Menjadi Wartawan adalah Mimpi yang Tak Mudah!

Nur Fahmi Nur
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Setelah melibas habis buku karya Nasihin Masha berjudul Jungkir Balik Pers, saya jadi ingat masa lalu yang pernah ingin menjadi seorang wartawan.

Dulu, bagi saya dunia pers dan jurnalistik menyenangkan. Mewawancarai orang, foto sana sini, datang ke tempat-tempat baru, bertemu orang baru, mengenakan kartu pers keren dan tentunya mengenakan seragam yang bisa dibanggakan.

Waktu di SMApun salah satu cara saya untuk bisa masuk dunia pers dan jurnalistik adalah dengan bergabung di salah satu club pers sekolah. Walaupun ketika kuliah tidak melanjutkan karena ada beberapa kesibukan yang membuat lupa akan mimpi menjadi seorang wartawan. Tapi bagi saya dunia pers tetap menyenangkan.

Setelah membaca buku Nasihin Masha, saya jadi yakin bahwa dunia pers itu menyenangkan. Apalagi bagi orang yang menggelutinya dengan ikhlas. Bekerja berpuluh tahun adalah bukti bahwa pers itu menyenangkan, setidaknya itu pendapat saya terhadap Nasihin Masha setelah membaca bukunya.

Menyenangkan bagi saya memiliki arti berbeda waktu masih duduk dibangku kuliah dan sekarang. Ketika bangku SMA, saya hanya merasa dunia pers itu keren dan hebat serta bisa menjadi kebanggaan, bonusnya dapat pacar. Tapi pengertian pers yang menyenangkan lebih kepada kehidupan yang penuh tantangan.

Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut saya tahu bahwa kehidupan pers menyenangkan.Buktinya, bagaimana para wartawan ketika demo melawan represi sampai video dokumentasi dari watchdoc. Tapi membaca karya Nasihin Masha membuat saya menjadi tambah yakin bahwa kehidupan pers itu menyenangkan.

Dalam bukunya, Nasihin memaparkan banyak hal yang tidak saya tahu tentang dunia pers. Salah satunya adalah jurnalis pipa. Saya mengutip dalam bukunya halaman 78 “Jurnalisme yang membiarkan media –koran, majalah, televisi, radio atau web-hanya dijadikan tempat menyalurkan “informasi” layak disebut jurnalisme pipa. Semua boleh lewat, asal ada yang bicara dan ada tanggapan baliknya. Media massa bukan tempat penyaluran, media memiliki eksistensi dan jati dirinya sendiri.

Media massa adalah institusi sosial yang memiliki peran, fungsi, dan kedudukan sendiri. Semua informasi belum berarti benar dan semua informasi belum tentu sebuah berita. Dalam praktik jurnalistik diharamkan untuk menebak dan berasumsi, apa lagi hanya soal kepentingan.

Bukankah hari ini kita melihat begitu banyak sekali media yang akhirnya melakukan jurnalisme pipa ini dari yang besar sampai media yang kecil. Semua informasi yang keluar dijadikan berita. Media akhirnya menjadi tempat penyaluran informasi, tentunya fenomena ini hadir dari kebutuhan perusahaan pers untuk tetap hidup.

Banyaknya berita menjadi salah satu syarat untuk portal berita mendapatkan iklan, tidak peduli kualitas beritanya abal-abal. Bahkan berapa kali saya menemukan berita yang tidak perlu kita baca isinya cukup judulnya saja sudah bisa mengetahui isi berita itu. Saya mengatakan seperti ini, bukan berarti saya hanya membaca judul, tapi sudah membaca keseluruhan isi berita, pada akhirnya sampailah pada kesimpulan tidak perlu membaca isinya.Walaupun tidak semua berita seperti itu.

Mengutip lagi dari buku Nasihin, halaman 79 “Tradisi tak lahir seketika, ia lahir dari keseharian di rel jurnalisme sejati. Butuh wartawan-wartawan andal dan berkarakter. Jurnalisme dalam praktik bukanlah sains, tapi seni karena insting dan keterampilan kadang lebih membimbing daripada pengetahuan dan kecerdasan belaka. Karena itu pula, jam terbang menjadi relevan dalam konteks ini”

Dari sepotong baris tulisan inilah, ketika saya di tanya, “Apakah masih mau menjadi seorang wartawan?” jawaban saya “mau, tapi mungkin masih lama sampai kesana” Saya mungkin masih butuh untuk menumbuhkan insting, juga wawasan.

Banyak membaca juga menjadi kunci menjadi wartawan yang baik. Banyaknya kosa kata di kepala dari hasil membaca membuat kita bisa menjadi wartawan handal. Kemampuan dalam dalam mengolah kata juga menjadi kunci penting, seperti dibilang oleh Nasihin, jurnalisme bukan sekedar pada kecerdasan dan pengetahuan, jurnalisme adalah seni, insting dan intuisi.

Menumbuhkan insting dan intuisi tidak bisa dilakukan dengan beberapa hari saja, atau beberapa bulan, dibutuhkan waktu lama untuk menempanya. Menulis berita tentunya sangat berbeda dengan menulis cerita apalagi menulis buku harian. Maka bagi saya untukmenuju kesana butuh waktu yang lumayan lama. Dan, saya juga tidak tahu masih mau berjalan menuju  apa tidak. Hahaha.

Dari buku Nasihin saya jadi tahu bahwa dalam satu hari, pers bisa menghasilkan ratusan berita. Pada halaman 37 sub-tema “banjir informasi” dijelaskan bahwa pada masa kejayaan koran, ada sekitar 100 sampai dengan 140 berita. Berbeda lagi dengan media daring yang bisa menghasilkan lima ratus hingga seribu lima ratus berita. Contohnya adalah republika.co.id yang bisa menyuguhkan 700 berita perharinya, sedangkan detik bisa menghasilkan 1500 berita perharinya.

Bukan banjir informasi lagi ini namanya, tapi tsunami informasi, masyarakat butuh evakuasi yang benar dan tepat agar tidak tergulung gelombang informasi yang begitu besar. Karena penasaran, saya mencoba membuka portal berita detik.com, saya coba hitung. Di angka 68 berita, saya berhenti. Daripada menghitung berita sampai ratusan, mending saya selesaikan tulisan ini.

Pada penutup tulisan ini, saya ingin mengutip lagi satu paragraf keren dari buku Pak Nasihin Masha pada halaman 79-80, berbunyi “Menjadi wartawan itu semacam tugas kenabian. Ia menyampaikan kebenaran dan kabar gembira. Karena itu, jurnalisme pipa merupakan pseudojurnalisme, jauh dari tujuan kebenaran. Ia menjadi jurnalisme seolah-olah. Jurnalisme pipa menjadikan jurnalisme begitu berisik, hanya ramai dimulut, tapi tak berarti apa-apa bagi kemasalahan sosial.”

Panjang umur pers dan jurnalisme indonesia. Sampaikanlah kebenaran untuk masyarakat indonesia!


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment