Gura Bunga: Negeri di Atas Awan

Bare Kingkin Kinamu
ASN BPK Perwakilan Maluku Utara


“Di Gura Bunga, awan-awan akan turun seperti kapas, lembut tipis, dan dingin, uap airnya menerpa wajahmu, mengingatkanmu, kamu masih hidup dan teruslah melangkah, apa pun yang terjadi, bersama doa dan harapan-harapan baik yang kamu ingingkan,” sebuah catatan perjalanan untuk Gura Bunga.

Siang hari di Maluku Utara, kami melihat anak-anak berenang dan bermain di tepian pantai Ternate. Hujan berhenti beberapa waktu lalu. Perahu-perahu berjejer di dermaga penyeberangan Ternate-Tidore, Bastiong. Potret kehidupan tersebut, kami dapati usai sarapan pagi ketika bertolak ke dermaga penyeberangan, satu-satunya pintu masuk ke Tidore dari Ternate.

Pagi kami mulai dengan sarapan pagi di pinggir Kota Ternate sebelum akhirnya menuju Bastiong.

“Menyeberang saja,” teman saya akhirnya setuju dengan rencana kami, usai mempertimbangkan cuaca yang membaik siang itu. Sehari sebelumnya, kami memang berencana keliling Tidore. Namun, cuaca di pagi hari membuat kami berpikir ulang. Akhirnya, cuaca berpihak kepada keinginan kami berkeliling Pulau Seribu Jin itu.

Suasana Pelabuhan Bastiong Ternate, satu-satunya pintu masuk menuju Tidore. Terlihat anak-anak sedang batobo (berenang di laut). Mereka melompat dari kapal yang sedang bersandar. Dok Pribadi/Kingkin Kinamu

Dari pusat kota Ternate ke Bastiong, kami berkendara melewati landscape kehidupan yang tidak akan pernah kami lupakan. Ada angkutan biru dengan musiknya yang berdebum kencang.

Kata Safarina Eka, itu adalah jenis kearifan lokal yang ada di Ternate, Pulau Maitara yang hijau dari Ternate, dan tentu aja pulau Tidore serta puncak tertingginya, Kie Matubu, terlihat jelas di depan mata kami ketika menuju Pelabuhan Bastiong hijau yang sempurna. Landscape warna hijau gelap dan cerah selalu memanjakan dan mendamaikan pikiran kami ketika awan bernaung di atas pulau itu.

Penyeberangan kali ini adalah yang pertama kalinya untuk Safarina, di Maluku Utara. aroma laut tercium di pintu masuk pelabuhan Bastiong. Beberapa orang berdiri dan menarik retribusi masuk pelabuhan. Per-orang Rp 2.000. Ini bukan kali pertama saya menyeberang ke Tidore.

Terlihat dua perahu kayu merapat. Satu sudah hampir penuh, satu lagi masih menunggu penumpang.

“Kita naik yang mana?”. Petulangan kami akan dimulai, semoga kami bisa bertemu dengan awan yang turun hingga Gura Bunga.

Gelombang lautan tidak terlalu kuat, kapal kayu bergerak ke kanan-kiri dengan irama yang masih seimbang. Akhirnya kami berada di depan anjungan perahu kayu.

Suasana penyeberangan perahu kayu di Pelabuhan Bastiong,  Ternate. Dok Pribadi/ Kingkin Kinamu

“Bawa saja aku ke Gura Bunga, ke mana saja tidak apa-apa,” teman saya berceletuk di perjalanan. Selebihnya, penyeberagan dengan perahu kayu ini menempuh waktu sekitar 20 menit. Di perjalanan, kami mendengar beberapa orang bercakap-cakap. Dialek mereka khas. Dan, itu menjadi bahan amatan kami. Kami memahaminya, namun belum fasih jika harus menirukan.

Gura Bunga – Negeri di Atas Awan

Sampai di Pelabuhan Rum, awan coklat dan hitam masih mendominasi langit Ternate-Tidore. Teman saya melihat kepadatan Ternate dari Rum.

“Ayo ke Gura Bunga,” kami bertolak melalui jalur Ome–Lada Ake–hingga Gura Bunga. Kali kedua saya ke sini, rasanya masih sama: keteduhan.

Kali ini Gura Bunga terselimut awan. Kata masyarakat setempat, Gura Bunga adalah negeri di atas awan.

Gura Bunga merupakan desa yang terletak di pintu masuk jalur pendakian puncak Kie Matubu, Tidore, Maluku Utara.

Melewati hutan lindung, pepohonan yang hijau, sapi, anjing, dan kucing mewarnai perjalanan kami menuju Gura Bunga. Anjing-anjing melenggak-lenggok. Safarina menikmati semua itu dengan kegembiraan seperti ia melahap rokupang. Ha-ha.

Potret sebagian penduduk Gura Bunga ketika kabut turun. Dok Pribadi/ Kingkin Kinamu

Hutan pala dan cengkeh mendominasi perjalanan kami ketika memasuki kawasan Lada Ake. Kami bertemu dengan beberapa penduduk setempat yang sedang berkebun.

Meski cuaca mendung, penduduk setempat rupanya tetap berkebun.

Mendekati Gura Bunga, awan semakin menebal. Tetes air kecil-kecil membasahi muka kami. Namun, kami menikmati semua itu. Berhujan-hujanan.

Biasanya, ketika cuaca sedang cerah-cerahnya, dari Gura Bunga terlihat jelas hamparan nan hijau di bawah. Jika kamu beruntung, saat awan turun hingga Gura Bunga, kamu akan mendapatkan sentuhan lembut awan.

Kami mendapatkan kesempatan tersebut sejak melintasi daerah Lada Ake hingga Gura Bunga.

“Ini bukan hujan, Mbak,” jelas teman saya sembari menikmati alam yang mewah ini.

Penduduk setempat bertanam cengkeh dan pala. Beberapa di antaranya juga menanam kol.

Di zaman ketika Portugis dan Spanyol melakukan ekspedisi rempah-rempah, Tidore dan Ternate menjadi kawasan penting perdagangan mereka. Konon, mereka berhasil membawa pulang bibit cengkeh ke negara mereka dari sini kala itu.

Rindang. Semakin ke atas, semakin kami melihat kesejukan. Alam sedang mendukung ketika kami memasuki wilayah Gura Bunga.

Masjid Gura Bunga, satu maskot di negeri di atas awan ini. Dok pribadi/ Kingkin Kinamu

Ketika memasuki Gura Bunga, kami bertemu dengan beberapa petani, usai dari kebun. Kami melanjutkan perjalanan dengan takjub. Sesampainya di masjid yang menjadi landmark Gura Bunga, kami menyaksikan awan tersebut menyelimuti dengan tenang. Rasa dingin menambah keanggunan desa yang ada di lereng puncak Kie Matubu.

Seorang kawan asal Tidore, I. N pernah berkelakar, jika Gura Bunga adalah desa yang menjadi landmark Tidore, tetapi, hampir semua Desa di Tidore memiliki kisah tersendiri di masa lalu baik ketika masa kesultanan dan mitos lainnya. Bagi kami, setiap tempat memiliki keunikannya sendiri, serta kisah-kisah kearifan lokal di dalamnya yang memperkaya khazanah pengunjung.

“Traveling bukan tentang berkunjung ke tempat-tempat indah. Tetapi memahami bagaimana kehidupan, dan memaknai cara pandang masyarakat sehari-hari dalam menjalani hidup.”

Di pelataran rumah, ketika gerimis sedang turun tipis-tipis, warga Gura Bunga terlihat bercengkerama. Kami menyapa, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pusat kota melalui Soa-sio.

Awan terlihat melewati Gura Bunga sekitar 10 menit lamanya. Lalu, awan itu bergerak ke atas. Kepekatan memudar beberapa detik, digantikan pemandangan hijau.  Lapangan bola yang menjadi landmark Gura Bunga kembali terlihat jelas. Alam seolah menunjukkan kepada kami awan tersebut.

Kami menembus awan, dan bercengkerama. Alam di sini begitu memikat dengan ketenangan dan ketulusan. Di antara waktu 10 menit yang berharga itu, kami mengabadikan dalam mata dan ingatan kami. Meski, kamera bisa mengabadikan semua ini.

Landmark Gura Bunga selain masjid, lapangan sepak bola kala kabut turun. Dok Pribadi/ Kingkin Kinamu
Situasi ketika kabut turun di Gura Bunga, Tidore. Dok Pribadi/Kingkin Kinamu

Hidup telah menuntun kami melihat sulur-sulur kehidupan. Kami merasa kerdil di antara rimbunnya pohon cengkeh, pala, dan tengah samudera. Mereka telah lebih lama berada di bumi ini, menjadi saksi berbagai peristiwa.

“Di sini, kami menjaga pesan leluhur,” jelas kawan saya, I. N namanya.

Tuhan telah memberkahi perjalanan ini dengan kisah-kisah para penduduk setempat yang hidup rukun, saling tenggang rasa. Di desa ini, pintu masuk selamat datang ke jalur pendakian puncak Kie Matubu berada; Gura Bunga – Negeri di Atas Awan.

Akomodasi

Tidak perlu menguras kocek yang cukup banyak. Dari Ternate, para traveler hanya perlu menyiapkan Rp 10.000/orang untuk menyeberang menggunakan perahu kayu, dari Pelabuhan Bastiong. Untuk kendaraan bermotor sendiri dibandrol Rp 10.000/ motor. Jika para pelancong menggunakan kapal feri, perhatikan jadwal keberangkatannya, lebih mudah dan fleksibel jika menggunakan perahu kayu, hampir setiap menit ada keberangkatan, jadi tidak perlu menunggu lama.

Dari Ternate, satu-satunya pintu masuk ke Tidore adalah Pelabuhan Bastiong. Menggunakan perahu kayu 15 – 20 menit adalah waktu yang akan kamu tempuh untuk menuju Pelabuhan Rum.

Menuju Gura Bunga, jangan menggunakan kendaraan roda empat ketika tujuanmu benar-benar ke Gura Bunga. Sebab, jalan berliku dan cukup curam di berbagai kondisi, membuatmu harus berhati-hati dan harus memiliki kemampuan menyetir ulung. Sesekali, mampirlah ke rumah penduduk setempat, mereka akan memberimu segudang kisah tentang tanah kelahiran mereka.

Bagi kami, berputar mengelilingi Tidore telah menggoreskan makna lain tentang hidup. Membawa kami belajar tentang alam dan perilaku-perilaku manusia. Selamat ber-traveling hingga Indonesia Timur!


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

2 Comments

  • Friyansyah -
    Posted July 30, 2020 at 4:22 pm 0Likes

    Sungguh mempesona alam Indonesia timur beruntunglah mereka yang pernah ke sana bahkan tinggal di sana. Terimakasih kingkin atas pengalaman yang membuatku seolah ikut serta mengunjungi tempat indah tersebut. Terus berkarya dan menghasut.

    • Viona
      Posted July 31, 2020 at 3:47 am 0Likes

      Wahhhh ! Membaca ini jadi ingin berkunjung juga ke sana :’)

Leave a comment