Gerak Keseimbangan

Syauqy Fuad


PUCUKMERA.IDKonon, inti dari hidup adalah gerak. Tanpa ada gerak, mustahil terwujud perubahan. Saat perubahan tidak terwujud, perlahan namun pasti kemandekan akan hadir. Hidup yang mandek, tidak mengupayakan perubahan. Apa menariknya? Seperti kehilangan daya, gairah, dan elan pentingnya.

“Hidup yang tidak dipertaruhkan,” kata Friedrich Schiller, “Tak layak dimenangkan.” Berdayalah selalu dalam gerak, maka potensi menang akan lebih realistis diwujudkan. Sebaliknya, tidak perlu menunggu maut menjemput, berhentilah bergerak, maka kematian lebih cepat menjelang.

Gerak manusia, konon kata sebagain sejarahwan, sebagaimana gerak dalam pegas: Siklik dan eskalatif. Satu demi satu tahapan dalam hidup berada dalam putaran yang seperti berulang saja. Mengulang kejadian. Hanya saja dengan aktor, konflik, dan tingkat kesulitan berbeda.

Lihat alur kehidupan: Lahir, tumbuh, berkembang, dan mati. Begitu saja, kan? Hanya lakon dalam teater yang hidupnya berbeda: Latar dan waktunya. Karenanya, seseorang yang kita hormati karena usianya, sebenarnya kita hormati karena kearifannya yang telah lebih dahulu mengalami putaran eskalatif hidup.

Maka, setidaknya, perlahan-lahan bisa membiasakan diri untuk menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dalam gerak hidup: Kapan lulus, bekerja, nikah, memiliki anak, sekolah lagi, punya anak lagi, nikah lagi (?). Meski itu menyebalkan, tetapi tidak bisa dielakkan, bahwa hidup adalah sekadar singgah dari jawaban satu pertanyaan menuju jawaban pertanyaan lain. Berputar. Meningkat.

*

Seperti gerak dalam lingkaran, jika masih ingat pelajaran sekolah dulu, dapat mencapai titik keseimbangan karena dua macam gaya: Sentripetal dan sentrifugal. Sederhananya, gaya sentripetal adalah gaya yang selalu menuju pusat inti. Agar seimbang dalam gerak melingkar, harus ada gaya yang menjauh dari pusat inti. Gaya ini disebut gaya sentripetal. Kedua gaya ini yang memungkinkan terjadinya keseimbangan saat bergerak dalam poros lingkaran.

Pun dalam hidup. Jika diri adalah pusat semesta (beberapa ahli menyatakan manusia adalah semesta kecil atau mikrokosmis), maka gerak diri harus seimbang antara gerak ke luar dan ke dalam. Dengan tidak bermaksud menyederhanakan, bergerak ke luar bagi diri berarti adalah upaya untuk meraih eksistensi diri: pendidikan, pekerjaan, prestasi, karya dan lain-lain. Dengan demikian, bergerak ke dalam adalah upaya memaknai esensi diri: kebahagiaan, kesejahteraan, keberanian, dan kebijaksanaan.

Jika bergerak ke luar diri bersifat jasmani, maka bergerak ke dalam lebih sebagai olah jiwa. Berprestasi sekaligus bahagia. Bekerja sekaligus sejahtera. Berkarya sekaligus berlatih bijaksana. Berjuang sekaligus memupuk keberanian.

Di usia yang lepas dari belasan, kepingan perjalanan untuk meraih eksistensi sekaligus esensi diri telah melalui ujian pendadaran berkali-kali. Jatuh dan bangun. Tawa dan tangis. Gagal dan coba lagi. Berpasangan dan menjomlo. Dalam kurun perjalanan, kita semakin menyadari lingkar pertemanan dan persahabatan kita terbayas dan itu-itu saja. Sederhananya: Kita bisa menjumpai banyak teman, namun hanya sebagian saja yang kita dapuk sebagai sahabat.

Sebanyak apa pun orang-orang yang kita jumpai dalam setiap perjalanan, perasaan nyaman hanya akan dirasakan dengan orang-orang tertentu saja. Jejaring pertemanan yang mendukung eksistensi diri, pada sisi yang lain, tidaklah sama dengan jejaring pertemanan untuk melalui hidup bersama.

Sepanjang dan sejauh apapun jarak yang ditempuh selama proses mencapai eksistensi, ujungnya melabuhkan hati untuk melarung harapan bersama. Itulah sebuah capaian esensi diri yang utuh, genap.

Berjejaringlah, lalu, menikahlah saat siap. Selamat bergerak, berlabuh, dan berlayar.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment