Distopia

Nindia Syamsi A
Penulis Pucukmera.id


Grafik-grafik di layar monitor menunjukkan pergerakan. Aktivitas jantung kembali normal. Hanya saja kondisi paru-paru dan microchip kotak suara masih terus memburuk. Perasaan lega menjalari tubuhnya. Lagi-lagi ia merasa sungguh berterima kasih pada buku panduan keterampilan klinisnya saat semester tua. Tindakan resusitasi jantung yang ia lakukan kembali berhasil menyelamatkan sebuah nyawa.  

Dokter Muda Re bergumam, “Dimana dokter Zhe? Siapa tamu yang datang sampai ia melupakan keselamatan pasien istimewa ini?” 

Hembusan napas berat pasien dan sang dokter muda beradu di langit-langit kamar perawatan. Ia kembali melayangkan pandangan ke dalam ruangan. Memutuskan untuk berhenti menunggu sosok Dokter Zhe muncul dari balik pintu. “Kalian bisa kembali ke kantor, biar saya yang menjaga Prof Lee di kamar ini sampai Dokter Zhe kembali.”

Para perawat yang ikut menangani masa kritis Prof Lee dengan senang hati menerima perintah Dokter Muda Re. Mereka tidak bisa menahan diri lama-lama berada di ruangan tersebut karena takut terjangkit Virus Co dari tubuh Prof Lee. Lagi-lagi makhluk tak kasat mata ini kembali menghantui.

Hari ini belum genap satu tahun sejak sebuah sejarah terulang. Suatu hari, pada masa seluruh benua sedang giat-giatnya bangkit dari kejatuhan sistem perekonomian akibat pandemi pertama. Pabrik diperbanyak, tambang diperbesar, lahan sawit diperluas. Sebuah virus baru muncul di pesisir Kota Wu. Cikal bakal pandemi kedua.

Para nelayan tak menyadari air laut yang semakin hari semakin asam. Ikan-ikan dijala dan dimakan seperti biasa. Sampai, salah satu keluarga terjangkit penyakit asing karena mengonsumsi ikan yang tercemar. Terlambat, ikan-ikan tersebut kadung dijual. Virus pun menyebar. Akhirnya, penduduk bumi harus kembali menghadapi pandemi kesekian. Rupanya alam kehabisan cara agar manusia berhenti serakah dan merusak. Betapa manusia benar-benar sulit belajar dari kesalahan kawanan mereka terdahulu.

Dokter Muda Re beruntung. Antibodi Virus Co sudah terbentuk dalam tubuhnya. Bukan karena dokter muda Re pernah tertular. Tapi, ayahnya adalah salah satu ahli virologi di perusahaan farmasi milik negara. Diam-diam ia sudah mendapatkan akses khusus untuk penyuntikan vaksin teranyar lebih dulu dari khalayak umum.

***

“Kau lihat? Dokter muda itu jauh lebih peduli dari dokter Zhe. Dia bahkan berani mengambil risiko untuk menjaga keamanan Prof Lee dari keluarga politikus haus suara itu. Bayangkan saja, mereka sudah mendapat sumbangan suara dari microchip banyak orang untuk kepala keluarganya, dan sekarang masih menginginkan suara dari microchip Prof Lee yang sedang sakit untuk anak dan sepupunya.”

Perawat terakhir yang menutup pintu kamar perawatan bergegas mensejajari langkah teman-temannya. Ia tidak ingin tertinggal cerita menarik yang sedang hangat diperbincangkan di sudut-sudut asrama atlit yang kini menjelma menjadi sebuah rumah sakit darurat yang modern.

“Kau terlalu sibuk memikirkan kelompok elit di pemerintahan sampai abai kelompok elit di dunia medis juga tak kalah kuat,” seorang perawat senior tersenyum kecil. Ia melanjutkan perkataannya dengan lebih lirih, “Ayah dokter muda Re adalah jajaran peneliti di perusahaan farmasi negara, dan ibunya adalah pengurus pusat kolegium kedokteran. Dokter muda Re pasti sudah dipersiapkan untuk menduduki kursi direktur rumah sakit. Jika nantinya regulasi rumah sakit bisa mereka kendalikan, program vaksinasi dua-tiga tahun kedepan bisa jadi bisnis yang menggiurkan bagi keluarga dan teman-teman mereka yang berada dalam rantai distribusi.”

Perawat senior masih belum tampak ingin mengakhiri hipotesanya, “Jika dokter muda Re berhasil mendapatkan simpati Prof Lee, ia akan dengan mudah pula mendapatkan sumbangan suara Prof Lee dan menggunakan suara tersebut untuk memenuhi keinginannya. Apalagi microchip milik Prof Lee menyimpan suara yang lebih kuat dari microchip lain. Semakin kuat suara yang ia punya, semakin tinggi jabatan yang bisa ia duduki di rumah sakit ini”

“Analisamu terlalu jauh. Dokter Muda Re tidak seburuk itu,” seorang perawat wanita menarik napas kesal. Dokter Muda Re pernah begitu baik saat ia membutuhkan pertolongan beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya ia juga tak rela dokter tampan kegemarannya mendapat sentimen negatif dari teman-teman seprofesinya. Keberadaan Dokter Muda Re lah yang membuat ia bertahan di tengah membludaknya pasien rumah sakit.

***

[Flashback] Satu kabar baik di tengah kedatangan berita buruk yang berturut-turut. Prof Lee, Salah seorang ilmuwan masyhur di Kota Wu, mengumumkan penemuan terbarunya di hadapan publik. Sebuah microchip kotak suara.

“Kita pasti sama-sama masih mengingat, betapa banyaknya huru hara yang terjadi di pemerintahan negeri saat pandemi pertama. Terlalu banyak suara orang-orang bersuara kecil yang terbuang sia-sia di jalanan, terutama di depan gedung-gedung pemerintahan. Akhirnya mereka yang kehabisan suara  kesulitan untuk makan, bersekolah, dan mendapatkan pekerjaan.”

“Kebutuhan orang-orang bersuara kecil banyak tergeser oleh keinginan orang-orang bersuara besar. Suara mereka terlalu mendominasi ruang publik. Maka dari itu, Microchip kotak suara ini hanya akan diperuntukkan bagi orang-orang bersuara kecil agar suara mereka lebih didengar. Sehingga kelak, tidak akan ada lagi kesenjangan dalam bersuara.”

“Tidak akan ada pungutan. Kotak suara ini sudah seharusnya menjadi hak rakyat bersuara kecil. Biaya produksi diambil dari pajak-pajak yang sudah kita bayar selama ini.”

Layar tertutup tak lama setelah Prof Lee mengakhiri penjelasannya. Tepuk tangan menggema. Hadirin dalam simposium terlihat gembira.

***

“Halo, ada apa, Re?”

“Pa, kenapa vaksin sudah diizinkan untuk disuntikkan pada pasien dengan microchip kotak suara hari ini? Bukankah uji coba tahap pertama baru saja selesai satu minggu yang lalu?”

“Apa yang sedang kau bicarakan? Tidak ada vaksinasi untuk pasien dengan microchip kotak suara hari ini.”

Sial.

Dokter Muda Re mempercepat langkahnya.

“Apakah ada vaksin lain selain vaksin Mod? Satu jam yang lalu Dokter Zhe menyuntikkan obat ke Prof Lee, katanya itu vaksin virus Co. Kalau aku tidak salah baca, namanya Pil Kada”

“Tidak ada, Re. Dan, Pil Kada? Seingat papa pil itu diproduksi terbatas. Prof Lee sendiri yang membuatnya atas saran dari politisi Fay. Pil itu digunakan untuk menyedot isi microchip kotak suara. Kabarnya, guna berjaga-jaga, jika kelak ada suara-suara yang perlu diambil karena berpotensi membahayakan stabilitas negara atau sebab-sebab mendesak lainnya.”

Tega sekali Dokter Zhe.

“Nanti kita lanjutkan di rumah ya, Pa. Ada yang harus Re Kerjakan. Terima kasih, Pa.” Dokter Muda Re memutus sambungan telepon tepat ketika ia sampai di depan pusat kendali kamera pengawas rumah sakit.

Aku harus mengamankan barang bukti.

Dokter Muda Re segera menghampiri petugas ruang kendali.

“Tolong putar rekaman di sekitar ruang perawatan Prof Lee dan selasar di depan ruangan Dokter Zhe sekitar pukul 09.00 – 10.00” Dokter muda Re memberi instruksi pada petugas penjaga ruang kendali. Ia ingin tau siapa yang datang mengunjungi Dokter Zhe.

Kursor bergeser ke arah sebuah file. Klik.

Petugas ruang kendali mengernyitkan dahi, “Mohon maaf, Dok. Isi rekaman kosong. Sepertinya kamera pengawas di sekitar area tersebut sedang dalam perbaikan pada hari ini.”

Dokter Muda Re menghela napas, kali ini lebih panjang.

Ini benar-benar memalukan. Sumpah mulia seorang dokter habis tergadaikan hanya demi iming-iming uang dan kekuasaan.

***

“Teman-teman, siapkan diri kalian untuk membantu Dokter Zhe melakukan operasi pengangkatan microchip suara yang sudah kosong milik Prof Lee.” seorang perawat memasuki kantor dengan tergesa-gesa.

Di sisi lain ruangan, perawat senior melemparkan senyum penuh kemenangan pada seorang perawat wanita dengan raut muka kecewa di hadapannya, “Tidak, Bukan Dokter Muda Re penyebabnya.” perawat wanita itu segera menyanggah begitu perawat senior berdiri dari duduknya. “Virus Co yang membuat microchip itu rusak dan kehabisan suara. Bukan Dokter Muda Re penyebabnya.”

“Sampai kapan mau mengelak? Sudahlah, berhenti mengagumi Dokter Muda Re, ya?”

Pintu ditutup. Perawat senior berjalan keluar ruangan. Tak lama, telepon genggamnya berbunyi. “Halo. Ya, tugas saya selesai. Tidak. Sejauh ini aman. Nama anda bersih, Dokter Zhe. Tidak ada yang mencurigai anda.”


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment