Le Mythe d’Icare

Moch. Aldy MA
Penerjemah, kreator sekaligus kurator puisi


/1/

Pantheon hancur lebur, serupa Yunani kontemporer yang dihantam inflasi. Namun akan aku ceritakan kembali, perihal Yunani Kuno: Homer; Diogenes dari Sinope; Thales dari Miletus; Xenophanes dari Colophon; Alcmaeon dari Croton; Zeno dari Elea; Tyrtaios dari Sparta; Archilochos dari Paros; Solon dari Athena.

/2/

Akan aku ceritakan kembali, romantika: Hipponax dari Ephesos; Stesichoros dari Himnera; Sappho dari Mytilene; Anakreon dari Teos; Pindar dari Thebes; Aeschylus, Sophocles, Euripides, Alkaios, Mytilene, Aesop, Hesiod, Herodotus, Thucydides, Demosthenes, Menander, Socrates, Aristoteles, Pythagoras sampai pada tokoh-tokoh Grika yang tak pernah dianggap ada.

/3/

O sayang, betapa kita dan Mitologi Yunani pernah benar-benar bernyawa, benar-benar menyala kemudian padam—setelahnya, Sisyphus berhenti mendorong batunya—setelahnya, Apollo larut dalam tangisnya hingga menenggelamkan Dionysus beserta kemabukannya.

/4/

Setelahnya, langit-langit di atas Zeus yang gagah tiba-tiba ambruk—lautan-lautan yang tenang di tengah-tengah Poseidon, karam—dunia-dunia bawah di bawah Hades perlahan-lahan mengirap tanpa sisa.

/5/

Di kegelapan bumi, seumpama bunga, cahaya layu tepat di atas tangkainya sendiri. Semasih bunga daffodil menandai kelahiran kembali. Sekali lagi, Hiraeth tersesat di sayu matamu; seperti pengembara yang tak ingin pergi.

/6/

Setelahnya, bunga iris dari Elysium berguguran saat musim semi, memudarkan simposium dan waktu—setelahnya, api yang telah dicuri Prometheus hilang seperti Atlantis—yang ditulis oleh Plato dalam buku Timaeus dan Kritias yang melegenda.

/7/

Mungkin benar, bahwa beberapa kota yang hilang—terlalu indah untuk ditemukan kembali. Mungkin juga benar, ternyata beberapa hal terlalu sempurna untuk menjadi nyata di muka bumi.

/8/

Namun adakah musim semi bagi air mataku yang mengalir, lalu membanjiri kolam tempat tenggelamnya Narcissus beserta obsesinya sendiri? Dari Athena sampai ke Kreta, bulan menyinari kemenangan Sparta. Dengan lilin dan bulu, aku menantang takdir dan gravitasi.

/9/

O sayangku, di sisa-sisa detik yang tersisa dari waktuku—aku memutar piringan hitam petanda nostalgia: Terbang menuju ibu kota hatimu adalah kejatuhan yang disengaja.

/10/

Dan pada akhirnya, segala yang bermula pasti berakhir—akhir dari puisi ini, aku hanya ingin berkata: bahwa aku mencintaimu lebih dari aku mencintai Yunani dengan segenap mitologinya;  bau garam di Laut Aegea; sinar matahari, kejatuhanku dan diriku sendiri.

(2021)


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
3Suka5Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment