Gejolak Rasa Mahasiswa Lama

Intan Gandhini
Anggota komunitas Kampus Literasi, penggagas komunitas Pelangi Aksara


PUCUKMERA.ID – Pagi ini awan redup menyelimuti sisi-sisi langit, seakan menunjukkan suasana hati yang memang sedang tertutupi oleh suatu hal. Syukurnya, rerintik air hujan tidak turun. Karena sang surya sepertinya enggan meenampakkan cerianya.

Sembari membuat secangkir kopi Torabika, aku membaca Instagram story milik kawan yang selama ini ibarat perangko denganku, lengket terus. Seperti Honda yang one heart, dan punya visi yang sama juga layaknya Yamaha selalu di depan.

Namun kala itu, ada yang sedikit berbeda dengan kondisi persahabatan kami karena suatu hal. Ia memutuskan untuk menjauh. Mungkin karena suatu hal, kami sudah sama-sama berada di titik akhir, titik di mana perjuangan memang harus terus digalakkan. Semangat harus terus ditambah. Kata apa yang pantas kami terima selain berusaha menerima bahwa kami adalah seorang mahasiswa lama?

Ada banyak hal yang tiba-tiba saja terjadi di luar prediksi. Tugas akhir seakan menjadi beban hidup yang setiap malam hadir menghantui mimpi. Mengoyak segala rasa hingga menjadi sebuah topik utama yang selalu tinggal dalam pikiran dan sudut hati.

Mulai dari satu persatu kawan yang memutuskan untuk pergi dengan dalih mengutamakan tujuannya sendiri, hingga beberapa panutan yang seakan ingin menasehati namun tak ada bedanya dengan melukai. Ah, apa ini sudah lagunya? Mungkin.

Dengan gemetar aku buka history Whatsapp beberapa dari mereka, yang sedikit banyak telah memposting hasil pencapaiannya pada minggu awal di bulan terakhir tahun lalu. Baru saja sebentar tetapi rasanya sudah pusing, berat sekali mengangkat kepala, dan serasa ingin pingsan saja. Rasanya mengalahkan saat melihat sang mantan berbahagia dengan kekasih barunya, atau juga menahan pahitnya tumis daun pepaya. Sesakit itu.

Tak apa sebenarnya, jika pencapaian kita tidak sama dengan pencapaian orang lain, atau orang lain berada pada posisi lebih terdepan dari kita. Itu bukan sebuah kesalahan yang melanggar hukum Tuhan, atau suatu hal yang sangat buruk dalam norma masyarakat. Sama sekali bukan.

Tetapi secara tidak langsung semua itu membuat hati dan pikiran berada sejauh Papua dengan Kalimantan. Menjadi sulit untuk disatukan. Berkecamuk penuh angan, namun terpaksa pupus sebab dihantam kenyataan.

Lamunanku terbuyarkan oleh suara Bapak yang memanggilku dari depan. Suaranya yang khas mampu memecahkan konsentrasiku yang sedang membayangkan sesuatu. Sembari berjalan menuju arah Bapak, aku ucap lirih untuk menenangkan hati sendiri, “Tak apa.” Hanya kalimat itu yang saat ini menjadi obat penawar ampuh untuk sekadar mengembalikan semangat yang entah mengapa mulai luruh.

Bapak menyuruh untuk memindahkan beberapa trophy yang berjajar di meja tengah, sambil memberikan kemucing di tangannya. Trophy itu kupindahkan ke lantai secara bergilir, dan perlahan coba kubaca satu persatu tulisan yang ada di badan trofi itu. Yang secara tidak langsung membawaku ke alam lain yakni membayangkan bagaimana aku mendapatkan semua trofi itu dulu.

Meski harus berderai air mata tapi sejujurnya semua perjuangan itulah yang membuat hidup menjadi lebih istimewa. Meski kerap ingin menyerah, namun teringat lagi beberapa kisah yang semakin membuat semangat untuk melangkah. Memang benar sekali, bahwa pengalaman adalah guru terbaik bagi setiap kehidupan manusia.

Tanpa sadar, air mata luruh dan perlahan mencair di pipi, seakan tahu bahwa hujan gagal membasahi bumi. Kuusap pelan dengan jemari kiri. Sambil menatap tajam pada tumpukan buku yang sejak minggu lalu kucari. Susah payah aku harus antre nomor masuk perpustakaan, dan saat tiba di rumah seakan hanya sebagai hiasan.

Tidak bisa jika hanya begini saja. Tidak akan sampai jika usahaku hanya sebatas itu-itu saja. Aku akan lambat untuk tiba di tujuanku jika tidak bergerak cepat mengalahkan ego yang menyelinap dalam batinku.

Terkadang, memang Tuhan memberikan sebuah rasa yang entah bagaimana caraku menghadapinya. Sebuah keadaan di mana rasanya ingin memilih pulang saja daripada melanjutkan langkah untuk menuju muara. Sebab tak ada lagi sosok yang biasanya selalu ada di setiap masa. Menemani saat suka maupun duka.

Tapi jauh dari itu sebenarnya Tuhan telah siapkan yang terindah, terbaik, dan termanis. Hanya saja Tuhan ingin tahu seberapa besar keyakinan dan langkahmu dalam mencapai semua itu. Yang Tuhan mau adalah kesungguhan hati, keikhlasan rasa, agar semua yang kamu inginkan tidak hanya sebatas angan. Bagi-Nya tidak ada sesuatu hal yang sulit, sebab Ia memiliki kuasa untuk merubah segala keadaan hamba-Nya.

Untuk setiap hati yang pernah merasakan segala hal ini, percayalah. Takdir indah dari Tuhan akan selalu ada. Tugas kita adalah terus berjalan untuk menapaki kehidupan sebab kita memang hidup. Jadi, tidak ada kata “Sudahlah,” atau “Aku ingin menyerah saja,” Tidak! Menjadi kuat dan lebih baik adalah jawabannya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment