Getir

Kholid Yahya


Air langit yang turun dari mendung hitam menyerbu genteng-genteng rapuh, turun di atas tanah, mengalir di teras rumah, hingga melanjutkan ceritanya di sela-sela selokan dan aliran sungai. Pohon belimbing di depan rumah melambaikan daun dan rantingnya, ia menari bersama angin yang menerpanya. Suasana begitu temaram, sepi, dingin, dan sedikit kelam. Tak hanya di luar, di dalam rumah kontrakan kecil di ujung gang sudah ada Aminah yang termenung menunggu suaminya pulang ke surganya. Pulang membawa segepok uang dan cinta. Menyambutnya di balik pintu dan mencium tangan kanannya, atau sesekali mencium kening dan pipi. Menyiapkan makan sore, menyantap bersama, bersenda gurau dan tertawa ria. Itulah idealnya. Akan tetapi, Djarot bukanlah sosok suami seperti gambaran di atas.

            Aminah termenung di meja makannya yang tak lagi berisi, hanya tudung saji yang diam menemani. Kepalanya berputar memikirkan nafkah lahir yang tak kunjung datang ke tangannya, rentenir yang sudah sehari-hari menagih, dan wujud suami yang sudah dua hari ini belum juga pulang. Dua hari lalu Djarot keluar tanpa pamitan mau ke mana, entahlah, mungkin ia kerja atau bersenang-senang mengumpulkan dosa. Aminah hanya ingin hidup bahagia, dengan lelaki pilihannya. Namun, ia merasa sudah tak kuat. Dia punya batasan. Mungkin kata sabar sudah basi bagi dia. Ia sudah kalut, bingung, atau dengan kata lain, stress berkepanjangan.

            Suara bising motor Astrea tua terdengar di halaman rumah. Tanda suami pulang, setelah dua hari menghilang. Dengan raut muka kesal dan marah, Aminah menghampiri, berniat menghardik laki-laki tak berguna.

            “Berapa juta uang yang kamu bawa? Tidak ada?”

            Djarot berpaling, dengan badan basah kuyupnya, ia memutuskan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan istrinya monolog di teras rumah. Aminah membuntuti Djarot seraya berkata, “Hey bangsat! Aku butuh makan, aku butuh kasih. Kamu sudah janji sebelum menikah. Kalau kamu sanggup memenuhi satu-satunya persyaratanku. Tidak banyak, kan? Aku hanya ingin ketika sudah menikah, kita bisa berubah. Ternyata omong kosong! Kamu tetap dengan dunia bodohmu!” amarah Aminah meledak seketika.

            “Janji itu letaknya di mulut, bukan di tangan, apalagi di perbuatan, Aminah. Jadi, jangan berharap lebih dengan janjiku. Oh ya, tidak banyak bukan berarti tidak gampang.”

            “Benar, janji tidak bisa dipegang, tapi setidaknya kamu bertanggung jawab dengan omong besarmu. Kenapa dulu kamu begitu menggebu-gebu ketika ingin meluluhkan hatiku? Tapi sekarang kau acuhkan setelah kamu dapatkan?”

            “Kamu pernah bermain video gim, Aminah? Tahu apa yang orang-orang lakukan ketika mereka sudah menyelesaikan permainannya? Ya, mereka meninggalkannya. Kenapa? Karena tantangan sudah dilewatkan dan sudah tak ada lagi”

            “Aku bukan video gim. Aku bukan penyedia layanan tantangan dan adrenalin bagi laki-laki brengsek sepertimu!”

            Air mata Aminah sudah tak terbendung lagi. Menyungai dari hulu di ujung matanya, sampai ke hilir yang menetes di ujung pipinya. Menangisi nasibnya. Mengapa semua kegetiran hidup menghinggapi tubuh mungilnya. Mengapa masalah dan cobaan tak pernah absen di kehidupannya. Ia merasa tak sanggup. Ia harus pergi dari kota ini. Seketika rumah ibunya terlintas di benaknya.

            Segera ia mengambil kunci motor dan sejumlah barang berharga yang tersisa. Mengelap air mata di sela-sela kelopak mata dan pipi putihnya. Ia geber Honda Astrea dari kontrakan kecil, di ujung gang, di tepian Kota Malang, menuju rumah ibunya di Surabaya.

***

            Angin dingin Kecamatan Singosari menabrak wajah Aminah tatkala dia memacu motor tuanya. Persawahan berkelir hijau tua mewarnai tangisnya. Ia palingkan muka ke sawah lapang yang dilewatinya. Seketika ingatannya mengantarkan ke memori kegetiran tatkala menginjak remaja, awal dari kegetiran yang berbaris rapi pada ruang kehidupannya.

            Siang itu, sepulang sekolah, Aminah dan Syarifudin berjanji bertemu di areal persawahan milik orang tua Syarifudin. Gubuk kecil di tengah sawah menjadi objek dua remaja memadu kasih. Berbincang dan tertawa sepanjang waktu hingga hari menandakan sore. Tatkala semua manusia yang bekerja di sawah pulang ke rumah, Syarifudin dengan gencarnya membujuk Aminah untuk melakukan hal dewasa yang dilarang di semesta agama. Dengan bujuk rayu dan sedikit ancaman, Aminah menuruti keinginan pacarnya. Meskipun, dalam hati kecilnya, ia ketakutan dan menangisi akibat yang akan ditanggungnya.

            “Mas, aku sudah dua bulan sudah tidak berhalangan.” bisik Aminah kepada Syarifudin di lorong kelasnya.

            Syarifudin terperanjat, wajahnya kebingungan mencari alasan. Di dalam dada dan kepalanya terpendam ketakutan dan kemarahan. Ia tarik Aminah ke toilet sekolah, tempat paling aman untuk interogasi kekasihnya.

            “Bagaimana kejadiannya?” tanya Syarifudin membuka interogasi.

            “Bulan lalu aku mual-mual dan tidak enak badan, sudah tidak mens sejak 2 bulan terakhir. Tapi belum aku cek, aku masih takut, benar hamil atau bukan.”

            “Kalau benar hamil?”

            “Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku masih ingin sekolah. Aku malu dengan keluarga, tetangga dan teman. Aku tidak mau.”

            “Aborsi!”

            Ketika mendengar kata itu, tangis Aminah terpecah. Rasa dilematik menggelayuti hatinya. Di satu sisi ia tidak ingin hamil dan tetap hidup normal seperti sedia kala, namun di sisi lain ia tak tega membunuh buah hatinya.

            “Kita akan gugurkan sekarang, ya.” suara lembut Syarifudin membujuk Aminah.

            Aminah menggeleng, rasa sayang kepada jabang bayinya ternyata lebih besar. Di lubuk hatinya, ia meminta tanggung jawab kepada Syarifudin atas perbuatan hinanya.

            “Hei dengar, kita akan pulang. Kuantar kau ke bidan kenalanku. Kita amankan ini semua. Tidak ada jejak, tidak ada bukti. Aku yang menjamin. Kita tidak akan malu ke keluarga dan teman. Kita bisa melanjutkan hidup seperti sedia kala. Tidak ada yang berubah.” rayu Syarifudin lagi.

            Aminah tetap menggelengkan kepala serta diiringi tangis yang tak tahu kapan hentinya. Batinnya bergejolak tiada henti. Ia benar-benar bingung dengan semua ini, yang Syarifudin lupakan, aborsi memberikan luka trauma yang kejam kepada korbannya.

            “Lalu mau kau apakan anak ini? Kau berangan-angan kita hidup bersama dengan seorang manusia mungil di antara kita? Kau berangan-angan tidurmu terbangun ketika ia menangis meminta jatah asinya? Kau berangan-angan bisa mencubit wajah lucu dan gemasnya? Dan kau berangan-angan melihat aku dan bayimu bermain bersama-sama? Tidak mungkin, Aminah. Aku tidak siap sekaligus tidak sanggup.

            Jika tidak kau gugurkan sekarang, apa yang kau harapkan, Aminah? Berharap anakmu jadi sepintar Einstein tatkala ibunya sendiri nilai matematika selalu merah? Berharap anakmu menjadi sekaya Bill Gates ketika ibunya membayar SPP saja selalu menunggak? Apalagi berharap anakmu menjadi penceramah sementara ia dilahirkan tanpa ayah dan di luar nikah? Kau sudah gila, Aminah!” 

            Syarifudin kehabisan akal serta kehilangan kendali atas dirinya, Aminah diseret menuju lapangan parkir sekolah. Ia dipaksa menaiki motor sport milik Syarifudin. Tangis yang mendera Aminah belum juga reda, Syarifudin memacunya menuju bidan kenalannya. Sekali lagi, Aminah dipaksa menenggak pil aborsi yang tak diinginkannya. Hidupnya kini hancur bersama mimpi-mimpinya. Menyaksikan darah keluar dari alat kelamin begitu derasnya. Takdir yang benar-benar tak pernah dibayangkan.

            Akan tetapi, kesialan sekali lagi menimpa tubuh mungil Aminah. Kabar kehamilan sekaligus aborsi mengguncang sekolah, keluarga, dan teman-temannya. Ia tertunduk malu akibat dari perbuatan yang sama sekali tak diinginkannya. Sekolah menanggung malu, menemukan anak didiknya melakukan hal tabu. Surat drop out segera dicetak dan disodorkan kepada Aminah. Nama sekolah tak ingin ‘tercemar’ sebagaimana selama ini dikenal sebagai sekolah teladan dengan menjual prestasi mentereng beberapa siswa berprestasinya.

***

            Tak terasa air mata sudah meluber hingga ke ujung muka. Mengering oleh terpaan angin sejuk khas Lawang. Di ujung penglihatan, jalan layang Lawang sudah menanti untuk dilewati. Di sebelah kanan jalan, terlihat jajaran pabrik beserta asap dan polusinya ‘merusak’ pemandangan indah gugusan bukit yang berjejer. Ah sial. Melihat bangunan pabrik membuat ingatan Aminah terlempar pada perjalanan hidup yang lagi-lagi membuatnya suram dan menyedihkan.

            Mimpi-mimpi Aminah sudah terputus semenjak bersekolah bukan lagi menjadi aktivitas sehari-hari. Untuk membantu perekonomian keluarga dan membunuh waktu luang, tawaran menjadi buruh harian di sebuah pabrik pengelolaan ikan ia terima tanpa pikir panjang. Penghasilan tetap, bonus yang melebihi angan-angan, jam kerja yang manusiawi, dan sejuta iming-iming lainnya membuat ia terpanah. Dia layangkan surat lamaran ala kadarnya kepada HRD yang terhormat. Tak apalah tak menjadi seorang guru yang sempat ia cita-citakan. Tidak diusir dari keluarga sudah cukup bagi dia. Begitulah suara putus asa Aminah tatkala stress berkepanjangan melanda.

            Panggilan untuk segera bekerja akhirnya ia terima. Ia tersenyum dan tertawa di saat yang sama. Ini cukup untuk mengobati rasa luka dan sedih yang kemarin melandanya. Ia berangkat dengan riang gembira, mengenakan pakaian terbaik, make-up terbaik, dan semangat hidup yang terbaik, berangkat ke episentrum rezeki barunya.

            Hampir satu purnama akan terlewati, Aminah bekerja cukup keras di sana. Berangkat pagi pulang malam sudah menjadi repetisi hariannya. Ia mengaku capek dan lelah. Ia berencana mengadu ke ketua serikat kerja yang mewadahi suara para buruh dan karyawan. Tubuhnya tak kuat jika dipaksa bekerja seperti Romusha di masa pemerintahan Jepang dahulu kala.

            “Mohon maaf, Mas Karim, apa memang seperti ini cara kerja di sini?” Aminah membuka obrolan dengan Karim, ketua himpunan serikat pekerja di sana.

            “Kamu mau ngomong masalah pekerjaan di sini?”

            “Ya, Mas”

            “Nanti setelah jam istirahat makan siang, kamu bisa ke ruangan saya”

****

            Jam sudah menunjukkan angka 12, bel dibunyikan, seketika ratusan buruh dan karyawan menyemut keluar dari sarangnya. Setelah menyantap bekal masakan ibunya, Aminah bergegas menuju ruangan Karim, dia berusaha mencurahkan semua kegelisahan tentang keadilan sampai bayaran.

            “Ada kendala, Aminah?” Karim memulai percakapan sekaligus memecah keheningan ruangan.

            “Mohon maaf sebelumnya, Mas. Dari 15 hari yang lalu saya mengambil lembur dan ketika saya cek perkiraan gaji yang akan saya dapat bulan depan, saya rasa terlalu kecil. Kalau hanya dua juta rasanya masih kurang, belum lagi potongan penalti karena kerusakan barang, yang kena kan kita-kita juga, Mas.”

            “Lalu?”

            “Saya perlu solusi, Mas. Teman-teman juga mengeluhkan hal yang sama. Terlalu banyak pekerjaan, tapi upah tak sebanding. Apakah bisa Mas Karim sampaikan ke pimpinan?”

            “Tidak bisa!”

            “Kenapa, Mas? Kan Anda sendiri ketua pekerja di sini”

            “Anggaran gaji karyawan hanya 1/5 dari total beban perusahaan. Sudah maksimal. Kita mau bagaimana lagi?”

            “Kita bisa demo. Menuntut keadilan upah kita. Kehidupan yang lebih layak. Bukankah begitu seharusnya dari adanya serikat pekerja?”

            “Di sini berbeda, Aminah”

            “Di mana letak perbedaannya?”

            Karim mulai berdiri dari kursinya. Menghampiri Aminah di seberang meja.

            “Justru serikat ini untuk mengontrol orang-orang sepertimu. Kamu terlalu pintar hanya untuk menjadi seorang buruh. Saya kasih dua pilihan. Pertama kamu menjadi bagianku, menjadi ‘algojo’ bagi teman-temanmu. Atau dengan sangat terpaksa, kamu bisa pergi dari sini.”

            Aminah tercengang. Kepalanya kini sibuk memutuskan, menjadi ‘musuh’ bagi teman-teman seperjuangan, atau secara terpaksa dia harus keluar dari satu-satunya sumber penghasilannya. Tak lama kemudian dia memutuskan

            “Sudah ada berapa orang yang dipecat?”, tanya Aminah. Disusul Karim mencari tumpukan berkas di atas lemari.

            “Sejauh ini sudah 23 orang”, jawab Karim enteng

            “Saya yang menjadi nomor 24.”

            “Terlalu cepat memutuskan. Tetapi, saya harap kamu sudah tahu akibatnya.”

            “Akibat?”

            “Tebakan saya benar. Kamu tidak membaca kontrak kerja. Di lembar kedua, bagian bawah: Jika sewaktu-waktu kedua belah pihak menyetujui pemberhentian hubungan kerja. Pihak kedua (pekerja) bersedia tidak menerima gaji selama satu bulan kerja. Jelas dan konkret, masih yakin?”

            “Jelas tidak bisa, Mas!”

            “Peraturan tetap peraturan. Kamu sudah tanda tangan di sini. Ambil atau tinggalkan”

            “Pesangon?”

            “Kamu bahkan belum satu bulan bekerja di sini. Intinya adalah keringatmu tidak bisa menghasilkan apa-apa jika kamu memilih keluar. Saya tahu ini pilihan yang rumit. Siapa lagi yang kamu pikirkan kalau kamu menjadi bagian kami? Teman-temanmu? Bahkan mereka tidak memberimu beras, tidak memberimu uang. Jadilah manusia realistis. Hidup memang butuh siasat. Entah itu kamu yang membunuh atau kamu yang dibunuh”

            “Saya memang miskin, tapi tidak sehina itu Mas!”

            “Bagian mana yang menurutmu pekerjaan sepertiku ini hina? Bos hanya tidak ingin ada demo dan kegaduhan di dalam perusahaannya. Jadi dia membentuk serikat ini. Secara teknis hanya untuk mengatur dan mengontrol. Mengusir manusia-manusia bandel sepertimu. Kemudian memasukkan gadis-gadis polos seperti kamu pertama kali masuk. Begitu seterusnya. Jadi, bagian mana yang hina? Lebih baik terlihat jahat sambil mengendarai BMW daripada terlihat berwibawa tapi hanya Astrea tua yang kamu kendarai.”

            Dengan raut muka yang menandakan marah, Aminah bergegas meninggalkan ruangan semi-neraka itu. Mengambil barang bawaan dan tas pundak lusuh yang tergeletak di lantai bawah. Air mata ia masih tahan disambi bersalaman dan berpamitan kepada rekan sejawatnya. Astrea tuanya dia gas keluar dari pabrik yang selama 27 hari kerja dia pulang-pergi dari sana, dengan mengharap mendapat segepok uang dan rezeki. Di sepanjang jalan pulang, air mata sudah menggenang-menyungai di pipinya. Isi kepalanya masih berkutat di antara kemarahan dan penyesalan.

            Satu bulan berikutnya, Aminah memilah berkas-berkas yang berceceran di atas lemari. Map coklat sedikit berdebu, di atasnya tertulis dengan jelas nama perusahaan terdulu. Di bukalah. Kontrak kerja sebanyak 3 lembar ia baca lagi dengan cermat. Dan tak ada klausul kontrak seperti yang disebutkan oleh Karim. Setelah ditelusuri, semua gaji dan upah lembur yang menjadi hak milik Aminah, masuk ke kantong pribadi milik Karim. Sempurna.

****

            Mengenang kisah panjang yang menghiasi kehidupan Aminah tak terasa telah mengantarkannya ke perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Terminal Purabaya dengan manusia hilir mudiknya, menjumpai manusia bertemu dan berpisah di saat yang sama. Dilanjutkan dengan memasuki bundaran Waru yang memisahkan dua kota. Aminah masih melajukan sepeda motor tuanya. Hatinya sedikit tenang dan senang, sebentar lagi tujuannya akan sampai. Di satu sisi, amarah dan kesal kepada suaminya masih bergejolak di dalam dadanya.

            Rumah kecil nan sederhana di ujung gang buntu menjadi pemberhentian terakhir perjalanan Aminah. Mesin motor dimatikan. Ia ucapkan salam dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan. Ingin sekali merebahkan badan dan mencurahkan isi kepala dan seribu beban yang menari di pundaknya kepada orang tua satu-satunya.

            “Wa’alaikum salam. Kenapa kamu tiba-tiba datang dan menangis, Nak? Bertengkar lagi?” tebak Ibu Sumi kepada anaknya.

            Aminah hanya mengangguk pelan. Ia bergegas masuk dan seketika merobohkan badannya di kursi rotan tua di ruang tamu. Ibu Sumi segera menutup pintu dan mengambilkan segelas air putih untuk menenangkan putri bungsunya.

            “Djarot berulah kembali?” tanya Ibu Sumi sekali lagi.

            Dan Aminah lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah tak perlu lagi menjelaskan, toh tebakan ibunya sudah sangat tepat. Rasa seorang ibu.

            “Itu sebabnya dulu ibu tak setuju dengan dia. Bapakmu sebelum meninggal juga tak senang dengan dia. Mabuk-mabukan. Pekerjaan tak jelas. Kamu masih saja ngotot dia bakal berubah. Emang sebesar apa kuasamu untuk mengubah laki-laki seperti itu?” omel Ibu Sumi.

            “Ibu juga bukan mertua yang baik bagi dia.” jawab Aminah spontan.

            “Apa?”

            “Ibu juga tak kuasa melarang dia. Sekadar mengomeli seperti ini pun ibu tidak mampu. Ketika kami berkunjung kesini, ibu berlagak baik di depan dia. Tapi sangat fasih ngedumel di belakang dia. Ibu juga masih berstatus orang tua kan bagi menantunya, masih berkewajiban menasihati kalau dia salah. Dia memang bukan laki-laki pilihan ibu, tapi mengapa dulu ibu memaksaku menikah hanya karena tak kuat digunjing para tetangga? Hanya karena putrinya yang tak kunjung menikah?”

            “Sejak kapan kamu belajar menghardik orang tua?”

            “Sejak ibu tak peduli dengan darah dagingnya sendiri.” seloroh Aminah.

            “Kamu bahkan bukan darah daging saya.”

            Ibu Sumi tak sadar kata-kata yang keluar dari bibirnya membuat suasana ruang tamu semakin mencekam. Aminah terdiam. Ia segera mengemasi barangnya dan meninggalkan rumah. Rumah yang selama ini ia jadikan untuk pulang, berkeluh kesah dari jahatnya dunia, kini berubah menjadi hancur. Sekali lagi, kegetiran di hati Aminah berkunjung untuk ke sekian kalinya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment