Menulis Perihal Patah Hati

Muhammad Yusril Ihya’ Maksum


PUCUKMERA.ID – Berbicara mengenai patah hati, kalian tahu tidak apa itu patah hati? Setahu saya, patah hati itu suatu kondisi di mana harapan yang diimpikan tidak bertemu dengan kenyataan yang diharapkan. Kondisi tersebut memicu lahirnya patah hati.

Jika dipikir-pikir lagi, setiap manusia tumbuh dan berkembang dengan patah hati. Patah hati, biasanya disebabkan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap suatu hal yang sangat diyakini. Tapi, ada juga patah hati yang bisa kita tebak. Meskipun sudah tertebak dan jauh-jauh hari sudah mencoba merelakan, sakitnya pasti tetap tersisa.

Semua patah hati rasanya datang tanpa diinginkan. Tapi, pernah tidak kita sadar bahwa kita bisa menolak patah hati? Dengan niat kuat, saya yakin hal ini pasti bisa dilakukan. Kita bisa menolak patah hati yang datang seawal mungkin, juga patah hati yang datang saat kita sudah mampu merelakan.

Terdengar seperti sebuah khayalan, tapi bukankah sakit dari patah hati ini adalah sebuah jelmaan dari ketidakmampuan? Sebab, ketika hati sudah mampu melupakan yang lalu, patah hati hanya sebuah bagian dari masa lalu; tidak mengikuti kita di masa depan. Maka, patah hati akan terus ada, hanya kejadian dan fasenya saja yang berbeda.

Saya percaya, patah hati bukan seburuk-buruk fase dalam hidup. Banyak orang yang mampu survive dan berjaya kembali setelah patah hati melanda. Contohnya, beberapa orang yang berhasil membungkus patah hatinya menjadi sebuah tulisan. Beruntungnya, tulisan tersebut laku keras. Banyak yang mengamini kejadian patah hati yang serupa, katanya.

Menulis terkait patah hati bisa dilakukan oleh banyak orang, asal kuat menahan sakitnya. Dalam kondisi tertentu, patah hati bahkan bisa ditulis oleh orang cerdas, tanpa perlu merasakan proses sakit hati. Mereka mampu merangkai cerita patah hati yang begitu dalam tanpa pernah merasakan deru sakitnya.

Saat ini, patah hati yang dituliskan memang mampu menjadi suatu trend kekinian. Ada yang menjadikannya terapi, konten, lahan “cuan” bahkan berubah wujud menjadi ajang perlombaan adu sakti melawan patah hati. Tapi di balik itu semua, lari dari patah hati memang banyak variasinya. Usaha apapun yang kita lakukan, entah merelakan atau balas dendam, intinya tetap saja bagian lari dari patah hati.

Bahkan, menghadapi patah hati juga termasuk lari dari patah hati, loh. Mana ada orang yang akan tinggal di situ-situ saja bersama patah hatinya? Jelas-jelas sakit, mending ditinggal lari menjauh. Para manusia ini meskipun berbeda pandangan dan latar belakang, mereka tetap satu paham perihal patah hati, yaitu sakit dan susah sekali untuk diakhiri.

Saya yakin, orang sakit yang sakti adalah orang mau menuliskan ulang sakit hatinya. Dia akan melawan kembali memori-memori lama yang tidak ingin ia kenal kembali. Mengulang lagi ingatan terkait bagaimana bisa ia dipukul habis-habisan oleh fakta. Semakin ia selami, semakin ia terhujani. Menulis dengan tinta, yang berkucur malah tangis dari pelupuk mata.

Maka, menjadi penulis perihal sakit hati memang luar biasa. Menulis deru sakit hati itu pahit, apa bagian bahagianya?  Tapi, justru karena hal ini, setiap kata yang dirangkai akan menjadi sumber informasi pembaca bahwa sakit hati itu nyata adanya. Entah mereka yang mengalami ataupun tidak, menuliskan hal terkait patah hati bukanlah sebuah komedi. Mari kita apresiasi.

Jadi, bagaimana? Sudah siap menuliskan kisah patah hatinya?


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka6Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment