Di Manakah Tempat Teraman Bagi Perempuan?

Fidella Sita Aprila
Anggota Al Birru Organizer Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Yogyakarta


PUCUKMERA.IDDi dunia ini rasanya tidak ada tempat aman bagi seorang perempuan.

Saya selalu miris, ketika sedang berselancar di internet. Ketika mencari tulisan ataupun berita perihal perempuan, yang paling banyak muncul adalah berita tentang kekerasan yang dialaminya. Mulai dari kekerasan fisik dan verbal, seksual, hingga pembunuhan. Bulu kuduk saya selalu merinding meski hanya membaca judulnya saja. Padahal, perempuan adalah mahluk ciptaan Tuhan yang harus dilindungi dan diperlakukan dengan lembut. Memang, kekerasan tidak memandang gender, tak jarang juga laki-laki mendapatkan perlakuan serupa. Tapi, jika kita lihat, mengapa perempuan rentan mendapatkan kekerasan?

Akar dari permasalahan tersebut adalah budaya patriarki yang masih melekat pada masyarakat. Anggapan bahwa laki-laki lebih berkuasa dibanding perempuan, memunculkan stigma bahwa laki-laki bisa melakukan apa saja yang mereka sukai dan menguasai perempuan. Padahal, dalam agama Islam, perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang setara. Artinya, tidak ada siapa yang menguasai siapa, siapa yang lebih tinggi, semuanya sama saja.

Selain itu, budaya ‘istri harus patuh kepada suami’ sering disalahartikan. Sekalinya istri memberontak ketika mendapatkan kekerasan, maka suami akan semakin geram dan membentaknya, bahkan melabeli istri mereka dengan tidak patuh kepada suami. Masa ketika diperlakukan tidak adil, kita sebagai perempuan harus tetap manut dan diam saja? Sudah gak waras!

Mengapa Kekerasan Bisa Terjadi?

Setiap akibat, pasti ada penyebab, begitupun dengan kekerasan. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi, mengapa kekerasan masih bisa terjadi, bahkan di zaman modern sekarang.

Biasanya, dalam rumah tangga, kekerasan kerap terjadi karena faktor ekonomi dan pendidikan. Begini kira-kira gambarannya. Si suami adalah pengangguran malas yang tak pernah mencari kerja, sedangkan istri memiliki keterbatasan dalam mencari pekerjaan. Akhirnya, karena kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi, si istri ngambek ke suami, “Kau kira anak-istri bisa diberi makan angin kosong!” Emosi sang suami meluap, terjadilah kekerasan yang terus menerus dilakukan. Mana kala si suami sedang penat pikiran, istri terbiasa jadi sasaran empuk.

Hal ini juga sejalan dengan kurangnya kesadaran perempuan bahwa: sekali pelaku kekerasan, selamanya pelaku kekerasan! Perempuan yang penuh stok sabar, biasanya selalu berdalih, “Saya yakin, suami saya hanya emosi sesaat makanya dia berani main tangan,”

Padahal, itu adalah red flags loh, sist. Main tangan bukan hal ‘sepele’, malah hal kecil yang bisa mengakibatkan hal besar lainnya.

Kekerasan dalam hubungan atau abusive relationship merupakan hubungan yang dijalani dengan ketakutan dan rasa tidak aman. Pelaku kekerasan biasanya memiliki rasa sosial yang kurang baik Sehingga untuk mendapatkan nilai itu, ia mendominasi dan mengontrol pasangannya. Yang menjadi pangkal masalah di sini adalah kekhawatiran. Pelaku tidak mau terlihat lemah atau takut, sehingga memilih untuk mempetahankan rasa kontrol. Dengan memiliki rasa kontrol, pelaku memiliki nilai yang sebelumnya hilang itu.

Korban yang Kena, Korban Pula yang Salah

‘Sudah jatuh, tertimpa tangga’ bisa menjadi istilah bagi para korban yang berani berbicara. Suatu waktu, saya pernah membaca thread di Twitter perihal seorang perempuan yang mendapatkan pelecehan seksual. Lalu, saya kaget waktu membuka isi balasan dari tweet tersebut. Meski ucapan berbelas kasihan dan semangat bermunculan, tetapi komentar negatif tetap tak bisa dihilangkan. Masih banyak masyarakat yang melontarkan cibiran, “Salah kamu sih, pakai baju seksi,“Salah kamu sih, keluar malam sendiri.” dan komentar-komentar pedas lainnya yang menunjukkan kalau korban yang salah! Kebayang enggak, bagaimana mental si korban, sudah menjadi korban malah disalahkan.

Jadi, enggak heran juga sih, kenapa lebih banyak yang memilih untuk diam daripada melapor. Wong mulut netizen susah buat disumpel. Bukannya memberi dukungan, malah ramai-ramai menghujat. Duh, mental semakin turun, dong!

Maraknya kekerasan kepada perempuan ini juga bukankah menjadi sebuah tanda bahwa kurangnya perhatian penegak hukum pada satu masalah serius tetapi kerap kali dianggap hal kecil? Tak jarang, korban kekerasan merasa ‘malas’ untuk melaporkan kejahatan yang mereka alami karena akan dianggap lebay, bahkan yang paling bahaya adalah sebagai aib. 

Stigma “sama-sama mau” atau “sama-sama menikmati” kerap kali terlontarkan kepada mereka yang menjadi korban. Dianggap lemah karena tidak bisa melawan, padahal siapa yang bisa menggertak ketika sedang ketakutan? Para korban juga enggan melaporkan kasusnya karena kerap tidak mendapatkan keadilan. Kepercayaan para korban terhadap penegak hukum telah hilang.

Tak jarang, ketika mereka melapor untuk mendapatkan kekerasan, mereka malah diminta mediasi dan rujuk daripada diusut sampai tuntas. Inilah pentingnya perempuan bisa melek hukum, agar ketika mendapat ketidakadilan. Perempuan bisa tetap menuntut dan memperjuangkan haknya. Jangan tinggal diam dan pasrah saja.

Rasanya, di dunia ini tidak ada tempat yang aman bagi perempuan, bahkan di rumahnya sekali pun. Kejahatan selalu bisa dilakukan bila si pelaku merasa memiliki kesempatan. Kalau tidak ada yang bisa kita andalkan agar selalu merasa ‘aman’ di manapun, yang bisa kita andalkan pada akhirnya adalah diri kita sendiri. Selalu jaga diri sendiri ya, sist. Kita tidak tahu, siapa dan kapan kejahatan terjadi!


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment