Humankind: Even a Paradise Could Be Built in Hell

Irsyad Madjid

Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Tugas kantor di suatu minggu pagi mengantarkan saya dengan terpaksa ke Jakarta Convention Center. Tak dinyana, di saat yang sama sedang berlangsung pagelaran International Book Fair. Maka, saya memutuskan untuk mampir meski (awalnya) tak ada niat untuk membeli. Tapi kita semua tahu; selain menemukan pembacanya, buku bagus juga selalu menjumpai pembelinya.

Mitos ini kembali berubah menjadi kenyataan, ketika dari jauh terlihat stan penerbit KPG, dilengkapi dengan tulisan “Diskon”. Benar saja, daftar bukunya membuat niat tak membeli saya pupus perlahan. Di antara ratusan pilihan, pandangan saya tertuju pada buku “Humankind” karya sejarawan Eropa yang sedang naik daun, Ruger Bretman. 

Di sampul depan, tertulis testimoni dari sejarawan ateis yang telah membuat riuh percakapan dunia beberapa tahun terakhir, Yuval Noah Harari. “Humankind menantang saya untuk memandang umat manusia dari sudut pandang yang baru” ujar Yuval. Karena keluar dari mulut seorang Yuval, kalimat ini terasa mengandung sisi magis tersendiri.

Kita semua tahu, apa yang ditulis Yuval beberapa tahun belakangan sudah memancing kontroversi. Pemikiran-pemikirannya “nyentrik” dan tergolong anti-mainstream. Saya penasaran, apa yang buku ini tawarkan sehingga membuat Yuval seakan ingin “insyaf”?

Ternyata Bretman punya keyakinan dasar seorang sejarawan yang “tak lazim”. Dia percaya bahwa manusia pada dasarnya itu baik. Padahal, buku sejarah selama beratus-ratus tahun mengajarkan kita sesuatu yang amat berbeda. Richard Dawkins dalam karya tersohornya yang dibaca jutaan orang, “The Selfish Gene”, menganjurkan agar manusia diajarkan tentang kemurahan hati, sebab secara genetik kita terlahir dalam keadaan “egois”. 

Pertentangan soal manusia itu secara hakikat baik atau tidak baik, memang tersebar di berbagai wilayah disiplin ilmu. Bagi Bretman sendiri, perdebatan filosofisnya dimulai oleh dua orang pakar: Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rosseau. Hobbes belajar mengenali manusia lewat telusuran sejarah ribuan tahun lalu, ketika belum ada hukum yang berlaku.

Dalam keadaan alami, manusia itu sendirian, payah, kejam, dan brutal. Dasarnya? Cerita dari proses evolusi ribuan tahun silam, dimana manusia digambarkan saling menindas dan membunuh, dalam rangka bertahan hidup. Dalam versi Yuval, bertahannya Homo Sapiens sebagai satu-satunya spesies manusia modern di zaman ini, adalah hasil dari pembersihan etnis massal di zaman purba.

Namun, Rosseau berpendapat sebaliknya. Ia yakin, di masa lalu, manusia penuh dengan belas kasih. Jika di masa lalu segalanya memang diselesaikan dengan pembunuhan dan peperangan, berapa banyak bukti sejarah yang mendukung hal tersebut? Jawabannya adalah sedikit. Mungkin ada perang, namun hanya di awalnya saja.

Penelitian terbaru menyimpulkan, manusia purba lebih memilih untuk menyelesaikan konflik secara damai, atau berpindah tempat untuk menghindari konflik lebih besar (nomaden). Jika kita mengidentifikasi apa yang terjadi di masa lalu melalui peninggalan sejarah seperti lukisan-lukisan di dalam goa, maka berapa banyak gambar yang menceritakan peperangan? Tidak ditemukan.

Rosseau percaya bahwa manusia adalah hasil dari apa yang disebut sebagai Survival of The Friendliest. Agustus 1856, seorang pekerja dari Jerman, menemukan kerangka tulang yang ukurannya jauh lebih besar di lembah Neander. Homo Neanderthalensis. “Saudara” dari Homo Sapiens yang punya otot kekar bak binaragawan dan volume otak yang lebih besar, sehingga tergolong jauh lebih kuat dan cerdas dibanding Sapiens.

Lantas, apa yang membuat homo lain punah?

Ketika diadakan tes kognitif antara manusia balita, simpanse dan orangutan, hampir pada semua aspek hasilnya berimbang. Kita mungkin pernah melihat tes semacam itu di suatu program TV. Bahkan, suatu penelitian di Jepang pernah mengadu kecerdasan dan daya ingat antara manusia dewasa dan seekor simpanse bernama Ayuma. Pada tingkat yang sangat sulit, Ayuma berhasil mengalahkan manusia. 

Namun, semua tes menunjukkan bahwa manusia tidak akan terkalahkan pada satu aspek: pembelajaran sosial. Ternyata, kita adalah mesin pembelajar ultra sosial. Kita memiliki kemampuan yang sangat baik untuk meniru, menjalin hubungan, dan bermain.

Manusia bukan yang terkuat, sebab Gajah bisa membunuh kita dengan sekali hentakan kaki. Otak kita tak lebih cerdas dari Homo Neanderthalensis. Alasan mengapa sapiens adalah satu-satunya spesies yang berhasil lolos dari kondisi iklim yang keras jutaan tahun lalu: kemampuan untuk bekerja sama.

Bahkan, pada saat yang paling kritis.

Raihan dan sekelompok pemuda lain membuktikan itu ketika terjadi pandemi di Jogja. Minimnya respon negara membantu pekerja sektor informal, seperti tukang becak dan buruh, membuat nurani mereka terpanggil. Mereka menggalang dukungan pangan dengan niat sederhana, agar para kelompok rentan itu setidaknya bisa makan dan bertahan.

Aksi ini mengundang respon sosial yang luar biasa. Para petani menyumbangkan hasil tani dan kebun secara rutin dan cuma-cuma, penduduk merelakan sebagian tempatnya untuk dijadikan dapur umum. Dalam resiko penyebaran virus yang masih tinggi, berbagai kalangan pemuda juga ikut menyumbangkan tenaga dengan membagikan langsung bantuan itu kepada mereka yang membutuhkan. Kita mengenal gerakan itu dengan nama “Solidaritas Pangan Jogja (SPJ), sebuah gerakan rakyat bantu rakyat. 

Pada kasus lain, seorang saksi mata menuturkan, ketika menara kembar WTC terbakar, ribuan orang menuruni tangga dengan tertib. Beberapa orang bahkan mempersilahkan mereka yang lebih lemah untuk berjalan di depan, padahal nyawa mereka sedang terancam.

Total sekitar 700 penelitian lapangan di dunia menyebutkan, tak pernah terjadi kekacauan total ketika manusia menghadapi bencana/bahaya. Krisis tak membuat orang mengutamakan kepentingan diri sendiri. Malah terjadi hal yang sebaliknya, bencana dan krisis memunculkan sisi terbaik manusia.

Di tengah keadaan yang seperti neraka, manusia ternyata tidak kehilangan kemampuan untuk membangun persahabatan.

Lantas apa yang membuat manusia berubah menjadi jahat? Sayangnya, bahasan mengenai perilaku tersebut berada pada bab selanjutnya yang belum habis saya baca. Meski begitu, manusia tentu bisa berubah menjadi jahat. Berbagai kasus dan bukti dari pembunuhan, pencurian, penipuan, tersimpan dengan rapi. Bretman sedikit memberi clue: kutukan peradaban.

Namun apapun itu, Humankind membuat saya berani untuk mengubah cara berpikir. Dengan asumsi bahwa semua pada dasarnya baik, saya tak akan menutup diri dengan orang yang belum saya kenal. Saya juga akan lebih tenang ketika memasuki sebuah kerumunan. Saya berusaha agar tak lagi menghakimi orang dengan cepat.

Hal ini dikenal dengan nama self-fulfiling prophecy. Ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Jika kita memprediksi suatu toko akan bangkrut dan meyakinkan banyak orang  agar tak membeli disana, tentu saja toko itu akan bangkrut. Jika kita menempatkan ketidakpercayaan dan prasangka negatif kepada orang lain, secara otomatis seperti itulah kita memperlakukan orang lain tersebut. Kelak, efek domino akan hal itu akan merugikan semua orang. 

~

Seorang tua berkata pada cucunya: “ada pertarungan antara dua serigala besar dalam diriku. Satu serigala yang punya sifat amarah, iri, dengki, malas, dan sombong. Sedangkan serigala yang kedua sangat baik. Dia punya rasa bahagia, kuat, dan tegar.

Kemudian cucunya dengan tidak sabar bertanya: “Jadi bagaimana kek, serigala mana yang akhirnya menang?

Sang kakek dengan tenang menjawab: serigala yang sering kuberi makan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka2Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment