Ledakan Populasi, Alarm Terganggunya Keteraturan Lingkungan

Holy Ichda Wahyuni
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Lingkungan hidup yang kita kenal sebenarnya sudah memiliki segala keteraturan secara alamiah. Jika kita mau mengamati lebih dalam, simbiosis antara makhluk satu dengan lainnya saling terhubung sedemikian rupa. Bahkan di antara unsur yang hidup atau yang biasa kita kenal dengan unsur biotik dengan unsur tak hidup bisa ditemukan interaksi yang saling memengaruhi. Disadari atau tidak, kesatuan ekosistem di alam ini sangat peka. Jika ada satu saja atau beberapa keteraturan yang tengah terganggu, alam akan memberi alarm melalui serangkaian kejadian-kejadian.

Tentu kita juga tak asing bukan, dengan istilah rantai makanan? Ya, selama ini kita mengenal rantai makanan dari materi IPA bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Rantai makanan familier di benak kita dengan gambaran berbagai jenis makhluk hidup yang dihubungkan dengan anak panah. Sebab rantai makanan menggambarkan sebuah peristiwa perpindahan materi energi dari mahluk hidup satu ke makhluk hidup yang lain melalui proses makan dan dimakan.

Kita tahu bahwa Tuhan dengan segala kehendak-Nya menciptakan keteraturan di alam mulai dari unsur paling mikro tentunya tanpa kesia-siaan. Jika kita mau membayangkan sejenak, bagaimana para golongan tumbuhan menghasilkan energi untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup pemakan tumbuhan. Kemudian dilanjutkan dengan interaksi yang sama oleh makhluk hidup di tingkatan tropik selanjutnya, dan begitu seterusnya hubungan makan dan dimakan ini berlangsung hingga makhluk akhirnya bisa tetap bertahan hidup.

Pernahkah kita berpikir dampak apabila salah satu dari elemen dalam rantai makanan sengaja ditiadakan, atau terjadi pemusnahan dalam jumlah besar? Ya, kejadian demikian bukan tidak mungkin akan terjadi. Terkadang hal itu dilakukan oleh pihak tertentu dengan alasan bahwa spesies tersebut dianggap merugikan kehidupan manusia. Nahas, tanpa perhitungan panjang, justru ini adalah awal dari ketidakteraturan di lingkungan.

Terjadinya Ketidakstabilan Populasi

Kita mengenal istilah ledakan populasi sebagai sebuah permasalahan yang sering dihadapi suatu wilayah atau negara. Sebenarnya apa saja, sih, penyebab terjadinya ledakan populasi? Ledakan populasi menjadi sebuah tanda ketidakstabilan lingkungan terjadi, dan hal itu berarti juga bahwa alam sedang terganggu.  

Kejadian ini bisa dikatakan cukup mengerikan, yakni ketika salah satu spesies mengalami peningkatan jumlah secara drastis, bahkan memenuhi berbagai tempat dan mengganggu aktivitas manusia. Contoh kejadian yang pernah terjadi di sekitar kita seperti ledakan populasi tomcat, atau ledakan populasi ulat bulu yang meresahkan masyarakat.

Baru-baru ini media pemberitaan juga tengah dihebohkan dengan terjadinya wabah tikus di Australia. Penduduk New South Wales kalang kabut menghadapi serangan wabah tikus beberapa bulan terakhir. Bahkan wakil perdana menteri menyatakan perang melawan hewan pengerat yang mewabah itu.

Dilansir dari laporan CNN, serangan wabah tikus ini telah membawa kerugian besar bagi negara, khususnya bagi masyarakat. Bagaimana tidak, hewan pengerat yang berjumlah jutaan itu telah merusak lahan pertanian, menggerogoti hasil panen warga, bahkan memenuhi alat-alat pertanian.

Lebih parah lagi, tikus-tikus tersebut juga menyerang rumah-rumah di Australia Timur, dari perbatasan Victoria di selatan sampai ke negara bagian Queensland di utara negara itu, menggigit warga yang tidur, menyebabkan kebakaran karena menggigit kabel listrik.

Jika ditilik dari faktor penyebab, memang bisa jadi penyebabnya multi faktor. Di antaranya faktor cuaca. Pemerintah Australia mengungkapkan, cuaca basah ini mendukung peningkatan jumlah panen biji-bijian di Australia. Di lain sisi, ketersediaan makanan yang melimpah ini juga memicu ledakan populasi tikus dan memacu siklus reproduksinya.

Selain faktor cuaca, sebenarnya ada faktor lain yang juga tak kalah disoroti oleh beberapa media. Dilansir dari Hasan (2019) dalam media tirto.id mengungkapkan bahwa dua tahun lalu Guardian merilis sebuah hasil penelitian Dr. Sarah Legge dari University of Queensland. Penelitian tersebut menyatakan bahwa populasi kucing liar telah memadati 99,8 % daratan Australia. Kondisi ini dianggap akan mengancam spesies endemik Australia.

Menghadapi kegalauan tersebut, akhirnya pada pertengahan Juli 2015 pemerintah Australia menggalakkan program genosida kucing liar. Targetnya dua juta kucing liar pada 2020. Upaya ini dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari penembakan dalam perburuan besar-besaran yang menuai kendala karena mobilitas kucing liar yang cukup gesit.

Cara lain yang ditempuh oleh pemerintah Australia adalah dengan penyemprotan racun ke tubuh kucing liar melalui alat otomatis yang dilengkapi kamera infra red (Sydney Morning Herald). Cara ini menuai tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Pada 2016 pemerintah Australia telah berhasil membantai kurang lebih 211.000 kucing liar, dan terus digalakkan agar mendekati target yang dikehendaki.

Kejadian genosida kucing liar di Australia ini juga sempat menuai kontra dari para cat lovers serta pemerhati lingkungan. Pasalnya, selain eksploitatif, tindakan ini juga tak beradab. Belum lagi terkait pertimbangan dampak jangka panjangnya. Kucing liar merupakan salah satu spesies yang menjadi pemangsa dan pengendali populasi tikus dalam rantai makanan.

Kehawatiran tersebut pada akhirnya terjadi, ledakan tikus tidak dapat dielakkan. Alam dan segala keteraturannya telah membuktikan, bahwa satu saja elemen di alam yang terusik keseimbangannya, maka hukum kausalitas tak dapat dihindari. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak pihak, bahwa interaksi makhluk hidup dalam ekosistem tidak bisa dianggap sepele.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


 

What's your reaction?
1Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment