Menyaksikan Lika-liku Baru Timnas Indonesia

M. Fuadur Roziqin


PUCUKMERA.ID – Kemenangan timnas Indonesia dalam pertandingan kualifikasi piala dunia melawan Vietnam beberapa waktu yang lalu mengukir senyuman indah di wajah para pecinta sepak bola tanah air. Squad garuda asuhan Shin Tae-Yong tersebut berhasil membuktikan kepada dunia sepakbola, bahwa kemampuan timnas Indonesia saat ini bukan lagi di level Asean tetapi sudah berada dalam level Asia.

Kengerian squad garuda ini tak terlepas dari program naturalisasi yang sedang gencar dilakukan oleh pihak PSSI. Tidak main-main, federasi sepak bola Indonesia hanya menaturalisasi pemain keturunan yang diinginkan Shin Tae-Yong sang juru taktik squad garuda. Alhasil nama-nama seperti Jay Idzes, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, dan Justin Hubner yang bermain untuk klub-klub top Eropa ini berhasil digaet untuk berseragam timnas Garuda.

Namun dibalik kemewahan dan kehebatan timnas, kedatangan pemain naturalisasi ini berdampak pada berkurangnya pemain lokal yang menjadi starting eleven. Hingga akhirnya mengakibatkan konflik internal di dalam squad timnas yang terjadi antara pemain lokal dengan pemain naturalisasi. Kejadian itu sempat membuat publik pecinta sepakbola gempar sebab muncul sebuah postingan akun IG resmi timnas Indonesia pada tanggal 4 Januari 2024. Seluruh anggota Timnas Indonesia, termasuk pelatih Shin Tae Yong mengunggah narasi soal persatuan dalam postingan tersebut.

Hanya mengandalkan pemain naturalisasi memang berisiko menimbulkan kecanduan sehingga membuat pemain-pemain lokal kita malah terpinggirkan. Bagi saya, ada statement menarik dari Ratu Tisha yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua umum PSSI. Saat sedang berada di podcast tendangan pisang, beliau berkata bahwa program naturalisasi ini adalah program jangka pendek dan bukan jangka panjang.

“Ya memang benar jika kita terus mengandalakan pemain naturalisasi, kita malah tidak memperhatikan pemain lokal. Tapi jika kita hanya nunggu pemain dari pembinaan itukan prosesnya lama, sedangkan netizen Indonesia meminta timnas untuk menang sekarang. Nah untuk menjawab permintaan netizen pecinta sepak bola Indonesia, ya naturalisasi jawabannya. Ingat, ini bukan untuk selamanya program naturalisasi ini diteruskan.

Saya sepakat. Shin Tae-Yong bukannya tidak mau mencari bakat-bakat terbaik dari negeri tercinta ini, tetapi masalahnya adalah pola pikir pragmatis netizen Indonesia. Orientasi prestasi timnas dinilai berdasarkan hasil dan bukan proses. Sehingga mau tidak mau Shin Tae Yong juga harus mengambil pemain-pemain diaspora yang dinilai cocok dalam taktiknya. Toh, meskipun dia sudah keliling Indonesia untuk mencari pemain belum tentu juga dapat pemain yang diinginkanya.

Kenyataannya memang Netizen Indonesia yang selalu minta instan. Apa-apa harus serba cepat dan hanya senang melihat hasil, bukan proses. Pola pikir pragmatis ketika kalah ganti pelatih dan meragukan pemain lokal, membuat PSSI tak berpikir panjang untuk mengambil pemain Naturalisasi. Padahal pada saat pertandingan timnas kemarin, para pemain lokal seperti Egy Maulana Vikri serta Ramadan Sanata turut berkontribusi untuk menciptakan gol dan membuat timnas Indonesia meraih kemenangan atas Vietnam.

Memang secara kualitas pemain lokal dengan pemain naturalisasi itu berbanding jauh, lantaran pemain Naturalisasi berada di lingkungan sepak bola yang baik dan pembinaan usia muda yang sangat bagus. Klub-klub dari liga Eropa pun mempunyai fasilitas yang memadahi. Hal itulah yang membuat netizen Indonesia sangat gencar sekali meragukan kualitas pemain lokal.
Kualitas pemain lokal yang kurang bagus terjadi karena infrastuktur dan pembinaan sepak bola di Indonesia kurang memadahi. Seperti kata coach Justin di sebuah podcast, bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas pemain lokal bukan hanya infrastuktur saja. Tetapi, kedisiplinan dan pola makan pemain juga sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang pemain.

Coach Justin menambahkan bahwa di Belanda para pemain sepakbola itu dibina ketika umur 6–17 tahun dan nanti dia akan di bawah ke klub profesional atau tim B nya klub-klub Belanda. Contohnya seperti Jong Utrecht, Jong Ajax, Jong PSV dan Jong AZ. Para pemain sepak bola harus siap merelakan masa-masa remajanya hanya untuk bermain sepakbola.

PSSI juga sudah mulai membina pemain-pemain muda ini di ajang EPA, sebuah ajang untuk para pemain muda yang di mulai dari umur U‐10 hingga U-20. Memang ini membutuhkan proses yang lama seperti kata coach Justin. Jika program pembinaan usia muda ini berlanjut hingga 10 sampai 15 tahun kedepan, bisa jadi timnas Indonesia akan menyudahi kecanduan pemain diaspora ini.

Jujur saja, entah kenapa rasanya timnas senior Indonesia sekarang lebih dinantikan penampilannya daripada timnas junior. Padahal dulu penampilan Timnas junior seperti kelompok Bagus Khafi cs, itu sangat dinantikan sekali penampilannya. Bagus Khafi cs mampu membuat para pecinta sepakbola tanah air kagum setelah timnas berhasil memenangkan piala AFF U16 2018 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Apakah ini efek dari penampilan timnas senior yang semakin meningkat kualitasnya? Atau efek dari pemain naturalisasi yang semakin banyak merapat ke timnas?

Sudalah mari kita akhiri membanding-bandingkan antara pemain lokal dengan pemain naturalisasi. Pada kenyataannya kualitas pemain lokal memang timpang karena berbagai faktor. Toh, PSSI juga sudah menyadari kesalahannya dan mulai bergerak untuk memulai pelan-pelan memperbaiki pembinaan usia muda di Indonesia. Bukan hanya masalah pembinaan saja, tetapi liga, perwasitan, dan juga sepakbola perempuan yang pelan tapi pasti sudah mulai dibenahi.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan perkataan Ratu Tisha, bahwa jika kita cinta sepakbola maka kita tidak akan membenci PSSI. Bahwa memang mau bagaimanapun juga, jika ingin sepak Indonesia ini maju, tetap PSSI yang bisa melakukannya sebab PSSI ini ibarat lokomotif sedangkan liga sepakbola, pembinaan usia dini, infrastuktur dan lain lain itu adalah gerbongnya. Gerbong tersebut akan berjalan jika lokomotifnya bergerak.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment