Kartini

Kholifatul Husna


PUCUKMERA.IDApa yang kita ketahui tentang Kartini? Apa pula yang terlintas dalam pikiran kita tentang Hari Kartini? Perbincangan tentang Kartini memang tidak pernah ada habisnya. Segala kelebihan yang ada pada diri perempuan ningrat ini banyak dituliskan, dipotretkan dan diulas dalam berbagai karya. Masyhur betul perempuan Jawa satu ini.

Perempuan, pada masa Kartini, masih terbelenggu oleh adat istiadat. Meraka tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi laiknya para laki-laki. Hanya ada 3 unsur yang dapat disematkan pada perempuan saat itu; sumur, kasur dan dapur. Maka, masyarakat beranggapan, untuk apa perempuan harus bersekolah tinggi-tinggi jika yang mereka

Mereka bahkan tidak bisa menentukan dan memilih siapa yang harus menjadi pasangannya. Perempuan tidak memiliki posisi untuk menawar ketika harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Kebanyakan perempuan di masa Kartini benar-benar tidak mengenal calon suaminya sebelum pernikahan terjadi.

Sebelumnya, Kartini juga banyak menggugat budaya Jawa yang dianggap mendsikriminasi perempuan. Terlebih perilaku ini juga datang dari keluarganya sendiri. Benturan juga acapkali terjadi antara Kartini dengan saudara-saudaranya. R. M. Slamet Sosroningrat, kakak laki-laki Kartini, menganggap bahwa perempuan tidak sederajat dengan laki-laki.

Dari hal inilah, Kartini memiliki tekad untuk memajukan perempuan pribumi. Ia kemudian mendirikan sekolah bagi perempuan di Jepara. Perempuan, dalam pandangan Kartini, berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk menambah pengetahuan, bersekolah, serta mengurus masalah lain. Pendidikan dijadikan sebagai sarana awal pembebasan perempuan dari ketertindasan budaya.

Pemikiran Kartini tentang segala hal yang membelenggu perempuan Jawa pada masa itu ia abadikan dalam goresan pena melalui surat-surat yang dikirim kepada sahabat Belanda-nya. Surat-surat itu berisi kecaman terhadap adat, norma, dan kondisi penjajahan yang membuat sengsara bangsanya. Kartini tidak punya senjata, dia juga tidak punya masa apalagi uang dan kekuasaan. Kartini hanya punya semangat yang dituliskannya dan dibaca banyak orang.

Selama hampir satu abad lebih setelah kematiannya, kita tidak bisa menyangkal bahwa sosok Kartini yang digambarkan oleh negara di benak masyarakat Indonesia adalah sosok keibuan yang “berjuang membela emansipasi perempuan pada jamannya”. Kartini tetap tidak lepas dari sosok berkebaya yang anggun. Ia terbiasa untuk bersikap dan berpakaian demikian pada jamannya sesuai dengan arahan ayah dan suaminya (gambaran tipikal perempuan Jawa pada umumnya), ia juga cerdas dan berjiwa pemberontak (gambaran perempuan moderen yang terkena imbas Eropa).

Namun, hal terakhir terkungkung dalam-dalam karena sistem feodalisme yang melingkupi kehidupannya. Gambaran “ibu” dalam diri Kartini sudah begitu melekat. Sehingga, ketika orang membayangkan Kartini, maka yang terlintas di benaknya adalah perempuan Jawa berkonde, berkebaya, halus tutur katanya, penurut, rela dipoligami dan sederet gambaran stereotipik perempuan Jawa di bawah payung ideologi patriarkal.

Banyak orang mengenal Kartini karena dianggap sebagai pejuang nasib kaum perempuan di Indonesia. Namun, betulkah kita mengerti pemikiran dan gagasan Kartini tentang perjuangannya mengangkat bangsa Indonesia khususnya perempuan untuk keluar dari belitan adat dan norma budaya yang membelenggunya?

Kartini didefinisikan sebagai pahlawan tanpa kita tahu jelas bagaimana pemikirannya untuk bangsa Indonesia. Kita hanya mengenal sosoknya sebagai pembela nasib bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia mengusahakan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Ia juga membela hak kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan tanpa memandang alasan apa pun. Di satu titik Kartini berhasil mewujudkan cita-citanya.

Terkait dengan pendidikan untuk perempuan, dalam nota yang ditunjukkan kepada A. W. F. Idenburg, Kartini mengatakan:

“Untuk sementara didiklah, berilah pelajaran kepada anak-anak perempuan kaum bangsawan, dari sanalah peradaban bangsa itu harus dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas, dan baik, maka mereka akan menyabarkan peradaban di antara bangsanya. Kepada anak-anaknya peradaban dan kepandaian mereka akan diteruskan. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula. Anak-anak laki-lakinya akan dipanggil untuk turut menjaga keselamatan bangsa.”

Persoalan perempuan belum selesai. Yang perlu kita sadari sekarang bukan melihat Kartini sebagai sosok ‘ibu’ dengan identitas kultural Jawa yang melekat padanya. Yang menjadi urgensi adalah melihat bagaimana pemikiran dan gagasan Kartini tentang perempuan dan tentang pembebasan perempuan begitu berdampak secara signifikan.

Saya sendiri masih menganggap sosok Kartini adalah sosok ideal untuk masa kini. Kekritisan Kartini, ketajaman cara berpikirnya, rasa kasih sayangnya kepada perempuan dan bangsa Indonesia, itulah yang harus didengungkan kepada bangsa ini. Kartini jelas telah berusaha mendobrak tatanan kultur patriarkal, meskipun negara telah menyembunyikannya sedemikian rupa.

Apabila gagasan dan pemikiran Kartini didengungkan, baik di tingkat pendidikan maupun dalam masyarakat luas, maka yakinlah bahwa Kartini bisa tersenyum melihat perempuan-perempuan dan bangsa Indonesia yang kritis, berpemikiran tajam, lepas dari bentuk penjajahan yang dilakukan oleh kapitalisme dan neoliberal.

Perempuan Indonesia akan menjadi Kartini baru, atau mungkin serupa dengan sosok Nyai Ontosoroh dalam novel tetralogi Pramoedya–perempuan yang kritis, tajam dan tak kenal ampun dengan kultur yang menindas perempuan.

“Tidak ada kebebasan tanpa kemerdekaan. Dan hidup yang merdeka, hanya bisa diraih oleh jiwa yang terbebas.

 


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment