Kontribusi Ideologi M. Anas Zarqa Terhadap Perekonomian Masyarakat Terdampak Covid-19

Intan Cahyati


PUCUKMERA.ID – Penyebaran virus corona menyebabkan kematian kepada penderita dengan proses virus yang masa inkubasinya terjadi dalam tubuh selama 14 hari. Virus corona selain menyebabkan kematian juga berdampak negatif bagi perekonomian negara.

Ada tiga dampak besar yang disebabkan oleh virus Covid-19 bagi perekonomian Indonesia. Dampak yang pertama yaitu menurunnya konsumsi rumah tangga. Dampak yang kedua yaitu adanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada berhentinya UMKM. Dampak yang ketiga yaitu ekonomi dunia yang mengalami pelemahan sehingga berakibat pada turunnya harga komoditas dan ekspor Indonesia ke beberapa negara berhenti.

Pagebluk ini tidak dapat diselesaikan hanya mengandalkan kebijakan pemerintah saja. Kerja sama yang baik diperlukan antara pemerintah, masyarakat, lembaga pengelola dana ZIS dan lembaga wakaf dalam memanfaatkan ZISWAF dengan maksimal agar memberikan kontribusi dalam penanganan dampak covid-19.

MUI menetapkan fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang pemanfaatan harta zakat, infak, dan sedekah guna penanggulangan wabah Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya. Pemanfaatan zakat mengandung beberapa ketentuan yaitu, pendistribusian zakat produktif dalam bentuk tunai atau barang untuk stimulasi kegiatan sosial ekonomi fakir miskin yang terdampak Covid-19. Contohnya kebutuhan pokok, penyediaan APD, disinfektan dan obat-obatan yang dibutuhkan oleh relawan yang bertugas dalam penanggulangan Covid-19.

Konsep ekonomi Islam Muhammad Anas Zarqa

Konsep distribusi kekayaan dalam Islam berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme. Karena Islam sesuai dengan al-Quran yang mengandung nilai-nilai moral dan etika; kemanusiaan, simpati, pengampun dan kedermawanan dan amal.

Muhammad Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi distribusi itu sebagai suatu transfer dari pendapatan kekayaan antara individu dengan cara pertukaran (melalui pasar) atau dengan cara lain, seperti warisan, shadaqah, wakaf dan zakat.

Dari definisi yang dikemukakan oleh Anas Zarqa di atas, dapat diketahui bahwa pada dasarnya ketika kita berbicara tentang aktivitas ekonomi di bidang distribusi, maka kita akan berbicara pula tentang konsep ekonomi yang ditawarkan oleh Islam.

Hal ini lebih melihat pada bagaimana Islam mengenalkan konsep pemerataan pembagian hasil kekayaan negara melalui distribusi tersebut, yang tentunya pendapatan negara tidak terlepas dari konsep-konsep Islam, seperti zakat, wakaf, warisan dan lain sebagainya.

Menurut Manan, distribusi dibagi menjadi dua yaitu distribusi kekayaan dan distribusi pendapatan. Distribusi pendapatan yang dimaksudkan di sini ialah pemanfaatan faktor produksi seperti upah, laba dan sewa. Sedangkan distribusi kekayaan ialah distribusi untuk mengurangi kesenangan antara kaya dan miskin melalui zakat.

Pendistribusian zakat di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2011 Pengelolaan Zakat pada Pasal 25 dan 26. Pasal 25 mengatur bahwa zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai dengan syariat Islam. Pasal 26 menjelaskan bahwa pendistribusian dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan dan kewilayahan.

Distribusi zakat dalam Islam terdapat dalam Qs. at-Taubah: 60. Dalam ayat tersebut, distribusi zakat ditentukan kepada delapan asnaf yaitu fakir miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, fisabililah dan ibnu sabil. Ketentuan tersebut menjadi hak mutlak untuk diimplementasikan karena telah diatur oleh dalil al-Quran yang merupakan pedoman utama hidup manusia.

Zakat merupakan sebuah ibadah yang tercakup dalam rukun Islam ketiga. Dari segi pelaksanaannya, zakat merupakan kewajiban sosial bagi para aghniya’ (hartawan) setelah kekayaannya memenuhi batas minimal (nishab) dan rentang waktu setahun (haul).

Di antara hikmah disyariatkan zakat adalah untuk mewujudkan pemerataan keadilan dalam ekonomi. Sebagai salah satu aset lembaga ekonomi Islam, zakat merupakan sumber dana potensial strategis bagi upaya membangun kesejahteraan umat. Oleh karena itu al-Quran memberi rambu agar zakat yang dihimpun disalurkan kepada mustahik (orang-orang yang benar-benar berhak menerima zakat).

Zakat dengan kata lain dapat digunakan sebagai pendorong dan pengendali perekonomian agar tercapai falah (kesejahteraan lahir, batin, dunia dan akhirat) baik generasi sekarang ataupun yang akan datang.

Potensi zakat atas kondisi perekonomian Indonesia di masa pandemi

Pagebluk yang meluas di berbagai negara di dunia menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Semua masyarakat baik lembaga maupun individu turut serta dalam penanggulangan Covid-19. Salah satu lembaga yang berperan dalam membantu mengatasi dampak Covid-19 yaitu lembaga sosial seperti Baznas dan lainnya.

Potensi zakat yang begitu besar dibutuhkan pengelolaan yang baik dan benar karena pada dasarnya konsep pengelolaan zakat telah disyariatkan oleh Allah dalam Qs. at-Taubah: 103. Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat dari pada muzaki yang dihimpun oleh amil hukumnya wajib.

Meluasnya pandemi Covid-19 di Indonesia menimbulkan permasalahan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Aspek ekonomi yang berdampak pada sektor rill dan sektor keuangan. Aspek kesehatan yaitu adanya darurat kesehatan karena Covid-19 menyebabkan kematian dokter dan pasien.

Aspek pendidikan berdampak pada kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak maksimal karena KBM dilaksanakan secara daring. Aspek keagamaan menimbulkan terjadinya penutupan tempat ibadah sehingga kegiatan keagamaan harus dilaksanakan di rumah masing-masing. Aspek sosial yaitu adanya saling curiga antar individu karena adanya social distancing guna mencegah penularan Covid-19.

Sebagai pengelola zakat yang mendapat amanah, kita mempunyai tanggung jawab untuk mensejahterakan mustahik sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Oleh karena itu, meski dalam suasana pandemi pengelola zakat tetap melakukan pendistribusian dengan menerapkan protokol kesehatan agar menjaga amil dan penerima manfaat dari tertularnya virus Covid-19.

Penyaluran zakat pada masa pandemi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat terdampak, misal pemberian masker guna untuk mencegah penularan Covid-19, penyemprotan disinfektan yang dapat menghilangkan atau membunuh berbagai virus maupun bakteri di permukaan benda mati, pemberian APD menjadi salah satu kebutuhan wajib tenaga medis yang digunakan untuk melindungi diri pada saat bersentuhan dengan pasien yang terinfeksi virus Covid-19.

Dan tak lupa pemberian paket logistik keluarga yang diberikan kepada keluarga yang membutuhkan akan pangan belum terpenuhi karena kondisi yang sulit pada masa pandemi.

Berbagai dampak Covid-19 yang telah diuraikan di atas, maka keberadaan lembaga sosial sangat penting dan menjadi salah satu solusi yang dapat mengatasi dampak tersebut. Distribusi pengelolaan zakat saat pandemi menjadi harapan bagi masyarakat yang kesulitan secara ekonomi. Adanya pandemi, banyak mustahik baru disebabkan karena pemutusan kerja bagi buruh dan kehilangan konsumen bagi pelaku usaha.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
4Suka10Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment