Azhar Syahida
Redaktur Pucukmera
Mengapa setiap kali saya ingin menulis, tentang apa pun itu, saya selalu takut. Dada berdesir: Ngilu rasanya. Saya selalu teringat masa lalu: Ratusan luka lama beserta ribuan penyesalannya. Saya tak hentinya tergiang masalah yang belum terselesaikan dengan baik, entah dengan siapa itu. Semuanya terus-menerus mengeras di dalam ingatan. Bahkan, seluruhnya perlahan mengeras sejak laptop yang saya gunakan untuk menuangkan semua ini mulai menyala. Sial!
Mungkin betul adanya, semua bermula dari empat perkara berikut, yang kian kemari mengusik cara saya berfikir:
Pertama, karena menulis adalah mereka ulang adegan masa lalu yang tak mungkin kembali. Merekam ulang kesalahan, berusaha menyelesaikan? Saya tidak yakin. Bodoh! Justru saya berpura-pura bisa menyelesaikan masalah orang lain? “Tidak bisa begitu.” Tante Wijang, tokoh rekaan Puthut, menasehati. “Jangan pernah beranjak, ke mana pun sebelum masalahmu selesai!”
“Celaka! Masalah saya belum selesai, tapi saya sudah beranjak jauh. Jauh sekali, malahan.”
Kedua, karena menulis adalah pekerjaan menggali tanah, mengobrak-abrik sejarah yang sudah tenang dan mungkin dilupakan. Menulis jugalah seperti seorang penyelam, bahwa menulis adalah menyelam hingga dasar, menyentuh pasir terdalam lantas mengumbar endapan pasir itu lagi: Mengeruhkan air. Percayalah, kekeruhan itulah data emas bagi penulis. Sebab, tanpa mengeruhkan air, mustahil seorang penulis leluasa menyusun serpihan data.
Ketiga, karena menulis adalah merekonstruksi masa lalu. Ini persis sebagaimana yang saya tulis di muka, sebuah pembabakan atas ingatan luka lama. Ketika seorang memulai kalimat pertama, ia akan mengingat-ingat, kenangan apa yang ia butuhkan untuk dihadirkan dalam untaian kata. Tentu, setiap orang punya cara sendiri untuk memandang kenangan. Bahkan, bisa jadi memiliki susunan makna sendiri untuk menyebut sesuatu sebagai ‘kenangan’.
Keempat, meski menulis adalah mencari masalah, bukan berarti menulis itu membuat masalah. Inilah yang pelik. Dan selalu menyeramkan. Di sini, tuntutan utama menulis adalah mengurai perkara. Memecah dan meringankan beban orang lain dan mungkin diri sendiri. Mencerahkan pembaca—terlihat berlebihan? Ya, tapi setidaknya begitulah harapan atas sebuah karya.
Pada tangga makna demikian, pekerjaan menulis tampaklah begitu mulia namun juga tampak lumayan sukar, mengapa? Inilah beberapa perkara kenapa semuanya tak terlihat ringan dan selalu jadi bagian ketakutan saya.
Pertama, sebagaimana di awal, saya selalu merasakan ketakukan akan masalah ketika menulis. Seolah-olah, semua persoalan yang dulu sering saya perbuat, menguap, bereinkarnasi di depan mata. Serpihan-serpihan perkara menyeruak, ringan sekali munculnya. Saya tidak mengerti, gara-gara hal yang begitu, seringkali tulisan saya berhenti di tengah jalan. Macet. Dan saya takut untuk meneruskan.
Kedua, masih tentang ketakutan. Saya terkadang merasa sesak yang diselimuti kesalahan atas nama dogma agama: Dosa. Lagi-lagi, semuanya sebab masa lalu yang mau tak mau harus saya ingat, demi menyusun bongkahan data yang berjibun jumlahnya. Namun begitu, ketakutan atas nama dogma, tidaklah semengerikan ketakutan atas ketidakjujuran. Misalnya, ketika menuliskan tentang keadilan, dan saya sering tidak berkehendak untuk adil, berhentilah tulisan itu. Saya tidak meneruskan. Saya hapus seketika. Seolah ada hal yang sangat kontraproduktif dengan apa yang ada di dalam fikiran dan fakta sejarahnya.
Ketiga, ketakutan atas ketidakjujuran. Menulis, pada bagian ini, adalah rupa kejujuran. Pasti, tidak semua orang tahu proses kita menulis. Artikel yang terpampang dan dibaca banyak orang bukanlah proses, itu adalah hasil. Dalam bahasa akademikus, itulah luaran. Menulis adalah proses jujur atas perkara, atas diri sendiri, atas idealita dan atas orang lain. Jika dalam proses ini kita tergelincir sedikit saja, asal usul sesat yang menyesatkan, ya, di sini letaknya. Makanya, inilah proses terberat, sekalipun dalam proses ilmiah dan kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat kita, semua hal sangat bisa termaafkan, asalkan satu: Atas nama ketidaktahuan.
Keempat, ketakutan atas ketidaknyamanan orang lain. 90 persen karya tulis, bukanlah tentang diri sendiri. Meski seorang penulis mengatakan, “Saya tengah menulis tentang kisah masa lalu saya.” Tidaklah benar 100 persen tentang kisahnya, yang ada, justru, 90 persen tentang kehidupan yang kok kebetulan, melekat dalam kehidupan dia. Toh, untuk mengingat semua detail tentang diri sendiri, pastilah kita membutuhkan orang lain untuk bercerita, “Bagaimana saya dahulu? Apakah dahulu saya memuakkan? Apakah saya dahulu begini dan begitu?” Sederet pertanyaan, menyuratkan keterlibatan orang luar, meski menulis tentang saya. Dalam hal ini, benar memang, saya tak mampu berdiri tanpa keberadaan sang liyan.
Kelima, pungkasan atas keseluruhan rasa, adalah bahwa saya takut tulisan ini tidak selesai. Sejak draft tulisan ini saya buat, ketakutan terbesar saya adalah, ocehan ini tidak akan pernah menemui ujung. Banyak hal yang ada dan terencana, tapi gagal dinikmati karena ketidaksempurnaan prosesnya. Benar memang, baiknya kita sepakat dengan seloroh Puthut, “Menulis adalah proses menjahit.” Menjahit kata-kata, yang menurut Ivan Lanin, si ahli komputer yang sekarang jadi polisi bahasa, “semuanya netral,” tak bertendensi.
Walau gitu, saya selalu senang dan gembira jika tulisan yang saya buat menemui kalimat terakhir. Saya tidak pernah berfikir kebaikan dan keburukan sebuah karya. Saya hanya berfikir, inilah hal yang harus saya catat. Tak mungkinlah saya membengkel. Mustahil! Itu adalah hal yang, bukan hanya tidak ada, tapi juga tidak mungkin ada dalam imajinasi.
Akhir kata, demikianlah rupa ketakutan-ketakutan saya selama ini. Semuanya berderet rapi, menapak saat saya mulai menyusun kalimat pertama, persis seperti asap yang keluar perlahan dari sela-sela bongkahan tanah kering.
Tapi, memang benar ‘pertanyaan’ kesal Dea Anugrah, “…Apa, sih, tujuan orang menulis?” Baginya, “Saya senang membayangkan bahwa saya menulis untuk meneruskan kebaikan buku-buku yang pernah saya baca. Ada harapan kelak, entah di mana, tulisan-tulisan saya menyentuh seseorang dan mengubah caranya memandang dunia, sebagaimana novel-novel Hemingway dan Camus.” Benar, Anugrah memang penggemar Hemingway akut. Saya sering menemukan tulisannya yang mengulas Hemingway. Tak ada yang salah, sih. “Orang meniru cacatnya, mencuri irama dan ritmenya, dan menyebutnya ‘Mazhab Menulis Hemingway,’” tulis Lilian Ross, orang yang sangat loyal pada The New Yorker, menulis di sana sejak 1945.
Baiklah … saya memang tengah kacau. Eh iya, satu hal, untuk Dea, bagaimana jika bacaan masa lalu saya tidak ada yang baik? Haruskah saya tetap menulis dan melawan semua kecemasan ini?

2 Comments
Αναφορ Binance
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
^Inscrieti-va pentru a obtine 100 USDT
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.