Kuncup Pasrah yang Menengadah

Intan Gandhini
Sedang belajar menulis dengan cinta


PUCUKMERA.ID — Hujan semalam menyisakan rerintik embun di kelopak zinnia. Sejuk pandang saat menyapa kuncup mungil tengah membuka matanya. Seakan menatapku seraya berkata, “Hai…”

Pagi ini tidak terlalu terik. Sang surya masih malu-malu untuk tampil pada pukul tujuh. Kiranya saat yang tepat untuk mengafirmasi diri sendiri sambil sesekali membelai lembut daun cemara.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan sejengkal lebih sempurna dari beberapa ciptaan yang lain. Hebatnya, Allah menitipkan akal dan hati kepada manusia supaya tetap merasa seimbang, ego beserta nalurinya. Entah mengapa rasanya menjadi manusia adalah anugerah yang tidak ternilai. Dan tentu ini adalah bentuk syukur sebagai makhluk-Nya, dengan cara tetap menjaga segala hal yang dititipkan, termasuk hati.

Saya pernah berada pada fase menyerah atas suatu hal yang membuat saya sangat berambisi. Ambisi yang pernah saya punya ini berhubungan langsung dengan istilah “hidup melawan arus”. Pasti kita semua sudah sebegitu paham tentang makna “hidup melawan arus” yang saya sebut di sebelumnya.

Impian yang telah kita punya sejak lama memang sewajarnya harus diwujudkan. Harapan yang kita bangun harus bisa berdiri tegap sebagai sebuah kenyataan. Dan saya, mungkin, adalah satu dari sekian banyak manusia yang berfikir seperti itu.

Memiliki keinginan yang kuat untuk kemudian bisa meraihnya adalah hal yang tidak pernah berhenti saya upayakan. Saya punya satu tujuan yang hingga saat ini belum tiba disana. Bukan karena saya tidak berjuang, namun saya hanya merasa bahwa tidak selamanya melawan arus itu mudah untuk dilakukan.

Mimpi saya bukan tergolong dalam suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Bukan pula sesuatu yang aneh di mata orang lain. Saya pun yakin bisa meraih mimpi itu. Namun, Allah memang belum berkehendak untuk memberikan kesempatan kepada saya.

Saya pernah sangat berambisi untuk bisa mendapatkan apa yang saya inginkan tersebut. Bahkan saya tergolong dalam kategori perempuan yang pantang menyerah. Lingkungan saya mengajarkan betapa penting semangat juang itu dihidupkan. Dan kamu tau? Saya telah seringkali jatuh bangun hanya demi mencapai impian itu. Tapi lagi-lagi, Allah belum mengizinkan.

Hingga pada suatu malam selepas sholat berjama’ah di mushola terdekat, saya disapa oleh sosok ibu yang usianya sudah cukup tua. Tanpa prasyarat-praduga, ibu itu menasehati saya sambil berjalan pelan.

“Hidup tidak selamanya tentang keinginan kita, namun adakalanya kita mengikuti keinginan Sang Pencipta. Jangan terlalu banyak ambisi, hingga lupa dengan esensi diri. Jangan selamanya melawan arus demi mencapai keinginan, namun coba mengikuti arus yang telah disiapkan. Semangat nduk..”

Sederhana. Tapi sesuai dengan apa yang sedang saya rasakan. Mungkin karena naluri seorang ibu itu kuat, hanya dengan melihat saja sudah bisa menerka apa yang sebenarnya dipikirkan seseorang.

Dan dari nasehat tersebut saya seperti disadarkan. Rasanya gusti Allah sebegitu mudahnya memberikan saya hidayah melalui seorang ibu yang tidak terlalu dekat dengan saya.

Saya menjadi yakin bahwa ketika belum bisa meraih apa yang saya impikan sejak dulu, bisa jadi saat ini adalah waktu yang tepat untuk saya agar mengalir mengikuti arus rencana dan jalan dari gusti Allah. Tidak bisa disangkal atau dihindari. Sebab memang ini semua adalah keinginan Allah, bukan hanya keinginan saya sendiri.

Mengikuti arus juga tidak selamanya buruk, kan? Banyak asumsi dari orang sekitar saya bahwa menjadi pribadi yang mengikuti arus itu tidak asik, hanya bisa berserah-pasrah, tidak memiliki tujuan yang jelas, bahkan di-cap sebagai pribadi yang tidak mau berjuang. Apakah benar-benar sefatal itu?

Ketika kita berdiri di atas ambisi yang terlampau tinggi, diiringi dengan ego dalam diri, rasanya jika tidak tercapai yang ada hanyalah sebuah kata “menyalahkan” diri sendiri, dan itu cukup sakit.

Kita tidak hanya akan merasa down namun lama kelamaan juga akan menyalahkan keadaan, merasa bahwa Allah itu tidak adil, dan banyak kemungkinan buruk lainnya. Dampaknya pun sangat besar, secara tidak langsung akan membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menerima suatu kenyataan.

Mengikuti arus lebih tepatnya saya artikan sebagai sikap menerima dalam menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan. Tidak menuntut lebih. Menerima semua takdir dengan ikhlas dan mampu memperbaiki kesalahan yang ada dengan tetap berjalan memandang ke depan.

Bagi saya, ada kalanya kita menjadi pribadi yang demikian. Sebab tidak selamanya berambisi itu baik—untuk kesehatan jiwa lebih tepatnya. Serta semua itu haruslah terus diupayakan, harus terus dipelajari. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang tenang menghadapi apapun takdir dari-Nya.

Semoga.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka2Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment