Konsumsi Susu: Konsep Usang Perihal Perbaikan Gizi Anak

Nindia Syamsi

Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Hari Gizi Nasional (HGN) baru saja diperingati dua hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 2024. Perayaan Hari Gizi Nasional tahun ini mengangkat tema “MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting”. Isu stunting masih menjadi salah satu masalah gizi prioritas di kalangan tenaga kesehatan, sebab terjadi peningkatan risiko terjadinya stunting sebesar 1,6 kali berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Apalagi belakangan topik peningkatan gizi anak terutama stunting juga menjadi pilihan populer sebagai materi kampanye politik para kandidat calon presiden untuk mendulang suara pemilih.

Salah satu program intervensi yang ditawarkan dalam upaya perbaikan gizi pada anak adalah pembagian susu gratis. Program ini mendapat sorotan publik sebab dinilai kurang tepat dalam mengatasi akar masalah gizi pada anak terutama stunting. Kampanye gizi yang mementingkan kebiasaan mengonsumsi susu masih terpaku pada konsep usang yaitu slogan 4 sehat 5 sempurna. Susu bukan kebutuhan primer di masa pertumbuhan anak. Direktorat Bina Gizi KEMENKES RI telah menegaskan perubahan konsep menjadi Pedoman Gizi Seimbang pada tahun 2014.

Slogan 4 Sehat 5 sempurna hanya menekankan adanya lima jenis makanan yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah dan susu. Susu tetap bernilai gizi namun susu tidak dapat dikatakan sebagai penyempurna menu makanan atau wajib ada dalam asupan gizi sehari-hari. Diperlukan sumber zat gizi lain dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan kemudahan akses bahan makanan tersebut di lingkungan masing-masing individu.

Mengetahui keberagaman pangan selain susu dalam rangka perbaikan gizi anak sangat penting. Susu yang merupakan sumber protein hewani guna membantu tumbuh kembang anak dapat digantikan dengan ikan, daging dan telur. Prevelensi gangguan pencernaan akibat intoleransi laktosa di indonesia cukup tinggi seiring dengan pertambahan usia, yaitu sebesar 21,3% pada usia 3-5 tahun, 57,8% pada usia 6-11 tahun dan 73% pada usia 12-14 tahun (Hegar, 2015). Belum lagi masalah alergi dan risiko kejadian penyakit lain yang ditimbulkan dari susu.

Terkait akses, tidak semua keluarga dapat dengan mudah menjangkau susu. Penyebabnya mulai dari kesulitan ekonomi, wilayah tempat tinggal, hingga produsen susu yang terbatas. Apabila terdapat bahan pangan lokal yang dianggap dapat memenuhi asupan protein hewani atau zat gizi lain yang terkandung dalam susu, maka sebaiknya pilih yang lebih murah dan mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal. KEMENKES telah meluncurkan petunjuk teknis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal pada 17 Mei 2023 yang berisi rekomendasi makanan padat gizi dan kaya protein hewani.

Di samping perihal kondisi anak dan akses makanan, data WHO menujukkan bahwa pemasaran produk susu dapat mengubah keputusan ibu dalam menyusui. Klaim kuat dari perusahaan yang menyebutkan susu komersial setara atau lebih unggul dari ASI dapat menggeser fakta bahwa satu-satunya asupan gizi terbaik dan terlengkap adalah ASI yang diberikan di usia 0-6 bulan dan MP-ASI hingga 2 tahun. Gambaran kondisi menyusui di Indonesia sendiri masih stagnan dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2022, 52,2% bayi usia 0-5 bulan mendapatkan ASI eksklusif dan perlu ditingkatkan guna menjaga status gizi bayi di usia berikutnya.

Masalah lain yang timbul adalah masih banyak produk susu kemasan tinggi gula dan natrium yang beredar di pasaran (Pries et al., 2021). Sedangkan, tingkat kesadaran membaca informasi gizi pada label makanan masih rendah. Apabila benar-benar dibutuhkan, baik anak maupun orang tua perlu selektif dalam memilih produk susu komersil. Anak yang sering melewati batas konsumsi gula harian maka dapat meningkatkan risiko obesitas hingga penyakit lain di kemudian hari.

Diperlukan kerjasama yang baik antar sektor pemerintahan dan masyarakat serta kajian berulang dalam menyusun kebijakan terkait kesehatan anak. Setiap anak unik dengan kebutuhannya masing-masing dan tidak semua wilayah memiliki prioritas masalah gizi anak yang sama. Program intervensi gizi yang tepat dan menyentuh akar masalah akan dapat merangkul setiap keunikan anak-anak tersebut dimana pun wilayah tempat tumbuhnya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


 

What's your reaction?
0Suka6Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment