Mbah Sabdo

Irfan Anas
Agen Diplomasi RI untuk TimurTengah dan Dunia Islam


PUCUKMERA.ID – Tidak ada yang mengenalnya dengan jelas. Siapa lelaki tua itu sebenarnya? Dari mana asalnya? Di mana keluarganya tinggal? Satu pun tak ada yang tahu. Orang-orang hanya tahu satu hal belaka; lelaki tua itu Mbah Sabdo, si Penunggu Pasar.

Di Pasar ada sebuah bilik kecil yang biasa ditinggali seorang lelaki tua. Usianya kisaran 70 tahun, perawakannya kecil, rambutnya gondrong serba putih, pakaiannya compang-camping. Mbah Sabdo bukan orang gila, kendati sekilas terlihat seperti orang gila. Sebutan Mbah Sabdo sebenarnya bukan nama asli dari lelaki tua itu. Orang pasar saja yang biasa memanggilnya demikian. Mungkin karena ia biasa berkhotbah di pasar. Bukan berkoar soal agama, lebih pada soal kehidupan dan kesejatian. 

Hampir saban harinya, Mbah Sabdo makan dari pemberian orang yang iba melihat penampilannya yang tampak melas itu. Walaupun sebetulnya, Mbah Sabdo tak pernah mengemis sekali pun pada orang yang ada di pasar.

“Urip kuwi kudu urap lan urup!”

Suatu pagi saat pasar sedang ramai-ramainya, Mbah Sabdo mengatakan sabdanya dengan suara serak yang agak lantang. Orang-orang yang ada di pasar tak ada yang merasa aneh, lebih-lebih risih dengan tingkah Mbah Sabdo. Memang itulah kerjaan yang biasa dilakukan Mbah Sabdo di pasar.

Di tengah riuk tawar-menawar dan ramai pasar yang sedang hidup-hidupnya, seseorang nampak bergeming menerjemahkan apa yang diucap Mbah Sabdo itu. “Hidup itu harus bercampur dan menyala” gemingnya pelan. Entah apa yang ia dan orang lain tafsirkan dari perkataan Mbah Sabdo itu. Saban hari apa yang diucap Mbah Sabdo selalu berbeda, isinya nasehat dengan bahasa Jawa. Bahkan tak jarang, ada yang pergi ke pasar hanya untuk mendengar petuah yang diucap Mbah Sabdo.

**

Pernah suatu hari ada keributan kecil di pasar. Seseorang tertangkap sedang berusaha mengambil tas seorang wanita yang sedang berbelanja. Para laki-laki yang mengetahui segera menyergap si maling, hendak menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Di tengah keributan, Mbah Sabdo berteriak, “Sing maling ben maling, ben tibo polahe dhewe!”

Teriakan Mbah Sabdo itu menggugurkan niat para lelaki yang tangan dan kakinya telah siap meninju dan menyepak si maling. Tak ada seorang pun yang akhirnya menghardik fisik si maling.

Semua mata tertuju pada Mbah Sabdo yang tengah berdiri di atas dipan kecil depan bilik tempatnya tinggal, “Ben uculke wae maling e, ben tibo ben ora nggratil meneh tangane!”

Maling pun dilepas, lantas terbirit enyah dari pasar. Suasana pasar kembali tenang setenang Mbah Sabdo kembali ke dalam biliknya.

**

Keesokan hari setelah kejadian itu, ada kabar yang tersebar di pasar. Kata orang, simaling tempo hari itu tertabrak mobil di perempatan tak jauh dari pasar. Si maling mengalami patah tulang di bagian tangan. Tak heran si maling itu mengalami nasib naas setelah Mbah Sabdo menyumpahinya. Kejadian seperti itu juga kerap terjadi, saat setelah ada yang tak beres di pasar. Makanya orang yang biasa ke pasar tak pernah berulah. Orang yang biasa berulah dan membuat keributan, tak lain ialah orang baru yang tak biasa ke pasar itu. Orang pasar menyebutnya “orang luar”.

**

Pernah juga suatu ketika ada begundal tak diundang datang ke pasar. Si begundal itu jelas bukan orang dari sekitar pasar, entah bau teri atau yang lain-lain yang mengundangnya. Tiba-tiba saja ia memalak setiap pedagang dan orang yang ada di pasar. Membuat sebuah keributan baru. Para kaum lelaki di pasar tak ada yang berani melawannya, ia tampak sangar dan menakutkan dengan tattoo naga berwarna merah menyala di lengan kirinya.

Mbah Sabdo yang saat itu terlihat sedang duduk bersila di dalam biliknya tiba-tiba keluar saat si begundal yang besar badannya itu membentak minta uang ke pedagang ikan di samping bilik Mbah Sabdo.

“Sopo kowe ora ono sing ngundang teko-teko nggawe perkoro?”

Si preman itu tercengang bukan kepalang tiba-tiba ada lelaki tua yang tak pernah ia lihat berteriak padanya. Entah dari goa mana pak tua itu muncul, pikirnya.

“Sopo kowe, Mbah. aku ora ngajak ngomong kowe, kono lungo! Aku yo ora njaluk duwitmu!”

“Kono minggat ojogawe rusuh neng kene, neng omahku! Tobat, tobat anak bojomu pengen berkah!”

Entah kenapa tiba-tiba saja si begundal itu enyah dari pasar, meninggalkan uang hasil palakannya begitu saja.

**

Beberapa hari setelahnya, salah satu pedagang di pasar melihat si begundal berada di sebuah pesantren, saat pedagang itu menjenguk anaknya yang belajar di sana. Karena heran dan merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pedagang itu menghampiri si preman.

“Lho, bukannya sampean yang memalak di pasar itu, ya?”

“Lho, kok bapak tahu?”

“Saya salah satu pedagang di pasar yang sampean palak juga.”

Astaghfirullah, mohon ampun atas kelakuan saya yang bejat itu, Pak. Tiap malam, saat tidur, setelah saya pulang dari pasar itu, saya selalu mimpi buruk. Saya dikejar-kejar orang tinggi besar badannya hitam yang membawa besi semacam gadha di tangannya. Saya sangat gelisah dan ketakutan akibat mimpi-mimpi itu, akhirnya saya datang ke pesantren ini. Saya ingin bertobat. Ingin jadi orang benar. Maafkan saya Pak.” Sangat terasa aneh jika orang segarang itu memelas ciut.

Alhamdulillah itu artinya sampean dapat hidayah, Mas. Gusti Allah masih memberi jalan dan kemudahan buat sampean, biar sampean menginsyafi kesalahan di masa lalu.”

“Iya, Pak. Ini mungkin akibat saya bertemu Pak Tua yang ada di pasar itu. Gusti Allah memberikan hidayah lewat perjumpaan saya dengan pak tua.”

“Itu Mbah Sabdo, Mas, si penunggu pasar. Meski terlihat tak terawat, tapi sebenarnya dia wali.” Pedagang itu lantas menyalami si preman dan berlalu pergi meninggalkannya.

**

Barangkali ada benarnya apa yang dikatakan pedagang itu. Mbah Sabdo sebenarnya adalah seorang wali. Mbah Sabdo ialah seorang sufi di zaman modern yang semakin serba tak jelas ini. Sufi yang bertapa menamatkan ma’rifatnya di pasar. Mengapa pasar? Mungkin karena pasar identik dengan keramaian, hiruk-pikuk dan silang-sengkarut.

Segala macam orang ada di pasar dengan segala tabiatnya. Mbah Sabdo ingin merenung, mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan cara itu, berada di tengah gumulan orang dengan berbagai tingkah dan ulah. Menyampaikan petuah kepada orang-orang yang sedang terlena oleh dunia, oleh urusannya sendiri-sendiri. Hingga Mbah Sabdo sendiri meninggalkan dunianya yang sebelumnya, dunia yang menyilaukan dan membuat banyak orang terlena dan terbuai. Akhirnya Mbah Sabdo mencari dunianya sendiri, dunia kezuhudan yang hanya dilalui oleh orang-orang pilihan. Dunia para sufi dan wali.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment