Jakarta Kata Kerja

Didin Mujahidin
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Setiap waktu, ratusan mungkin juga ribuan orang datang ke Jakarta. Entah hanya sekadar melakukan perjalanan dinas, urusan bisnis, bertemu sanak saudara, atau mencoba peruntungan. Meski tujuannya beragam, Jakarta sudah identik dengan kota metropolitan yang memiliki banyak tawaran pekerjaan dan tempat bertemunya uang.

Jakarta memang elit, tapi hanya di bagian yang sempit. Selebihnya adalah wilayah yang rumit. Ketika pertama kali datang di Jakarta, saya cukup takjub melihat gedung-gedung tinggi di kawasan Sudirman. Maklum saja, di kota saya sebelumnya tidak ada bangunan setinggi dan semegah ini.

Kemegahan itu seperti bius yang membuat orang setengah tidak sadarkan diri. Bius tersebut memiliki reaksi yang relatif singkat. Saat mulai tersadar, kebingungan akan mulai melanda dan membuat kita bertanya. Mengapa, apa, kapan, dan bagaimana?

Ini persis seperti yang saya alami saat di sini, mungkin beberapa orang juga memiliki rasa yang sama. Di hari dan pekan-pekan berikutnya saat di Jakarta, saya mulai bertanya. Mengapa orang-orang masih betah tinggal di Jakarta? Jika hanya mempertahankan pekerjaan dengan gaji tinggi, saat ini bekerja di mana pun bisa mendapatkan gaji tinggi. Beberapa orang juga sukses dengan bekerja dari rumah.

Jakarta seolah menjadi sebuah impian untuk menjemput kesuksesan. Siapa saja yang kerja di Jakarta seolah dapat dipastikan memiliki gaji yang besar, ini jelas keliru. Masih ada banyak perusahaan yang belum menerapkan standar gaji sesuai UMK daerah. Bukti lainnya, ketimpangan sosial di Jakarta juga cukup besar, serta angka kemiskinan mencapai 4,69 persen per 2020 menurut badan pusat statistik.

Kondisi lingkungan yang kurang sehat juga melekat bagi Jakarta, hasil studi World Air Quality menyatakan Jakarta menempati posisi ke 10 dengan kualitas udara terburuk di dunia. Selain itu, tirto.id juga mengungkapkan kemacetan Jakarta menambah waktu tempuh 58 persen dari waktu normal. Bisa dibayangkan, bagaimana tingkat keresahan para pekerja yang berada di Jakarta. Sebelum bekerja saja, mereka sudah merasakan kepenatan pada perjalanan.

Memang pada pandemi dua tahun ini kondisinya agak berbeda, Jakarta menjadi lebih longgar. Ditambah lagi dengan budaya kerja remote membuat beberapa perusahaannya memperkerjakan pegawainya dari jauh. Namun, kondisi ini belum dapat dipastikan akan berlangsung sampai kapan, sebab beberapa perusahaan juga sudah meminta pekerjanya datang ke kantor. Dan jalanan kembali ramai seperti sediakala.

Melihat realitas yang ada, saya coba bertanya pada beberapa rekan yang bekerja di sini. Seberapa nyaman bekerja di sini? Kebanyakan mereka mengungkapkan nyaman dengan gajinya dan akses yang dekat dengan kawasan elit dan pertokoan. Juga ada yang menjawab menjadi lebih dekat dengan akses pemerintahan.

Jika ditanya lebih perihal kenyamanan dan ketenteraman hidup, mereka menjawab lebih nyaman di desa. Setiap hari bisa melihat indahnya alam ciptaan Tuhan, menikmati setiap waktu tanpa diburu. Dan, yang paling penting adalah hati menjadi tenteram sebab tidak terlalu banyak tuntutan apalagi perbandingan capaian. Dengan hidup di tempat nyaman pula kita akan semakin dekat dengan Tuhan.

Dua perbedaan itu tidak untuk disalah atau dibenarkan salah satunya, sebab setiap orang jelas memiliki pilihan. Hidup dan kerja di Jakarta itu ibarat sebuah tuntutan atau memang sebuah tujuan utama. Jika memang ingin mencari uang, saya rasa sangat tepat. Ada sekitar 60-70 persen sirkulasi uang Indonesia berada di Jakarta. Pastinya, uang sebanyak itu melewati berbagai pipa.

Ketika di Jakarta hanya sebatas menjadi pegawai baik swata maupun negeri, mungkin kurang dari satu persen saja yang akan kita dapatkan. Selebihnya, uang itu berputar pada lingkaran yang jauh dari pegawai belaka.

Sebenarnya, memburu rupiah di kota besar semacam Jakarta tak akan cepat membuat sumringah. Biaya hidup yang tinggi akan mengaburkan gaji dengan nominal yang besar. Belum lagi standar hidup yang sudah dipasang oleh pendahulunya, seperti mustahil menjadi sederhana di Jakarta. Kebanyakan orang, ketika pendapatannya naik, maka gaya hidupnya akan mengikutinya.

Kata kerja ini ibarat sebuat trik, kita bisa saja kerja tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk dikerjain. Kerja atau dikerjain memang sama-sama mencurahkan tenaga dalam menyelesaikannya. Prosesnya yang bisa menentukan, seberapa sesuai beban kerja dengan kontrak awal, seberapa sesuai gajimu dengan pekerjaan yang kamu lakukan. Permasalahan sering kali dikaburkan, saat ditampakkan kita akan dihadapkan dengan pilihan mau lanjut bekerja atau cukup sekian.

Jakarta ibarat sebuah kata kerja, di tiap sudutnya semua orang bertaruh untuk memburu rupiah. Mulai yang berangkat dari tujuan mulia, hingga yang menghalalkan segala cara. Oh Jakarta, kerjamu seakan tak pernah berhenti hingga semua musnah.

Tidakkah engkau lelah wahai Jakarta?


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka3Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment