Memudarnya Eksistensi Filsafat dalam Dunia Pendidikan

Muhammad Fadhiel Sagita Razak


PUCUKMERA.ID— Pendidikan bukanlah perihal menyiapkan kehidupan yang akan datang, pendidikan adalah hidup itu sendiri. Jika pendidikan hanya perihal menyiapkan yang akan datang, saya bisa mengatakan bahwa pendidikan adalah hal yang pragmatis.

Filsafat itu sendiri sebuah hal yang sangat memiliki peran penting sebagai transfer of knowledge dan transfer of values. Pendidikan menyertakan filsafat di dalamnya, ontologi merupakan objek materi, epistemologi sebagai hakikat dari ilmu pengetahuan itu sendiri, dan aksiologi sebagai bentuk dari transfer of values dalam pendidikan. 

Filsafat bagi Jean Paul Sartre dapat digunakan sebagai dasar pijakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Sartre, manusia adalah individu yang bebas. Namun kebebasan yang dimilikinya selalu terbatas dengan fakta akan adanya kebebasan individu lain. Manusia bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual.  Belajar menjadikan manusia sebagai otonom dan menyadari adanya orang lain sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya.

Sedangkan pembebasan itu sendiri dalam perspektif Paulo Freire berarti tidak ada paksaan. Oleh karena itu, kata lain dari bebas adalah merdeka. Artinya tidak ada belenggu sebagai penghalang ruang gerak manusia. Sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan pembebasan seperti yang dikatakan Freire adalah usaha sadar yang dilakukan manusia dalam mendidik manusia menjadi individu yang sadar terhadap sekelilingnya. Dari sikap merdeka tersebut mampu memberikan berbagai kontribusi dalam kehidupan yang dijalani.

Saat ini saya sendiri bisa mengatakan bahwas pendidikan tidak berkembang sama sekali, entah dalam taraf nasional, internasional apa lagi jika dikaitkan dengan filsafat. Dalam pendidikan sekarang tidak ada pengembangkan kebijakan ataupun daya nalar kritis dari seorang murid. Pemerintah tidak memandang peningkatan daya nalar ataupun pola berfikir dari seorang murid. Pendidik hanya berkutik atau terjebak dalam teks,

Sekarang ini pemerintah harusnya bisa menyusun kurikulum yang bisa memancing atau memicu daya nalar kritis dari setiap siswa, bukan hanya membicarakan hal yang berbau teknis dan mekanis. Jadi, setiap anak bisa mengkritisi setiap hal yang dia pelajari, mengapa mempelajari ini, bagaimana materi ini bisa terbentuk, dan bagaimana kebenaran dari materi ini.

Kurangnya dialog atau komunikasi antara peserta didik dan guru dalam pembalajaran menyebabkan mereka menjadi apatis dan menerima saja apa yang diberikan oleh guru. Seharusnya peserta didik mampu mengembangkan pemikiran kritisnya pada hal tersebut. Menurut Freire, segala bentuk penindasan dalam pendidikan harus dihapuskan. Dengan adanya pendidikan yang membebaskan akan membuat peserta didik mampu mengembangkan pemikiran kritis.

Pendidikan dan filsafat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Filsafat bagi pendidikan berperan sebagai pedoman yang memberikan arahan dan tujuan pendidikan. Sedangkan pendidikan bagi filsafat merupakan suatu ‘ruang’ yang selalu memberi tempat untuk hidup dan terus berkembang melalui kegiatan-kegiatan teoritis maupun praktis dalam pendidikan.

Sebenarnya, pendidikan merupakan miniatur dari kehidupan, jadi seharusnya apa yang dijarkan guru adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan. Bukan memisahkan keduanya. Seperti halnya pendidikan struktur sosial, pendidikan ini sangat penting, karena dapat menyadarkan murid tentang eksistensi seseorang dalam masyarakat. Murid harus tahu bagaimana seharusnya dia bertindak, memposisikan diri, dan menyadarkan murid bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang diharapkan untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.

Revitalisasi tentang filsafat pun sangat penting sekali dilakukan. Bisa dikatakan bahwa filsafat sebagai dasar atau pondasi pola pikir yang bisa membentuk anak atau siswa untuk memiliki pemikiran kritis. Saya sendiri merasakan jika mempunyai sebuah landasan filsafat sangat penting, dasar filsafat bisa kita masukkan dalam mata pelajaran sekolah menengah atas. Dengan adanya dasar pemikiran yang sudah dimiliki, siswa bisa mengetahui objek formal yang dia pelajari, siswa bisa mencari tahu hakikat dan mengkritisi objek yang dia pelajari, dan mereka bisa menerapkan hal yang sudah dipelajari.

Idealnya, pendidikan yang di berikan oleh pendidik harusnya bisa menyelesaikan masalah yang sedang atau akan dihadapi oleh siswa. Bukan sebaliknya, justru menambah masalah pada siswa itu sendiri.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment