Kitab Mustika Rasa

Nindia Syamsi

Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID –  “….meskipun beras raskin, saya bangga. Sedari kecil lidah saya sudah dididik nasi, seperti kawan-kawan saya dari pulau maju di seberang. Kabarnya, beras-beras itu pun didatangkan dari luar negeri. Namun seiring waktu, kebanggaan saya perlahan berubah menjadi kekhawatiran…”

Suara hembusan nafas berat terdengar menggema dari sebuah mikrofon di atas panggung. Komika muda itu tengah menyiapkan amunisi terakhirnya. Kepalanya menunduk, mengangkat keingintahuan banyak pasang mata di hadapannya. Beberapa detik berlalu, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, komika muda itu melanjutkan kalimatnya dengan nada bicara hampir berbisik.

 “…karena dari kecil saya makan beras raskin, jangan-jangan perut saya jika dibelah isinya kebijakan pemerintah semua…”

Ruang pertunjukan seketika riuh. Kelakar komika muda yang tengah menjajakan leluconnya di atas panggung kecil itu, tak pelak kembali memecah tawa penonton. Air mukanya datar, namun perasaanya campur aduk. Antara kesal dan bangga.

Bangga, narasi yang ia susun semalam berhasil menyulap kejadian tidak menyenangkan di masa kecilnya menjelma sebuah komedi segar. Kesal, mengingat rutinitas keluarganya selepas musim panen. Menjual sorgum dan jagung terbaik hasil kebun demi membeli beras dengan kualitas paling rendah.

Semua tertawa. Sang komika menertawakan keberhasilannya. Penonton menertawakan lelucon. Lelucon menertawakan masa lalu.

“Begitulah, selamat datang di negeri padi, makanan terhormat, ya, hanya nasi. Terima kasih, sampai berjumpa kembali!” Lambaian tangan sang komika mengudara.

Tepuk tangan menggema. Arsyad –begitu komika muda itu dipanggil, mengundurkan diri sembari melangitkan harapan. Semoga energi positif yang ia kirim ke penontonnya bisa menjadi medium untuk melepas kepenatan hidup di kota besar nan bising ini. Kota yang sesak dengan lalu-lalang kendaraan, kesibukan, kecemasan, sampai gedung-gedung yang hendak mengambil alih langit.

Tanpa Arsyad sadari, doanya melesat cepat. Para pengunjung pertunjukan terlihat puas. Satu-persatu dari mereka meninggalkan ruang pertunjukan dengan membawa sisa senyuman yang masih tampak di sudut-sudut bibir.

Prana sempat tertegun. Kawannya semakin lihai memasak kata-kata. Membuat seluruh penonton tertawa padahal ia sedang meluapkan amarah dan kegelisahannya. Kegelisahan yang sebetulnya juga Prana rasakan. Menumpuk. Bertahun-tahun.

Prana kembali tertegun. Kali ini bukan sebab kepiawaian kawannya dalam berkomedi. Tepat dua menit setelah Arsyad menyelesaikan pertunjukkannya, sebuah pesan masuk. Dari Mama Elend. Oe Kanaf memenangkan pemilihan, Prana. Begitu teks yang diterima layanan pesan singkat di ponsel Prana.  

Seketika aroma katemak jagung dan samor kacang merah memenuhi indra penciuman Prana. Menyusup ke dalam ingatan. Membumbung ke langit-langit ruang pertunjukan.

***

Adalah Oe Kanaf. Lelaki setengah baya yang mulai dikenal lantaran gagasannya untuk menghidupkan kembali pangan lokal di tanah Mollo. Menciptakan kebun-kebun kolektif dan membuka kelas-kelas memasak. Lima tahun silam, Oe Kanaf memutuskan menetap di kampung kelahirannya setelah lama merantau. Kedatangan Oe Kanaf lah yang membuat warga Mollo mulai berhenti bergantung dengan beras.

Tiga pagi berlalu sejak pagi pertamanya menginjak tanah Mollo. Sudah tak lagi terlihat rerimbun belukar di pekarangan rumah Oe Kanaf. Kebun kolektif pertama Oe Kanaf siap untuk ditanami. Di kebun itu, siapapun boleh menanam asal hasil panen boleh dibagi. Sepanjang subuh hingga petang ia berada disana. Memupuk, menyiram, dan membersihkan tumbuhan dari gulma-gulma. Sesekali, mengumpulkan benih untuk disimpan dan ditanam di masa tanam berikutnya.

Setiap dua hari terakhir di akhir pekan, Oe Kanaf mengadakan pertemuan kecil di rumahnya. Kelas memasak dan menciptakan resep masakan khas tanah Mollo. Sebagian bahan makanan diambil dari kebun kolektif, sebagian lagi  hasil sumbasih warga Mollo.

Hingga tiba saatnya musim panen pertama bertamu ke kebun Oe Kanaf. Mama Elend, ibu Prana, mengajak Prana untuk mengunjungi kediaman Oe Kanaf untuk pertama kalinya. Kelezatan semangkok samor kacang merah dan ketemak jagung pemberian Oe Kanaf saat itu membuat Mama Elend terkesan dan semakin tertarik dengan kegiatan Oe Kanaf.

Kunjungan Prana dan Mama Elend ditutup dengan pesan Oe Kanaf yang bisa Prana ingat sampai sekarang, “Kita bisa tetap kenyang meskipun memakan jagung, ubi, dan kacang-kacangan. Hasil bumi tanah kita kaya, tidak hanya padi. Sumber makanan yang mendukung gizi juga bukan hanya nasi. Kalau bisa makan dari apa yang kita tanam atau tumbuh liar di kebun dan hutan kita, kenapa harus tergantung dengan makanan yang dikirim dari luar tanah kita?”

Mama Elend mengangguk, “Betul, sungguh disayangkan bukan jika kelak benih-benih tumbuhan lokal dan masakan khas tanah Mollo harus lenyap dari tanahnya sendiri?”

Hari demi hari, menyundul bulan, semakin banyak warga Mollo ikut serta menanam di kebun Oe Kanaf. Akhirnya, beberapa warga Mollo berinisiatif untuk menjadikan pekarangannya sebagai kebun kolektif yang baru. Pertemuan memasak pun semakin ramai seiring semakin banyaknya Warga Mollo yang terkesan saat mencicipi hasil masakan murid-murid Oe Kanaf di pertemuan memasak.

Warga Mollo semakin tertarik untuk bisa mengolah hasil bumi yang ada disekeliling mereka. Menyulapnya menjadi sebuah masakan lezat. Entah untuk dihidangkan di meja makan sendiri atau dipasarkan di kabupaten demi kepentingan ekonomi. Terdengar desas-desus, resep masakan lezat Oe Kanaf berasal dari sebuah kitab bertajuk Mustika Rasa. Prana sendiri menyadari kitab itu selalu ada di dekat Oe Kanaf saat pertemuan memasak berlangsung.

Di suatu siang, Prana mencoba memastikan kabar angin tersebut. Oe Kanaf mengambil sebuah buku yang sangat tebal dari tasnya, “Ini Maksudmu, Prana?” Prana mengangguk.

“Ini kitab Mustika Rasa, ibu dari segala buku resep masakan di Indonesia. Pusaka kuliner warisan presiden pertama kita. Kelak, aku akan menghimpun resep-resep hasil kelas memasak menjadi kitab semacam ini. Guna menyelamatkan warisan tradisi kuliner milik para sesepuh tanah Mollo.” Tangannya berpindah tempat mengangkat tumpukan kertas resep bertuliskan tangan. “Bantu aku menyempurnakan kitab Mustika Rasa untuk kampung ini, Prana.”

Permintaan Oe Kanaf siang itulah yang membuat Prana akhirnya memilih untuk merantau bersama Arsyad setahun kemudian. Kawan karibnya sedari belia. Menggali ilmu dari para juru masak, petani, peternak, dokter, dan guru-guru besar. Agar kelak bisa melanjutkan jejak Oe Kanaf merawat tanah Mollo.

Sempat tersiar kabar bahwa tanah Mollo punya pemimpin baru. Pemimpin yang menganut kuat paham bahwa nasi dimakan kelompok sejahtera. Selayaknya pemimpin, ia menginginkan warganya sejahtera. Maka, ia ciptakan kebijakan-kebijakan baru demi memastikan lumbung beras di kampungnya aman.

Sawah-sawah dicetak. Benih-benih padi dibagikan secara gratis. Penanaman padi digiatkan kembali. Piring warga Mollo kembali ditahtai nasi.

“Pertemuan memasak Oe Kanaf tidak diperkenankan, kebunnya pun sempat ditutup” cerita Mama Elend saat Prana mencoba menanyakan kabar Oe Kanaf di kampung. Tapi kecintaan Oe Kanaf pada tanah Mollo lebih kuat dari apapun. Bahkan sekarang Oe Kanaf berhasil diposisikan sebagai pemimpin yang baru. Sudah barang tentu perjuangannya tidak mudah.

Jika diperkenankan waktu, kepulangan Prana tahun ini akan sangat menyenangkan. Tidak ada yang lebih menentramkan hati dari menengok kampung kelahiran sendiri semakin sejahtera di tangan orang yang tepat.

“Sudah cek ponselmu? Oe Kanaf berhasil dalam pemilihan pemimpin di tanah Mollo, Arsyad” Senyum Arsyad  mengembang dengan cepat begitu Prana menyelesaikan kalimatnya.

 “Perlu kepesankan sepiring besar nasi goreng sebagai perayaan? Kita akan merindukannya saat pulang kampung nanti” celetuk Arsyad.

Prana tergelak. Nasi di tanah Mollo kehilangan tahtanya sekali lagi.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka4Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment