Menyikapi Datangnya Hari Ulang Tahun

Hasanuddin Jimly


PUCUKMERA.ID — Ulang tahun kerap menjadi momen yang kita sambut dengan sukacita. Kerabat, teman sebaya, hingga mitra kerja berbondong-bondong mengucapkan selamat atas bertambahnya umur di hari itu. Ada yang sekedar mengucapkan selamat via pesan WhatsApp, ada yang mengirimkan hadiah melalui jasa ekspedisi, hingga rela menyiapkan kejutan demi merayakan “agenda tahunan” ini.

Saya pun termasuk di antara orang-orang yang menantikan hari tersebut. Setidaknya hingga saya menyadari bahwa perayaan-perayaan itu tidak harus saya tunggu. Dewasa ini saya kira ulang tahun hanyalah permulaan putaran baru dalam pacuan di kehidupan manusia. Penuh ketidakpastian. Ibarat seorang pembalap yang menggeber mobilnya, jarak lapangan yang akan ia tempuh semakin berkurang namun pembalap itu belum tahu pasti apakah mampu bertahan menyelesaikan  balapan itu, alih-alih berusaha memenangkannya.

Hari ulang tahun kita anggap istimewa. Barangkali demikian karena selama ini kita terbiasa mendapatkan keistimewaan di hari spesial itu. Boleh jadi saat masih kecil, seringkali kita dibelikan mainan, sepeda baru, atau  mungkin sekedar makanan kesukaan sebagai hadiah. Atau bagi kita yang mulai menginjak usia dewasa, sweet seventeen menjadi seremoni yang banyak diidamkan karena menjadi titik pergantian masa kanak-kanak menuju dewasa. Hal-hal istimewa sepeti inilah yang menanamkan mindset di kepala kita bahwa hari ulang tahun identik dengan sebuah perayaan.

Kita menganggap hari ulang tahun istimewa karena perspektif kita sendiri. Hari ulang tahun sama dengan hari biasa. Waktu tetap berjalan 24 jam. Matahari pun tetap bersinar di siang hari, sementara di malam hari, masih rembulan yang menerangi. Tidak ada yang berubah. Kalaupun toh banyak doa dipanjatkan di hari itu, status kemakbulan doa tidaklah berubah hanya karena hari itu adalah hari lahir kita. Memanjatkan doa-doa baik kepada orang tercinta bisa kita lakukan tiap hari, tidak harus di hari ulang tahunnya. Urusan apakah dan kapan doa dikabulkan, biarlah tetap menjadi hak prerogatif Tuhan Yang Maha Esa.

Lantas  bagaimana baiknya hari ulang tahun disikapi? Sekedar melaluinya sebagaimana hari biasa? Melarang orang-orang merayakan atau mengucapkan selamat kepada kita? Tidak, tidak juga demikian.

Merayakan hari ulang tahun bukanlah hal yang keliru. Itu menjadi keyakinan dan hak masing-masing orang. Kita tidak berhak memvonisnya salah dan memaksa orang lain berpikir sama dengan kita, atau sebaliknya. Selama tidak ada pihak yang dirugikan dan masih berada dalam koridor norma yang berlaku, sah-sah saja anggapan bahwa ulang tahun adalah hal yang seremonial dan patut diperingati.

Tetapi, sampai kapan kita akan melalui hari istimewa itu hanya dengan kesenangan? Umur boleh saja bertambah, tetapi di sisi lain kesempatan untuk hidup semakin berkurang. Berangkat dari sini, mengapa kita tidak mencoba menyelam lebih dalam tentang makna ulang tahun itu.

Pada akhirnya kita sampai pada sebuah kesimpulan bahwa biarlah hari ulang tahun berlalu seperti hari biasa. Tak perlu resah tidak ada hadiah yang sampai di depan pintu rumah kita. Sejatinya napas yang kita hembuskan hingga detik ini sudah merupakan salah satu hadiah yang bahkan kita terima tiap hari. Jangan khawatir dengan hanya ada segelintir orang yang mengucapkan selamat kepada kita. Berharap lebih kepada manusia hanya berujung pada kekecewaan dan sakit hati.

Cobalah memaknai hari ulang tahun sebagai pengingat untuk selalu introspeksi diri dan rekonstruksi visi. Barangkali setahun belakangan, hari-hari yang kita lewati tak lebih dari siklus bangun tidur hingga tidur lagi tanpa ada hal yang bermanfaat. Atau selama ini, kita melalui waktu yang sulit dengan banyak kesalahan yang kita lakukan, sampai-sampai belum tuntas satu masalah selesai, yang lain sudah muncul lagi. Sehingga kita menyadari bahwa perlu pada suatu titik untuk kembali menguatkan pijakan. Di antara titik-titik tersebut, hari ulang tahun menjadi waktu yang memungkinkan untuk melakukannya.

Jadikan hari ulang tahun sebagai pengingat bahwa kita yang sekarang berbeda dengan kita setahun yang lalu. Ingat-ingat juga bahwa umur ini adalah deretan angka yang berjalan mundur. Kita tidak akan selamanya berada pada kondisi seperti saat ini. Maka, terus berusaha yang terbaik sembari menggantungkan harapan pada semesta doa dan berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah pilihan terbaik ketika umur kita bertambah.

Barakallah fii umrinaa.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka2Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment