dulu menjadi tempat kami diskusi.

Obrolan dengan teman pun menjadi berbeda, ketika tidak membawa gawai tiap kali bertemu mereka. Tak disangka, hal tersebut membuat obrolan terasa lebih hidup. Saya pun baru menyadari ketika benar-benar melibatkan seluruh jiwa dan pikiran secara utuh untuk terlibat dalam interaksi sosial.

Pun ketika saya menjalin perbincangan dengan rekan kerja, keluarga dan kerabat, saya merasa ada banyak hal yangmembahagiakan. Sebab saya menyertakan pikiran dan hati untuk menjalin obrolan yang penuh empati. Obrolan sederhana namun mendalam itu melahirkan berbagai hal mencerahkan dan banyak merubah perpektif dari sebelumnya.

​Setelah tiga puluh hari menjalani laku puasa media sosial, saya merasa tersadarkan bahwa ada berbagai hal yangterabaikan. Ada teman atau sahabat yang memberi “arti” lebihdalam hidup saya, ada keluarga yang perlu kita dengar keluh kesahnya dengan ketulusan dan keluasan hati, ada rekan relasi kerja yang sejatinya bisa lebih dari sekedar rekan kerja, dan berbagai hal indah lain.

​Saya rasa menjaga jarak dengan media sosial dan menggunakannya secara bijak memberi banyak keuntungan, baik soal waktu atau pun kesempatan. Sebelum menjalani puasa media sosial saya merasa seolah-olah kehidupan di masa sekarang berporos pada hal yang ada di media sosial.

Media sosial seperti mencerminkan kabar dunia hari ini.Jika saya tidak mengetahui bagaimana keadaan dunia hari ini, saya merasa menjadi orang yang tertinggal. Semula saya menganggap tombol suka memberi efek kebahagiaan. Namun, kebahagiaan tombol suka itu bersifat sementara.

Padahal kebahagiaan bisa kita peroleh dari berbagai kegiatan menyenangkan lainnya, mulai olahraga, membaca buku, berbincang dengan teman dan keluarga. Saya pikir kebahagiaan semacam itu lebih esensial untuk diterapkan dalam hidup. Jadi, sejatinya kebahagiaan yang nyata itu bisa didapatkan di dunia nyata, lantas kenapa harus mencarinya di dunia maya?


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment