Mas Kabul, Mas Basar, Pak Tarya, dan KH Syukri Ghozali Serta Mimpi Akhakul Karimah Umat Manusia

Nur Fahmi Nur
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Percakapan antara Pak Tarya, Mas Kabul dan Mas Basar setelah salat Jumat begitu menarik perhatian saya. Mereka bertiga mengobrolkan masalah materi khutbah salat Jumat yang dibawakan oleh khatib. Berbeda dengan Pak Tarya yang semangat mengikuti obrolan, Mas Kabul terlihat ogah-ogah dan mencoba menghindar. Mereka membahas tentang sabda Nabi yang berbunyi, “Aku tidak diutus ke dunia, kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia.”

Mas Basar dan Mas Kabul bisa dibilang mantan aktivis. Diskusi sudah menjadi makanan sehari-hari mereka ketika mahasiswa dulu. Dan, pembahasan soal sabda Nabi ini menjadi diskusi yang menarik bagi mereka berdua, yang akhirnya membuat Pak Tarya tertarik.

“Perhatikan kata “kecuali”. Dengan demikian, kita yakin bahwa tujuan keberagamaan kita adalah penyempurnaan budi luhur. Sedangkan kelima rukun itu hanya sarana untuk mencapai tujuan itu. Sarana atau jalan atau syariah. Tapi sepenting-pentingnya syariah, dia hanya jalan. Bukan tujuan.” jelas Mas Basar.

“Saya, sih, tak bakalan ikut bila ada gerakan yang hanya akan berhenti pada tegaknya Syariah” balas Mas Kabul.

“Kok?” tanya Pak Tarya penasaran.

“Ya karena penegakan syariah kan istialah yang kurang pas.” balas Mas Kabul.

“Bila tujuan beragama kita sudah bergeser dari penegakan akhlak ke penegakan Syariah, penyimpangannya bisa jauh sekali bukan?” tanya Pak Tarya.

“Penyimpangan itu sudah menggejala di mana-mana. Iya, kan? Ritus-ritus agama, ya manifestasi penekanan pada syariah itu, kelihatan semarak. Kajian agama, dari tabligh akbar sampai siraman rohani melalui siaran radio dan televisi diselenggarakan pagi dan sore. Namun ramai-ramai penyelenggaraan ritus, ya tampaknya hanya berbuah kesalehan ritual.” jelas Mas Basar.

“Tunggu sebentar, lalu apa yang kita tuju?” tanya Pak Tarya lagi.

“Ya sesuatu yang berada di seberangnya, yakni kesalehan sosial. Ini yang sering kita pertanyakan. Maka kalau ada orang bertanya mengapa orang yang sudah saleh dalam menjalankan ritus-ritus agama masih juga korupsi.” jawab Mas Kabul.

Percakapan Jumat kali ini sungguh menarik. Membahas bagaimana koneksi antara akhlak yang luhur dan syariah sebagai jalan beragama.

Tindakan ogah-ogahan dan menghindar dengan percakapan soal sabda Nabi ini bukan karena Mas Kabul tidak menyukainya, tapi karena sudah bosan membahas ini. Pada kenyataannya akhlak manusia masih begini-begini saja. Apalagi di tempatnya kerja, yaitu proyek pembangunan jembatan. Dia melihat begitu banyak kecurangan dan permainan di dalamnya, yang tentunya menyampingkan akhlak yang luhur.

Sehingga di tengah percakapan, Mas Kabul izin pamit dan meninggalkan Pak Tarya dan Mas Basar yang lanjut membahas masalah sabda Nabi ini. Mas Basar mencoba menjelaskan tindakan Mas Kabul yang ogah-ogahan ini kepada Pak Tarya, “Saya tahu dia jenuh. Dia dan saya termasuk orang yang ingin melihat budi luhur sebagai tujuan dan milik orang beragama. Kabul kecewa akan kenyataan yang tidak demikian. Di proyek yang sedang digarap, Kabul menghadapi permainan-permainan kotor yang dilakukan oleh mereka yang resmi mengaku beragama, sudah pula ditatar dengan pedoman pengamalan Pancasila. Tetapi mereka tetap serakah. Anggaran, fasilitas, maupun barang-barang proyek, yang sesungguhnya milik rakyat acap kali menjadi bahan bancakan.”

Percakapan kali ini penuh isi. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa banyak sekali orang beragama tapi tidak memiliki akhlak yang baik. Terlebih, yang menjadii trend sekarang ini adalah yang berilmu juga tidak berakhlak. Banyak sekali kita temui. Tidak perlu jauh-jauh, kita dipertontonkan dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat Kementerian Agama yang berkolaborasi dengan DPR Komisi VIII pada 2011-2012. Beberapa orang tersebut terbukti melakukan korupsi pengadan Al-Qur’an dan laboratorium madrasah. Al-Qur’an loh ini, sebuah petunjuk bagi umat manusia, bisa-bisanya dikorupsi.

Sempat ramai pula kasus Romahurmuziy yang terjerat kasus jual-beli jabatan di Kementerian Agama tahun 2019. Ada lagi? Tentunya ada. Pada 2005, penyalahgunaan biaya haji dan dana abadi umat yang menjerat menteri agamanya, Said Agil Munawar dan mantan Dirjen Bimas Islam dan penyelenggara haji, Taufik Islami. Lalu ada kasus yang rame dibahas; tindakan tidak senonoh (re: korupsi) yang dilakukan oleh mantan Menteri Agama, Suryadharma Ali. Beliau melakukan korupsi penyalahgunaan dana haji dan biaya operasional Menteri.

Ini baru di Kementerian Agama. Yang lainnya? Tentu masih banyak lagi.

Pastinya, perilaku mereka sudah sangat jauh dari tujuan Nabi diutus ke dunia ini. Apalagi kalau kita melihat Kementerian Keagamaan dengan kasus-kasusnya. Mereka yang harus memberi contoh tentang bagaimana menjadi manusia beragama yang baik, malah memberi contoh buruk.

Saya jadi ingat buku yang baru saja saya baca, Ilmu Jiwa Agama. Ketika remaja, anak-anak akan sering memberontak terhadap pemahaman beragama. Karena ketika kecil mereka diajarkan bahwa mencuri itu dosa, berbohong itu dosa, dan semua perbuatan buruk adalah dosa. Tapi, ketika mereka remaja dan melihat orang dewasa melakukan itu seperti hal yang biasa, mereka jadi mempertanyakan ajaran agama yang didapatkan ketika kecil dulu. Miris.

Berbicara masalah akhlak, kita tidak bisa menyangkut pautkan hanya dengan kasus korupsi yang menghinggapi para pejabat. Tapi ucapan yang kasar dan tidak baik juga masuk dalam penegakan akhlak dan budi luhur serta menjadi tujuan utama Nabi diutus ke dunia ini.

Kita akhir-akhir ini sering dipertontonkan dengan banyaknya pemuka agama yang tidak segan-segan mengucapkan kata-kata hinaan kepada orang. Memaki bahkan mengumpat orang tanpa kenal ampun. Seolah apa yang diucapkan adalah sesuatu yang benar dan tepat. Padahal, itu adalah sebuah kekeliruan.

Surah Thaha ayat: 43-44 mengatur tentang hal tersebut, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut.” Bahkan Allah SWT menyuruh Nabi Musa untuk menemui Fir’aun. Perintah Allah adalah berbicaralah dengan kata-kata yang lemah lembut. Kepada Fir’aun saja Allah masih memberi perintah untuk memberitahu secara lemah-lembut, dengan kemungkinan Fir’aun akan berubah dan bertobat.

Saya jadi teringat lagi buku, Imu Jiwa Agama, bahwa Ketika anak-anak masih belia, kita harus melakukan pengenalan Tuhan dengan sifat-sifat baiknya seperti penyayang, pengasih, pelindung, bukan sifatnya yang maha kejam, menghukum. Karena anak-anak masih membutuhkan rasa aman dan nyaman.

Satu lagi pedoman saya menulis tulisan ini adalah hasil wawancara wartawan Panji Masyarakat kepada K.H. Syukri Ghozali yang terlampir dalam Majalah Panji Masyarakat September 1981. Kala itu, para khatib selalu diminta untuk memberikan teksnya terlebih dahulu kepada yang berwajib, ini dimaksudkan agar tidak ada ucapan atau perkataan buruk dan provokatif yang muncul.

Maka KH Syukri Ghozali memegang 4 ayat Al-Quran sebagai pegangan bagi para khatib. Pertama, adalah Ali-Imran: 159, tentang berlakulah lemah lembut dalam berdakwah. KH Syukri berkata, “Sikap keras yang tidak pada tempatnya itu hanya akan mengakibatkan orang semakin menjauh dari kita.”

Kedua, Surah An-Nahl: 125, tentang berdakwah itu harus bijaksana. Ketiga, Surah Thaha: 24 dan 44 serta Surah Fushilat: 34 yang artinya “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”

Sungguh KH Syukri Ghazali ini sangat bijaksana sekali. Memang pantaslah beliau disebut sebagai pemuka agama karena kebijaksanaannya. Inilah mungkin apa yang diharapkan oleh Mas Kabul dan Mas Basar, bahwa mereka yang mengaku beragama, harus memiliki akhlak dan budi yang luhur, serta bijaksana dalam tindak-tanduknya di kehidupan ini.

Oh iya. Sebagai penutup, saya ingin memberitahukan bahwa percapakan antara Mas Kabul, Mas Basar dan Pak Tarya ini terdokumentasikan baik di dalam novel karya Ahmad Tohari berjudul “Orang-Orang Proyek”. Sangat bagus untuk dibaca, gass~


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment