Menyingkap Golan dan Mirah, Misteri yang Melegenda di Ponorogo

Anis Fazirotul Muhtar
Mahasiswi Sejarah & Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


PUCUKMERA.ID — Kabupaten Ponorogo yang terletak di Provinsi Jawa Timur tak hanya memiliki catatan sejarah yang panjang. Daerah yang dulunya bernama Kerajaan Wengker ini juga memiliki sebuah kisah yang legendaris. Kisah ini melahirkan mitos yang sampai sekarang masih dipercaya kebenarannya khususnya oleh masyarakat di kedua desa tersebut (Golan dan Mirah).

Mitos kedua desa ini cukup melegenda di masyarakat Ponorogo. Mitos ini menyebutkan bahwa apa pun yang berasal dari kedua desa tersebut tidak bisa disatukan, tidak ada pernikahan penduduk antar keduanya karena dianggap terlarang dan mendatangkan malapetaka, bahkan air sungai dari kedua desa ini tak bisa menyatu.

Pertanyaan besar kemudian muncul, apa yang sebenarnya terjadi sehingga memunculkan mitos Golan Mirah yang sampai sekarang masih berkembang dan dipercaya oleh masyarakat ?

Tim dari Jawa Undercover mencoba menelisik lebih jauh mengenai cerita ini. Sebuah kesempatan karena dapat berbincang langsung dengan Bapak Sutrisno Hadi yang merupakan juru kunci pertama Situs Setono Wungu yang dipercaya merupakan makam dari tokoh yang ada kaitannya dengan mitos Golan Mirah.

Disebutkan bahwa Situs Setono Wungu merupakan makam dari Joko Lancur, Dewi Amirah, dan Dewi Kencana Wungu. Diperkirakan bahwa makam di Setono Wungu ini sudah ada sekitar 600 tahun yang lalu. Joko Lancur merupakan putra dari Ki Honggolono dari Desa Golan, sedangkan Dewi Amirah dan Dewi Kencana Wungu merupakan putri dari Ki Honggojoyo dari Desa Mirah.

Kronologi atau sejarah awal terbentuknya mitos ini erat kaitannya dengan Joko Lancur dan Dewi Amirah. Ayah dari Dewi Amirah, Ki Honggojoyo memiliki nama asli Shidiq Muslim. Ki Honggojoyo merupakan tokoh yang dituakan di desa Mirah sehingga masyarakat memanggil beliau dengan nama Ki Ageng Mirah. Ki Ageng Mirah merupakan putra dari Ki Ageng Gribig yang masih mempunyai garis keturunan dengan Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Sedangkan di sebelah barat Desa Mirah terdapat sebuah desa yang bernama Desa Golan. Ayah dari Joko Lancur, Ki Honggolono merupakan sesepuh di desa tersebut dan menjadi salah satu pengikut dari Ki Suryo Alam.

Joko Lancur memiliki kesenangan mengadu ayam (sabung ayam). Pada suatu hari Joko Lancur sabung ayam dengan penduduk asli Desa Mirah bernama Suromedjo. Saat sabung ayam berlangsung, ayam dari Joko Lancur meninggalkan arena pertarungan. Ayam itu kemudian lari dan berhenti di pekarangan rumah Ki Ageng Mirah yang saat itu juga Dewi Amirah sedang membatik di situ. Tak disangka ia mengetahui keberadaan sosok lelaki yang terlihat sedang mencari ayam tersebut. Melihat hal itu, Dewi Amirah langsung bergegas masuk ke dalam rumah karena malu dilihat oleh seorang lelaki yaitu Joko Lancur.

Sesampainya di rumah, Joko Lancur terus terbayang-bayang kecantikan dari Dewi Amirah. Ia merasa tertarik dan suka terhadap putri dari sesepuh Desa Mirah tersebut. Berhari-hari Joko Lancur dibuat gundah bahkan ia susah untuk tidur dan makan. Melihat kondisi tersebut, Ki Honggolono menanyakan sebab kegundahan putranya. Joko Lancur pun menyampaikan bahwa dia berniat untuk menikah dengan Dewi Amirah.

Setelah mengetahui sebab kegundahan putranya, Ki Honggolono merasa tidak setuju karena ia sendiri sering memiliki pemikiran yang tidak sepaham dengan Ki Ageng Mirah, ayah dari Dewi Amirah. Akan tetapi, Joko Lancur tetap memaksa dan dia mengatakan lebih baik mati daripada tidak diperbolehkan untuk menikah dengan Dewi Amirah. Dengan berat hati, Ki Honggolono menyetujui permintaan putranya dan berniat melamar putri sesepuh dari Desa Mirah.

Singkat cerita, Ki Honggolono berangkat ke Desa Mirah menemui Ki Ageng Mirah dan bermaksud melamar Dewi Amirah untuk putranya, Joko Lancur. Mengetahui hal tersebut, Ki Ageng Mirah sebenarnya tidak setuju, tetapi jika menolak langsung dikhawatirkan menimbulkan peperangan antar kedua desa. Akhirnya, Ki Ageng Mirah menggunakan siasat dan berusaha menolak dengan cara yang halus lalu memberikan beberapa persyaratan.

Syarat pertama adalah harus mengairi seluruh area persawahan di Desa Mirah dalam waktu semalaman. Sedangkan syarat kedua adalah menyediakan satu lumbung berisi padi dan kedelai lalu membawanya dengan berjalan kaki dari Desa Golan ke Desa Mirah. Meski dinilai berat persyaratan yang diajukan, Ki Honggolono menyetujui persyaratan tersebut.

Ki Honggolono berusaha memenuhi semua persyaratan tersebut. Syarat yang pertama ia menggunakan cara dengan membendung sungai untuk mengairi seluruh persawahan di Desa Mirah. Kemudian untuk syarat yang kedua, Ki Honggolono mencoba membuat siasat dengan mencampur padi dan kedelai dengan tumpukan jerami.

Pada saat Ki Honggolono sudah merasa mencukupi semua persyaratan, kemudian ia dan putranya bergegas untuk melamar Dewi Amirah. Sesampainya di sana, Ki Ageng Mirah menolak lamaran tersebut karena mengetahui Ki Honggolono telah berbohong dan membuat siasat licik dengan mencampurkan padi dan kedelai dengan tumpukan jerami. Ki Honggolono merasa dipermalukan atas peristiwa tersebut hingga mengutuk Dewi Amirah meninggal.

Ki Ageng Mirah langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan ternyata benar putrinya kini sudah jatuh terkapar kemudian meninggal. Bak kisah cinta tragis Romeo dan Juliet, mengetahui hal tersebut Joko Lancur langsung mencabut keris yang ada di belakang punggungnya dan kemudian memilih bunuh diri (meninggal) bersama orang yang dicintainya. Kedua belah pihak sepakat bahwa jenazah keduanya akan dimakamkan di satu tempat yang terkenal saat ini yaitu pemakaman Situs Setono Wungu.

Itulah akhir dari misteri Golan Mirah yang sampai sekarang menimbulkan mitos yang banyak dipercaya oleh masyarakat sekitar. Selain mitos, beredar juga pantangan atau larangan yang masih berlaku di kedua desa tersebut yaitu bagi penduduk Desa Mirah dilarang menanam kedelai dan ketan hitam dan bagi penduduk Desa Mirah dilarang menumpuk bekas tanaman padi. Kita tidak bisa mempercayainya secara berlebihan dan kita juga tidak boleh meremehkan. Percaya atau tidak kembali ke pribadi masing-masing.


Tulisan ini diambil dari sumber video YouTube channel Jawa Undercover:
https://youtu.be/3izAqQGmGtY


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


 

What's your reaction?
1Suka3Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment