Habis Putus, Terbitlah Postingan Islami

Nur Fahmi Nur
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Apakah pernah kalian berpikir, kenapa ada sebagian orang yang setelah putus dengan pacar lalu berubah? Misalnya, postingan di media sosialnya seketika berisi postingan nasihat agama dan ceramah ustaz-ustaz? Saya pernah berpikir begitu. Bukan tanpa sebab, karena ada beberapa teman saya yang mengalami itu. Saya selalu mempertanyakan, kenapa orang bisa berubah menjadi begitu alim atau begitu “islami” dalam waktu singkat ketika dia diputuskan pacarnya?

Akhirnya saya menemukan jawabannya didalam buku berjudul Ilmu Jiwa Agama karangan Dr. Zakiah Daradjat, yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang, pada tahun 1970. Ini buku lama yang terpajang rapi di lemari almarhumah tante saya. Buku tua menarik untuk dibaca. Banyak yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, tapi saya coba ambil sedikit saja dengan menghubungkan dengan kasus perubahan diri seseorang akibat diputuskan pacarnya. 

Pada salah satu babnya yang bertema “Perkembangan Kepercayaan Pada Orang Dewasa”, dikaji bagaimana kejiwaan dan kepercayaan orang dewasa bisa berubah dengan cepat dan singkat. Bahkan, oleh satu momentum saja. Padahal mungkin kita beranggapan bahwa usia dewasa adalah masa dimana kita sudah mencapai kematangan yang baik. Tapi tidak sedikit orang dewasa yang mengalami kegoncangan mental akibat kejadian buruk yang menimpanya.

Kita kembali pada kasus “putus dengan pacar”. Sebelum lanjut saya ingin bilang bahwa ini adalah asumsi pribadi saya, karena toh saya belum pernah merasakan putus dengan pacar. Bukan karena saya masih bertahan sampai sekarang, karena memang saya tidak punya pacar aja. 

Lanjut. Pacaran tentunya dilandasi rasa sayang dan cinta. Tapi dalam kondisi tertentu, salah satu orang bisa saja berubah dan tidak memiliki rasa cinta lagi, sehingga memutuskan untuk berhenti. Bagi yang meninggalkan mungkin saja merasa lega dan biasa saja, tapi bagi mereka yang ditinggalkan, mereka akan merasa begitu sakit dan mungkin saja marah.

Ketika si korban (saya menyebut “korban” sebagai yang diputuskan dan “pelaku” sebagai yang memutuskan) —tidak ada maksud apa-apa, hanya untuk lebih mempermudah saja— merasa sakit yang begitu dalam, disitulah kegoncangan hatinya terjadi. Dia merasa sedih, marah sekaligus kecewa sebab cintanya dipermainkan. Tidak jarang kita menemukan ada beberapa orang yang setelah putus cinta, menjadi begitu berantakan dari segi emosi sampai kondisi fisiknya. 

Nah bagi yang sedang gelisah, dia membutuhkan cara untuk hilang dari penderitaan. Dengan begitu, dia akan mencari apapun solusi atau jalan keluarnya. Salah satunya adalah dengan mendengar ceramah-ceramah keagamaan. Jika disangkutkan dengan buku karya Dr. Zakiah, proses ini disebut dengan konversi agama. Dalam hal ini, konversi agama tidak berarti berpindah dari suatu agama ke agama lain, tapi lebih kepada perilaku keagamaan manusia tersebut.

Sebelumnya, dalam buku tersebut adalah beberapa proses dalam konversi agama itu sendiri. Pertama, masa tenang. Masa tenang ini adalah masa sebelum mengalami konversi, dimana segala sikap, tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh terhadap agama. Kedua, masa tidak tenang. Konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya, juga rasa gelisah, putus asa, tegang, panik, dan sebagainya. Ketika dihadapkan pada konflik jiwa yang berat, biasanya orang mudah perasa, cepat tersinggung dan mudah kena sugesti. 

Ketiga, peristiwa konversi itu sendiri. Setelah masa goncang itu mencapai puncak, maka terjadilah peristiwa konversi. Orang akan merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan. Hidup yang tadinya seperti dilamun ombak atau diporak-porandakan oleh badai persoalan, seketika berubah. Hidup berubah menjadi tenang, segala persoalan hilang mendadak, berganti dengan rasa istirahat dan menyerah. Menyerah kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Keempat, keadaan tentram dan tenang. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui, maka timbulkan kondisi jiwa yang baru serta rasa aman damai dalam hati. Seolah tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan. Kelima, ekspresi konversi dalam hidup. Tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan kepercayaan beraagama dalam tindak tanduk, kelakukan, sikap dan perkataan. Seluruh jalan hidupnya berubah drastis mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama.

Kalau melihat proses ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kehidupan pasca putus cinta bisa disangkutpautkan dengan proses ini. Dimana ketika masa tenang, korban dan pelaku merasa bahagia, bisa bertemu, saling sayang, ataupun melakukan hal yang lebih dari itu. Ketika masa tidak tenang datang, korban merasa hancur. 

Sama seperti yang dijelaskan pada proses kedua, korban akan menjadi labil, sensitif dan mudah tersinggung. Makanya banyak orang yang habis putus cinta lebih memilih berdiam diri dalam kamarnya. Saya tidak pasti apa tujuannya, tapi pikiran positif saya menduga: mereka tidak mau marah dan melampiskan emosinya ke orang lain.

Sehingga, korban akan mulai mencari ketenangan biasanya lewat ceramah atau nasehat didalam internet dan media sosial. Seperti nasehat cinta ataupun ceramah-ceramah ustaz populer. Kemudian sampailah dia pada masa tenang dan tentram. Menerima segala kesalahan yang dulu dan mencoba menjadi lebih baik.

Meskipun begitu, banyak orang tidak berhasil sampai pada proses kelima. Mereka malah kembali menjalani hidupnya yang dulu. Walaupun tidak begitu saja disamakan secara total antara putus cinta dan proses konversi agama, tapi bagi saya mempunyai kemiripan yang hampir sama. Sebab, semua orang yang tergoncang jiwanya butuh sesuatu untuk bergantung agar bisa menghilangkan kegelisahan dan kegoncangan jiwanya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment