Menjadi Kampiun di Hari Ulang Tahun

Akhmad Fadhillah Juliansyah
Santri Gontor


PUCUKMERA.ID – Waktu memang selalu begitu, dia terus melaju tanpa kenal rasa ragu. Detik berkumpul bersama menjadi menit, menit berganti jam, jam demi jam berlalu bersama hari dengan semua kenangan yang ada di dalamnya. Begitupun fase hidup manusia. Sebagai makhluk biasa hanya bisa berdiam sambil menyadari, bahwa dahulu kaki ini tak siap untuk melangkah hingga kini bisa menuntun seseorang untuk bersama melangkah.

Berawal dari kelahiran penuh suka dan gembira hingga kemudian dijemput malaikat membawa kabar kematian penuh duka dan lara. Seperti itulah fitrah manusia sebagai makhluk, akan selalu bertumbuh dan berkembang hingga kemudian kematian datang.

Meskipun dibekali dengan keistimewaan akal dibandingkan makhluk hidup lainnya, nyatanya manusia sering kali bersikap naif. Ingin berlama-lama hidup di dunia padahal sangat mustahil ada dzat yang kekal di kolong langit ini. Rasa cinta kepada dunia dengan segala yang ada di dalamnya berupa lingkungan bahkan hubungan sering kali membutakan akal manusia kalau kelak harus pergi. Rasa cinta ini seolah menggerakan hati dan jiwa untuk terus megabadikan momen dan kejadian yang dialami selama hidupnya, salah satu diantara kejadian yang paling berkesan adalah ulang tahun. Hari di mana kita mengingat kembali di mana kita pertama kali menghirup udara suci dunia, siap untuk memulai perjalanan panjang mengarungi dunia yang fana.

Momen ulang tahun rasanya menjadi salah satu momen dalam setahun yang begitu ditunggu. Betapa tidak, sehari dalam setahun kita seolah menjadi raja yang paling berkuasa minta apa pun selalu bisa. Hingga yang paling idealis adalah dapat berbagi kebahagiaan bersama keluarga maupun sahabat. Namun, tidak semua keluarga memiliki persepsi yang sama tentang ulang tahun, karena perbedaan budaya, cara hingga agama.

Ada keluarga yang begitu mengisitimewakan hari ulang tahun setiap anggota keluarga, ada pula yang menganggap hari ulang tahun sebagai hari biasa. Perayaan ulang tahun pun tidak selalu sama, ada yang merayakannya dengan berdoa namun ada juga yang menggelar pesta. Pun dengan sebutan ulang tahun, semakin berkembang zaman yang merayakan ulang tahun bukan hanya manusia, namun perusahaan, sekolah bahkan negara pun merayakan hari lahirnya. Istilah seperti dirgahayu, dies natalis, harlah hingga haulid jadi pembungkus acara peringatan hari lahir perusahaan, institusi, bahkan hingga negara.

Teknis perayaan ulang tahun tidaklah butuh untuk dikaji bahkan untuk ditulis apalagi dipamerkan. Yang terpenting dari ulang tahun adalah memahami hakikat ulang tahun tersebut ketimbang sibuk dengan protokol perayaan hari ulang tahun itu sendiri. Hari ulang tahun harus menjadi tonggak perubahan, cermin introspeksi hingga tempat memanjat resolusi di usia yang kian bertambah hitungannya namun berkurang pada hakikatnya.

Momen untuk menata kembali rencana-rencana hidup ke depan, sembari mengkaji apa kekurangan di tahun-tahun sebelumnya, karena hakikatnya hidup adalah tentang berkembang. Apabila hari kemarin kita hanya bisa memberi kepada 1 orang, maka hari ini kita harus bisa memberi kepada 2 orang, demikian juga di hari esok kita harus bisa memberi 3 orang. Dengan analogi seperti ini tentu kualitas hidup akan selalu meningkat.

Lalu bagaimana jika yang demikian indah itu tidak terwujud, atau kita belum bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin, bahkan tahun kemarin? Jawabannya adalah dengan terus memacu diri mejadi versi yang lebih baik dari kita saat ini, satu menit, satu jam bahkan satu hari yang lalu. Motivasi ini akan membantu mendorong kita berbuat lebih dan akan menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lalu bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, kalau di usia yang sekarang tujuan hidup kita saja belum jelas? Menjadi makhluk yang dianugerahi dengan akal, tentunya membuat kita menjadi spesial, mari pergunakan kelebihan ini untuk mematok garis-garis demarkasi tujuan hidup kita di masa depan. Sebagai manusia kita harus punya tujuan yang hendak kita capai dalam hidup, hingga membuat kita mencurahkan segenap perhatian untuk menggapainya juga untuk menjalin kerja sama bersama mereka yang mampu membantu kita mewujudkan kita.

Hingga kita merasakan kenikmatan dalam berusaha, yang terlahir dari usaha mewujudkan tujuan-tujuan yang sudah kita gariskan sebelumnya.  Seorang Filusuf kenamaan asal Iran bernama Ibnu Miskawayh berpendapat mengenai definisi kebahagiaan, menurutnya kebahagian adalah tercapainya sebuah tujuan yang sudah digariskan dengan derajat yang sempurna.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut yaitu dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut dengan terampil. Maka, tentukan tujuanmu, tuliskan langkah-langkah mencapai tujuanmu, rencanakan setiap langkahmu dengan matang, cintai pekerjaan yang kamu lakukan untuk mencapai tujuanmu, dengan demikian kamu akan merasakan kebahagian yang tiada tara.

Mari jadikan momen ulang tahun untuk kembali menata tujuan-tujuan hidup sembari mengenal diri kita lebih dalam, karena mengenal dan mencintai diri sendiri lebih utama daripada mengenal bahkan mencintai orang lain. Dengan demikian, kita sudah bisa menjadi kampiun (pemenang) di hati kita sendiri sebelum kita melangkah ke kompetisi kehidupan yang lebih keras dan tegas.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
28Suka55Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment